Pesut Mahakam menjadi salah satu satwa paling ikonik yang dimiliki Pulau Kalimantan. Mamalia air tawar yang dikenal dengan wajahnya yang menggemaskan ini, diketahui hidup di perairan Sungai Mahakam.
Keberadaannya tidak hanya menarik perhatian para peneliti, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan. Namun sayang, Pesut Mahakam menghadapi berbagai ancaman yang membuat populasinya terus menurun dari tahun ke tahun.
Kerusakan habitat, aktivitas penangkapan ikan, hingga lalu lintas kapal menjadi tantangan besar bagi kelangsungan hidup mamalia langka ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Pesut Mahakam
Foto: Pesut Mahakam. (Dok Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin) |
Dirangkum dari laman Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah dan Pemerintah Kota Samarinda, pesut mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan mamalia air tawar atau lumba-lumba air tawar. Di kalangan peneliti internasional, spesies ini lebih dikenal dengan nama Irrawaddy Dolphin.
Hewan ini dijuluki 'orca kecil bermoncong pendek'. Ciri khas pesut ini adalah bentuk kepalanya yang bulat dan moncong tumpul, berbeda dengan lumba-lumba laut pada umumnya.
Pesut Mahakam tergolong dalam famili Delphinidae, yaitu keluarga lumba-lumba laut. Artinya, secara evolusi mereka masih satu keluarga dengan lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) atau paus pembunuh (Orcinus orca), meskipun penampilannya jauh berbeda. Dalam klasifikasi ilmiah, susunannya adalah:
Morfologi pesut mahakam dengan sirip punggung yang tampak. Foto: dok Marine Mammal Research and Conservation. |
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Cetacea
Suborder: Odontoceti (paus bergigi)
Family: Delphinidae
Genus: Orcaella
Species: Orcaella brevirostris
Nama brevirostris sendiri berarti 'bermoncong pendek' dan 'Orcaella' merujuk pada bentuk tubuhnya yang mirip orca (paus pembunuh), namun dalam versi yang mungil.
Secara fisik, Pesut Mahakam memiliki kepala bulat dengan mata berukuran kecil, yang diduga merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi perairan yang keruh dan berlumpur. Dahinya tampak tinggi dan membulat tanpa moncong yang menonjol seperti lumba-lumba pada umumnya.
Dikutip dari tulisan berjudul 'Kemunculan dan Tingkah Laku Pesut sebagai Mamalia Terancam Langka' karya Regi Fuji dan Dharmadi, warna tubuhnya bervariasi dari abu-abu hingga abu-abu gelap, dengan bagian bawah tubuh yang lebih terang tanpa corak khusus.
Bentuk tubuhnya gempal dengan sirip punggung berukuran kecil dan terletak di bagian belakang tengah tubuh. Sirip dadanya berbentuk lebar dengan ujung membulat. Makanan pesut diketahui adalah ikan-ikan kecil di sungai.
Wajahnya ramah, punya senyum yang khas karena bentuk mulut yang sedikit melengkung ke atas. Rata-rata panjang pesut dewasa 2-2,75 meter dengan bobot 90-130 kg.
Perilaku Pesut Mahakam
Pesut Mahakam. (Laman Kementerian Kelautan dan Perikanan) |
Sebagaimana jenis lumba-lumba pada umumnya, pesut Mahakam kerap menyemburkan air melalui lubang udaranya. Spyhopping, begitu istilahnya, ketika mereka muncul ke permukaan dengan kepala mencuat keluar air seolah-olah mengamati lingkungan sekitar.
Kawanan pesut dikenal suka menyemprotkan air dari mulut saat berburu ikan. Cara ini diduga membantu mereka mengejutkan mangsa atau berkomunikasi dengan sesama anggota kelompok.
Keberadaan pesut mahakam juga ternyata membantu nelayan. Mengutip laman Forestation FKT Universitas Gajah Mada, keberadaan pesut mahakam bisa menunjukkan lokasi yang bagus serta waktu yang tepat untuk mencari ikan.
Sebab, pesut mahakam juga mengincar buruan nelayan, yakni ikan-ikan yang lebih kecil. Kalau pesut mahakam sudah muncul, artinya ikan sedang banyak.
Pesut mahakam juga bisa memberikan petunjuk tentang kedalaman sungai. Pesut mahakam cenderung mendiami titik perairan yang cukup dalam, sehingga pesut lebih suka berada di tengah sungai alih-alih di pinggiran. Namun, jika di perairan itu tidak ditemukan adanya pesut, berarti kemungkinan dasar sungai mulai mengalami pendangkalan.
Pesut mahakam yang terlihat di Desa Pela, Kab. Kutai Kartanegara Foto: Istimewa (dok Yayasan Konservasi RASI) |
Saat berenang, pesut Mahakam lebih sering memperlihatkan bagian punggung dan ekor. Gerakan lain yang khas adalah memutar tubuh dan melambaikan sirip, sebagai tanda bahwa pesut sedang merasa senang atau bersiap kawin.
Dalam kehidupan sehari-hari, Pesut Mahakam hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Pesut mahakam dikenal sebagai makhluk sosial yang hidup dalam kelompok kecil, biasanya 2 hingga 6 ekor. Namun terkadang, terutama saat mencari makan, mereka bisa berkumpul dalam kelompok lebih besar.
Mereka berkomunikasi dan mendeteksi suasana sekitar menggunakan gelombang suara ultrasonik. Meski memiliki kemampuan penglihatan yang terbatas dan hidup di perairan yang keruh, satwa ini sangat piawai menghindari rintangan di sekitarnya.
Para peneliti menduga kemampuan tersebut diperoleh melalui sistem ekolokasi, yaitu memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi objek di lingkungan, sebagaimana dilakukan oleh lumba-lumba laut.
Mengutip laman resmi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, pesut Mahakam merupakan satu-satunya lumba-lumba air tawar yang dimiliki Indonesia. Habitatnya ditemukan di wilayah perairan Sungai Mahakam.
Untuk diketahui, di negara lain juga ada beberapa jenis pesut lainnya, seperti Orcaella fluminalister yang ada di perairan Burma dan Orcaella heinsohni yang ada di perairan Australia dan Papua Nugini.
Pesut Mahakam Penghuni Sungai Kalimantan
Pesut Mahakam. Foto: Pesut Mahakam. (Dok Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin) |
Berbeda dengan lumba-lumba maupun paus yang umumnya hidup di laut, Pesut Mahakam menghuni perairan sungai di kawasan tropis. Populasinya menjadi unik karena hidup permanen di air tawar dan tidak bermigrasi ke laut.
Mereka adalah satwa endemik freshwater, sulit ditemukan di tempat lain. Satwa ini banyak menghuni perairan Sungai Mahakam di Kalimantan, serta sebagian sungai di Kalimantan Timur dan Tengah.
Selain itu, habitat utama satwa yang dilindungi oleh undang-undang ini diketahui ada di tiga sungai besar Asia Tenggara, yaitu Sungai Mahakam di Indonesia, Sungai Mekong, dan Sungai Irrawaddy.
Pesut mahakam tak hanya jadi penyeimbang ekosistem sungai di Kalimantan, tapi juga dikenal dengan legendanya. Ada beberapa versi legenda kepercayaan warga lokal tentang asal-usul hewan pesut.
Dalam arsip liputan detikcom, menurut cerita tokoh masyarakat Tidung di Kecamatan Sesayap, H Mustofa, lamud atau pesut adalah manusia yang menjadi ikan. Ia adalah seseorang yang diperintahkan oleh rajanya menyelami sungai untuk mencari cincin kesayangannya yang jatuh ke dalam sungai.
Berdasarkan cerita tersebut, Lamud/pesut ini dikeramatkan masyarakat Tidung yang hidup turun temurun di pinggir sungai Sesayap. Hal inilah yang secara otomatis membentuk suatu kearifan lokal di kehidupan masyarakat untuk melestarikan pesut dan membiarkannya
hidup berdampingan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) yang saat itu dijabat Sunandar Trigunajasa, menjelaskan pesut Mahakam punya kaitan dengan masyarakat Kutai.
Mamalia ini masuk ke cerita rakyat Kutai dan dianggap keramat. Dalam folklor masyarakat Kutai, pesut merupakan jelmaan dari dua saudara. Atas kedekatan tersebut, masyarakat Kutai pun menjaga pesut.
"Masyarakat Kutai percaya dengan kisah dulu, memang mamalia ini dianggap keramat. Jadi warga di Hulu Sungai Mahakam juga menjaga mereka," ucapnya beberapa tahun lalu.
Populasi Pesut Mahakam Terancam
Dua ekor Pesut berhasil terpantau saat sedang berenang di Sungai Mahakam, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno/jhw/foc/17. Foto: ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno |
Di Indonesia, pesut sebenarnya pernah ditemukan di sejumlah muara sungai di Pulau Kalimantan. Akan tetapi, populasinya kini semakin langka.
Dalam catatan Kementerian Lingkungan Hidup tahun lalu, jumlah satwa asli Kalimantan itu hanya tinggal 62 ekor. Jumlah pesut Mahakam berkurang drastis karena tidak adanya daya dukung yang baik di habitatnya.
Diketahui sebelumnya bahwa dalam rentang waktu 1995-2018, rata-rata ada empat individu pesut Mahakam mati per tahun.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) saat itu, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut kondisi ini menandakan Sungai Mahakam kini mengalami krisis ekologi. Padahal sub-spesies lumba-lumba ini hanya hidup di Sungai Mahakam.
Dalam studi peneliti Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb menyebut kematian Pesut 66% disebabkan oleh rengge, yakni alat tangkap tradisional nelayan lokal. Sehingga, dia pun mengusulkan agar Pemda perlu membuat program penggunaan rengge yang lebih kecil agar pesut tidak terjebak, sehingga nelayan bisa tetap melaut dan populasi Pesut tetap terjaga.
Namun, ancaman terbesar datang dari aktivitas industri. Sejak 20 tahun silam, perusahaan kayu dan batu bara beroperasi di Teluk Balikpapan.
Tumpahan minyak, lalu lintas kapal ponton batu bara, tanker minyak semakin sering hilir mudik mengancam pesut. Sebagai hewan yang menggunakan sonar untuk hidup, polusi suara mengganggu sistem navigasi hewan ini. Tak jarang kematian Pesut juga disebabkan tertabrak kapal.
Di sisi hulu, hutan gundul akibat deforestasi dan penebangan liar membuat aliran sungai semakin deras dan keruh. Sedimentasi yang terus meningkat merusak ekosistem alami, mengurangi populasi ikan yang menjadi sumber makanan pesut.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya serta PP Nomor 7 Tahun 1999, pesut Mahakam merupakan jenis satwa dilindungi. Aturan perlindungan terhadap hewan ini juga datang dari Badan Konservasi Internasional IUCN (International United of Conservation Nature and Natural Resources).
IUCN telah menetapkan pesut Mahakam masuk kategori satwa kritis dan terancam punah (critically endangered species). Padahal, pesut Mahakam bukan hanya kebanggaan Kalimantan, tetapi juga bagian penting dari keseimbangan ekosistem sungai.






