Sungai Mahakam Surut, Pesut Terancam Terjebak

Sungai Mahakam Surut, Pesut Terancam Terjebak

Riani Rahayu - detikKalimantan
Kamis, 20 Agu 2026 22:01 WIB
Pesut mahakam yang terlihat di Desa Pela, Kab. Kutai Kartanegara
Pesut Mahakam yang terlihat di Desa Pela, Kutai Kartanegara/Foto: Istimewa (dok Yayasan Konservasi RASI)
Samarinda -

Kondisi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Kaltim) yang menyusut saat kemarau menjadi ancaman tersendiri bagi keberlangsungan Pesut Mahakam. Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) khawatir pesut yang bergerak mengikuti jalur air justru terjebak ketika bagian sungai yang dilaluinya mengering atau terputus.

Pimpinan Program Ilmiah Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb mengatakan kondisi kemarau membuat debit air Mahakam menjadi lebih kecil. Dalam kondisi tersebut, pesut biasanya bergerak semakin ke hulu untuk mencari perairan yang masih memiliki debit air dan sumber pakan.

"Jadi semakin jauh itu pesut juga bisa mudik dan ikut migrasi. Kami khawatir kalau pesut itu bisa mungkin terjebak di air yang misalnya dia lewat satu bagian sungai yang masih ada air kemudian dia pulang ternyata sudah putus atau apa," ujar Danielle kepada detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Danielle, kondisi tersebut membuat masyarakat perlu berperan sebagai sistem peringatan dini. Warga yang melihat pesut kesulitan bergerak ke arah hulu maupun hilir diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada pihak yang dapat melakukan penanganan.

"Nah, itu kita memang perlu early warning system dari masyarakat agar kalau melihat pesut atau bahkan dia sadar bahwa pesut itu enggak bisa lebih ke hulu atau lebih ke hilir, mohon hubungi ke RASI atau memang ke Balai Pengelolaan Kelautan (BPK), DKP, atau otoritas setempat di kampung," tutur dia.

Danielle mengatakan laporan cepat diperlukan agar tim dapat menentukan langkah penyelamatan. Jika pesut benar-benar terjebak di bagian sungai tertentu, upaya penyelamatan atau relokasi dapat segera dilakukan.

Ia juga menjelaskan penyusutan Mahakam membuat pesut cenderung bergerak semakin jauh ke hulu. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat pesut masuk ke wilayah yang terkena air asin karena habitat utama Pesut Mahakam berada jauh dari muara.

"Kalau paling jauh biasanya ya Samarinda lah yang air asin bisa agak masuk. Jadi lebih jauh enggak juga dan biasanya kalau air kecil atau kemarau biasanya pesut juga semakin ke hulu," jelasnya.

Danielle menyebut distribusi Pesut Mahakam berada mulai sekitar 180 kilometer dari muara sungai. Sementara Samarinda masih berjarak sekitar 60 kilometer dari muara, sehingga pergerakan pesut ke hulu saat kemarau tidak berarti mereka akan berhadapan dengan masuknya air laut.

"Jadi sekarang di habitat Muara Kaman (Kukar) sudah enggak ada, sekarang dia sudah lebih ke hulu juga. Jadi kemungkinan enggak akan ketemu sama air garam," terangnya.

Selain risiko terjebak, penyusutan sungai juga membuat jalur pergerakan pesut semakin sempit. Karena itu, RASI meminta kapal-kapal besar sementara menghindari jalur yang dangkal untuk mengurangi risiko tabrakan dengan pesut.

"Untuk kapal besar, untuk sementara tidak melintas karena ini jalur kan sempit jadi bisa terjadi collision atau tabrakan dengan pesut," kata Danielle.

Di sisi lain, RASI memperkirakan populasi Pesut Mahakam saat ini tersisa sekitar 65 ekor. Jumlah tersebut turun setelah satu pesut ditemukan mati pada Mei 2026 dari estimasi awal tahun sebanyak 66 ekor.

"Kami perkirakan 65 ekor. Kan berdasarkan di awal tahun ada 66 ekor dari estimasi paling tepat. Kemudian ada satu ekor mati di bulan Mei sehingga sekarang kami perkirakan 65 ekor," pungkas Danielle.



(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads