Pada awal 2023, pencarian dan permintaan properti berupa hunian tapak di Jabodetabek, khususnya Kabupaten Tangerang, masih menunjukkan kenaikan yang positif. Menurut Indonesia Property Market Report, permintaan terhadap hunian pada kuartal keempat 2022 masih didominasi oleh permintaan rumah tapak, yakni sebesar 92% dari total pencarian produk properti.
Hal itu rupanya berdampak langsung pada penjualan meterial dan beragam produk dekoratif seperti lantai keramik. Itu setidaknya tercermin dari emiten produsen keramik PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) yang mencatatkan peningkatan laporan keuangannya pada kuartal III dengan posisi bottom line yang sangat baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Perseroan telah menyampaikan laporan Q3-23 dengan membukukan laporan Q3-23 pada posisi positif, net profit sebelum pajak naik sebesar Rp 1,31 miliar dibanding Q3-22 sebesar Rp 1,59 miliar.
Pendapatan terkonsolidasi IKAI Q3-23 mencapai Rp 164,51 miliar, dengan Laba usaha Q3-23 tercatat sebesar Rp 1,75 miliar.
Perseroan mengadopsi model revenue bisnis yang saling topang. Sebagai induk perusahaan (holding company) dari PT Internusa Keramik Alamasri INKA), PT Hotel Properti Internasional (HPI) dan PT Saka Mitra Sejati (SMS), strategi bisnis sinergi dan saling topang menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan pertumbuhan keuangan hingga dapat meraup keuntungan usaha.
Pendapatan aktif Perseroan dari setiap bisnisnya yaitu pendapatan dari penjualan homogenous tile, pendapatan dari bisnis hotel dan pengembangan properti.
Pertumbuhan bisnis secara signifikan terasa pada kinerja anak usaha segmen Hotel, kinerja segmen Hotel meningkat sebesar 118% dari tahun sebelumnya sebesar 36,46 miliar di Q3-22.
Namun walaupun pertumbuhan signifikan terjadi pada segmen Hotel, pada sisi kontribusi pendapatan Perseroan, Segmen Keramik tetap lebih dominan yakni sebesar 57,13% dari total pendapatan IKAI dan sisanya dari pendapatan anak usaha Hotel.
Bersambung ke halaman selanjutnya.
(dna/dna)