Sektor hotel sempat terpuruk karena adanya efisiensi anggaran pemerintah yang membatasi perjalanan dinas dan penyelenggaraan acara resmi. Hal ini sangat berdampak pada tingkat keterisian atau okupansi kamar hotel.
Berdasarkan data Colliers Indonesia, sektor hotel di Jakarta dan Surabaya belum pulih sepenuhnya hingga akhir 2025. Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto faktor utamanya karena efisiensi anggaran pemerintah. Penurunan yang terjadi sekitar 5-10 persen.
"Kalau kita bicara pasar hotel, memang jujur saja tahun 2025 itu bukan tahun yang mudah buat hotel. Karena terjadi penurunan aktivitas pemerintah terutama dari pasar MICE itu cukup berasa," kata Ferry dalam acara Colliers Indonesia Virtual Media Briefing Q4 2025 secara daring pada Rabu (7/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferry mengatakan meskipun hotel di Jakarta menerima pemasukan dari pasar korporasi dan swasta, tetapi itu tidak menutup kekosongan dari acara pemerintahan.
Untuk tetap hidup, beberapa hotel di Jakarta memilih untuk berfokus memberikan layanan berupa experience atau pengalaman baru kepada tamu. Setiap tamu yang datang bukan hanya menginap di hotel tersebut, melainkan bisa melakukan banyak hal yang mungkin sebelumnya jarang atau bahkan tidak pernah merasakan.
"Jadi strateginya pun berubah, hotel tidak lagi mengejar volume tapi kualitas pengalaman. Mulai dari personalisasi layanan, kemudian ada konsep wellness yang sekarang ini udah mulai populer. Sampai pemanfaatan teknologi dan AI yang mempengaruhi cara hotel ditemukan dan dinilai tamu," ungkap Ferry.
Selain itu, kedatangan tamu dari negara asing juga membantu meramaikan sektor ini. Wisatawan asing yang datang didominasi dari China dan Malaysia. Tujuan mereka memakai akomodasi penginapan di Jakarta karena konser musik, wisata, hingga belanja.
Di tengah tingkat okupansi yang rendah, beberapa hotel diketahui bisa menaikkan tarif kamar, meskipun tipis. Namun, memang ini hanya pada saat-saat tertentu dan tidak terjadi pada semua hotel di Jakarta.
Proyek hotel baru di Jakarta juga tetap tumbuh di 2025. Didominasi hotel bintang 3 dan bintang 5 yang mayoritas berlokasi di CBD dan sekitarnya. Selain itu, ada 4 hotel melakukan rebranded.
"Ini menunjukkan memang Jakarta masih dipandang sebagai kota bisnis global," ujar Ferry.
Sektor Hotel di Surabaya
Tidak jauh berbeda dengan Jakarta, nasib sektor perhotelan di Surabaya juga belum pulih sepenuhnya sejak efisiensi yang terjadi pada paruh pertama 2025.
"Hotel Surabaya masih challenging sebenarnya. Jadi, masih sama tertekan karena kebijakan penghematan anggaran dari pemerintah. Jadi kita lihat memang banyak event ditunda, skala MICE juga jadi mengecil, dan itu langsung terasa ke performa hotel khususnya di paruh pertama tahun," ungkap Ferry.
Berbeda dengan Jakarta yang berinovasi dengan layanan, beberapa hotel di Surabaya bekerjasama dengan Online Travel Agency (OTA). Tamu-tamu kebanyakan dibawa dari OTA tersebut. Cara ini dinilai lebih efisien karena harga yang ditawarkan lebih rendah dan skema pembayaran yang fleksibel.
Hotel di Surabaya juga tetap kedatangan dari wisatawan asing asal China, Malaysia, dan Singapura. Tujuannya untuk bisnis (investasi, MICE, industri), transit ke tempat wisata (Bromo dan Ijen), dan pendidikan (seminar, kerja sama antar perguruan tinggi), dan sebagai daerah transit.
Dari sisi pasokan ada 2 hotel bintang 4 yang baru masuk di 2025. Secara tidak langsung menegaskan bahwa hotel bintang 4 cukup dominan di sektor perhotelan Surabaya.
"Karena harganya pas dan untuk pasar domestik yang sensitif biaya, tetapi tetap punya standar yang dibutuhkan oleh tamu bisnis," jelasnya.
(aqi/das)










































