Hotel dianggap barang mewah untuk masyarakat kelas bawah di berbagai negara. Beruntungnya saat ini masih ada hotel yang bisa dijajal oleh masyarakat kelas bawah karena harganya super murah.
Tempat penginapan tersebut adalah Hotel Faridpur, hotel terapung di tepi Sungai Buriganga, Dhaka, Bangladesh.
Hotel ini sejak awal sudah menyasar pasar pengunjung kelas bawah. Dilansir Arab News, biaya sewanya bahkan lebih murah dari tarif terendah ojeg online di Jakarta, yakni sekitar 50 sen dollar Amerika atau saat ini sekitar Rp 8.381 (kurs Rp 16.762) per malamnya. Murah sekali kan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eits, sebelum benar-benar tergiur ketahui dulu wujud dari hotel ini. Mengingat konsep awalnya diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, hotel ini jauh dari kata mewah. Namun, tempat untuk tidur dan toilet tetap tersedia. Sayangnya tempatnya memang tidak begitu bersih.
Kamar-kamar tersebut berada di kapal kayu yang sudah tidak beroperasi. Kapal tersebut sudah diikat dan bersandar di pinggiran. Terdapat papan kecil dan panjang yang menghubungkan daratan dengan mulut kapal. Terdapat 3 kapal yang dijadikan tempat penginapan, di mana masing-masingnya terdiri dari 2 lantai.
Setiap hotel terapung dapat menampung sekitar 60 orang di 15 kamar dan hanya dua kamar mandi bersama. Uniknya di kapal tersebut ada beberapa tipe kamar. Kamar tipe paling bawah adalah yang harganya murah tadi, 50 sen dollar. Lalu ada pula kamar privat dengan tempat tidur ganda seluas sekitar 4 meter persegi yang ditawarkan seharga hampir US$ 2 atau setara Rp 33 ribuan per malam. Masih murah kan?
Kondisi kamarnya jangan harap terdapat ranjang empuk di dalamnya. Di sana kasurnya menempel pada lantai kapal. Tersedia bantal, selimut, dan kipas angin agar tamu tidak kepanasan.
Kamar mandi bersama merupakan bilik sederhana yang pembuangannya langsung ke sungai di bawahnya. Kloset yang tersedia hanya kloset jongkok.
Siapa Pemilik Hotel Terapung Ini?
Pemilik Hotel Faridpur adalah Mohammed Mostofa Mia. Ia menyebut hotel yang saat ini masih beroperasi dan ramai dikunjungi wisatawan mancanegara merupakan salah satu dari empat penginapan terapung yang tersisa.
Awal mula bisnis ini muncul ketika komunikasi jalan raya di negara itu terbatas dan sungai merupakan rute utama menuju Dhaka.
"Hotel terapung ini mulai menyediakan layanan bagi para pedagang yang melakukan perjalanan ke Dhaka dari berbagai bagian negara," katanya, seperti dikutip pada Selasa (6/1/2026).
"Kami beroperasi seperti hotel biasa lainnya. Tamu perlu menunjukkan salinan kartu identitas nasional mereka saat check-in."
Pada awalnya pihaknya hanya menyediakan tempat saja, pengunjung harus sudah memiliki bantal dan selimut sendiri. Namun, saat ini setiap kamar sudah memiliki perlengkapan tidur masing-masing.
Penginapan terapung seperti ini dahulunya merupakan hal lumrah untuk menyediakan pilihan akomodasi murah selama beberapa dekade. Kemunculannya sudah ada sejak paruh pertama abad ke-20, di bawah pemerintahan kolonial Inggris. Pada saat itu, pedagang miskin dari daerah pedesaan terpencil yang datang ke Dhaka untuk mencari pekerjaan membutuhkan akomodasi tempat beristirahat. Oleh sebab itu, muncullah konsep penginapan yang dibangun di kapal-kapal bertingkat dua yang ditambatkan di sepanjang tepian sungai.
(aqi/zlf)











































