Sungai Mahakam membentang sekitar 920 kilometer, mengalir melintasi bagian hulu sekitar Pegunungan Muller di Kutai Barat, hingga Kota Samarinda, dan bermuara di Selat Makassar. Sungai Mahakam memegang peranan penting dalam berbagai aktivitas masyarakat.
Sejak dahulu, sungai ini dimanfaatkan sebagai jalur transportasi, sumber air, hingga mendukung kegiatan perikanan dan distribusi berbagai komoditas. Sungai Mahakam juga menjadi habitat bagi pesut Mahakam, salah satu mamalia air tawar ikon Borneo, yang kini keberadaannya terancam punah.
Mengenal Sungai Mahakam
Mahakam merupakan sungai terbesar di Provinsi Kalimantan Timur dengan panjang sekitar 920 kilometer. Sungai ini juga menjadi salah satu yang terpanjang di Indonesia.
Dalam laman Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dijelaskan sungai ini sudah menjadi jalur strategis sejak abad ke-4 Masehi, tepatnya era Kerajaan Kutai di Muara Kaman. Sungai Mahakam telah menjadi jalur strategis transportasi dan perdagangan.
Kala itu, selain warga lokal, para pelaut China dan India bahkan sudah menggunakan jalur sungai ini untuk berdagang. Hal itu dibuktikan dengan penemuan sejumlah arkeologi, seperti Prasasti Yupa yang menjadi penanda keberadaan Kerajaan Hindu pertama di Indonesia dan keramik asal Tiongkok di Kutai Lama.
Hingga saat ini, sungai Mahakam masih menjadi jalur transportasi andalan Benua Etam. Air sungainya nyaris selalu berwarna cokelat. Warna ini berasal dari kandungan tanah gambut dan lumpur halus yang terbawa dari hulu. Meski tidak jernih, air ini tetap mendukung kehidupan ekosistem sungai dan menjadi sumber utama bagi berbagai aktivitas warga.
Disadur dari laman Kementerian Pariwisata, disebut Sungai Mahakam bukan sekadar jalur air, tapi juga jalur ekonomi. Di kawasan perkotaan, Sungai Mahakam membelah Kota Samarinda menjadi dua bagian besar dan memiliki peran penting dalam sejarah serta kehidupan masyarakat.
Batubara, hasil hutan, dan komoditas lain diangkut melalui sungai ini. Di sekitarnya tumbuh pelabuhan, kawasan industri, serta pasar tradisional yang mengandalkan sungai.
Pemerintah Kota Samarinda mencatat terdapat 27 sungai alam yang mengalir di wilayah kota. Sungai Karang Asam berperan dalam sistem drainase wilayah barat, sedangkan Sungai Kapih menjadi penghubung wilayah Sambutan. Sementara itu, Sungai Loa Janan memberikan akses menuju Kecamatan Loa Janan Ilir.
Di sepanjang Mahakam, budaya tumbuh subur. Suku Kutai dan Dayak yang bermukim di tepian sungai masih menjaga adat dan tradisi leluhur. Mulai dari rumah adat lamin hingga upacara adat, semuanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Kalimantan.
Salah satu peran utama Sungai Mahakam adalah sebagai jalur transportasi dan logistik. Aktivitas pelayaran tongkang pengangkut batu bara berlangsung dari wilayah hulu, seperti Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, menuju Selat Makassar.
Selain itu, sungai ini juga dilalui kapal penumpang dan kapal kargo yang menghubungkan wilayah antarpulau maupun kawasan hulu. Speedboat reguler juga menjadi salah satu sarana transportasi menuju Tenggarong dan daerah-daerah di bagian hulu.
Tidak hanya menjadi jalur transportasi, Sungai Mahakam juga menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat. Perairannya dimanfaatkan untuk menangkap berbagai jenis ikan air tawar, seperti patin dan haruan atau ikan gabus, serta udang sungai.
Pesut Mahakam yang merupakan satwa dilindungi juga hidup di kawasan sungai ini. Aktivitas perairan tersebut turut menopang mata pencaharian ribuan nelayan kecil dan pedagang yang menjalankan usaha di rumah-rumah rakit. Selain itu, Sungai Mahakam juga dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk PDAM Kota Samarinda.
(aau/aau)