Kondisi industri keramik di Indonesia menunjukkan tren positif meski industri global tengah mengalami perlambatan. Ini terjadi karena beberapa hal.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto, saat ini produksi keramik dunia turun dari 15,9 miliar meter persegi menjadi 11 miliar meter persegi atau sekitar 30 persen. Sementara utilisasi keramik dalam negeri justru terus meningkat.
Utilisasi keramik Indonesia pada 2024 sekitar 66 persen, lalu di 2025 naik menjadi 73 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun ini, proyeksinya ASAKI minimal dari 73 persen naik ke 75 persen. Kita on the right track," ujarnya di IndoBuildTech Expo 2026 di ICE BSD City, Banten, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa industri keramik dalam negeri tidak hanya bertahan di tengah mahalnya harga gas serta daya beli masyarakat yang melemah, melainkan bertumbuh.
Terpisah, menurut CEO Platinum Ceramics Group, Liem May Tjoe, ada beberapa faktor yang bisa membuat industri keramik Indonesia meningkat, salah satunya kebijakan pemerintah berupa antidumping.
"Pemerintah kan ada kasih anti-dumping. Kemudian juga peraturan regulasi SNI juga sangat men-support kita sehingga produk-produk impor itu nggak banyak masuk. Dan produk-produk lokal yang berkembang. Ya ini yang kita harapin pemerintah terus mempertahankan ini," tuturnya.
Adanya kebijakan antidumping menghambat masuknya produk impor, terutama dari China dan India. Ini membuat produk lokal bisa menjadi lebih berkembang lagi.
"Ke depan, kelihatannya kalau pemerintah terus men-support kita, harusnya industri keramik ini bisa terus berkembang," ujarnya.
Meski demikian, May menilai masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi seperti tingginya biaya energi dan distribusi.
"Terus pengiriman ekspedisi yang agak mulai susah. Itu sedikit menghambat kita," ungkapnya.
(abr/das)










































