Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan realisasi KPR subsidi terbanyak berasal dari nasabah Gen Z sekitar 64,09 persen. Sementara itu, 35,91 persen sisanya berasal dari kalangan milenial.
Hal ini ia ungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, pada Senin (26/1/2026).
Meskipun KPR subsidi ramai peminat dari Gen Z, kata Nixon, secara umum pengambil KPR terbesar di BTN adalah kalangan milenial. Persentasenya mencapai 85 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian, kita memang sengaja mengejar milenial karena milenialah tulang punggung pertumbuhan perumahan di Indonesia, 85 persen pembelinya sekarang yang first home buyer adalah para milenial," kata Nixon seperti yang dikutip detikcom pada Selasa (27/1/2026).
"Jadi memang secara clear, kita mengembangkan transaksi di digitalnya sangat terkait dengan kelompok milenial karena memang customer terbesar kami mereka hari ini. Beli rumah pakai KPR itu para milenial," lanjutnya.
Kemudian, BTN juga menyampaikan bahwa ada peningkatan jumlah nasabah perempuan yang mengambil KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 36,5 persen. Terbanyak tetap laki-laki sekitar 63,5 persen.
"Kalau laki-laki yang bayar angsuran, cewe yang teken (kontrak pembelian rumah atau PPJB)," ujarnya.
Lalu, penyaluran KPR subsidi kepada sektor informal juga meningkat pada 2025 mencapai 15,3 persen. Ada pun sektor informal merupakan golongan masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap dan slip gaji. Umumnya sektor ini sulit untuk mengajukan KPR karena masalah penghasilan tersebut. Namun, saat ini golongan tersebut sudah mendapat perhatian pada beberapa bank.
Meskipun sektor informal meningkat, peminjam dari sektor formal juga tetap tinggi, yakni mencapai 84,7 persen.
"Yang paling menarik adalah sektor informalnya selama ini hanya 8 persen, sekarang sudah double digit 15,3 persen. Jadi penetration rate di informal, wiraswasta atau UMKM akan terus didorong untuk jadi lebih baik," sebutnya.
Akumulasi KPR BTN dalam periode 1976-2025 sudah menyalurkan Rp 510 triliun KPR dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 5,9 juta debitur.
"Penyebarannya majority (mayoritas) masih di Pulau Jawa dan memang backlog kepemilikan rumah tertinggi ada di Pulau Jawa," terangnya.
(aqi/zlf)











































