Generasi Z atau kerap disebut Gen Z sudah mulai mencari rumah pertama untuk tempat tinggal. Namun, pengembang menyebut ada satu kendala yang membuat Gen Z bimbang beli rumah, yakni lokasi perumahan tersebut.
Direktur Utama Pesona Kahuripan Angga Budi Kusuma mengatakan banyak Gen Z yang 'mager' alias malas gerak. Alasan ini membuat para Gen Z lebih memilih tinggal di sekitar tempat kerja ketimbang harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke kantor.
"Gen Z itu mager alias malas bergerak, maunya tinggal yang dekat tempat kerja. Jadi, pengembang harus mendekatkan perumahan ke area pembeli karena banyak pembeli rumah maunya tinggal yang dekat tempat kerja," kata Angga di acara Anugerah Forwapera 2026 di The Hub Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angga mencontohkan seorang Gen Z yang ingin membeli rumah untuk pertama kali. Apabila perumahan dibangun di sekitar kota, tentu pembeli akan senang karena banyak pilihan transportasi umum serta jarak tempuh yang terbilang dekat.
Namun, lain halnya jika perumahan dibangun agak jauh dari pusat kota atau tempat kerjanya. Angga menilai jumlah pembeli rumah tidak akan banyak karena rata-rata Gen Z enggan tinggal terlalu jauh dari kantor.
Tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, Angga menyebut lokasi perumahan juga harus disesuaikan di kota-kota kecil yang konsumennya bekerja di lahan pertanian. Jika lokasi sebuah perumahan jaraknya terlalu jauh dari tempat kerja para Gen Z, maka mereka tidak akan tertarik untuk membelinya.
"Misalkan area perumahan ada di ring 1 dan ring 2, nah untuk penataannya mungkin 70 persen itu perumahan dan 30 persennya lahan pertanian karena pembeli rumah itu (Gen Z) kan nggak mau jauh dari tempat kerjanya. Kalau misalkan lahan pertanian itu semua di ring 1 lalu perumahan dibangun di ring 5, nggak ada konsumen yang mau beli karena jauh dari tempat kerja," jelas Angga.
Selain itu, Angga menyebut lokasi perumahan seharusnya dibangun di dekat area ramai, seperti di dekat pasar. Menurutnya, lokasi itu sangat strategis bagi pengembang untuk membangun perumahan.
"Kebutuhan perumahan itu tentunya harus berada di dekat area ramai, dekat area pasar-pasar karena saya menilai lokasi tersebut strategis," ungkapnya.
Dengan membangun perumahan di lokasi strategis tidak hanya menarik lebih banyak konsumen, tapi juga turut membantu menumbuhkan perekonomian masyarakat di lokasi tersebut.
"Apabila lokasi (perumahan) berada di lingkungan calon pembeli, itu baru lokasi yang saya nilai strategis. Jadi saya mau berbisnis perumahan di situ," imbuh Angga.
(ilf/zlf)










































