Garam umumnya diproduksi di daerah pinggir pantai. Di Indonesia sendiri, Pulau Jawa dan Nusa Tenggara adalah daerah yang terkenal sebagai pusat produksi garam terbesar karena lautnya memiliki tingkat salinitas yang tinggi.
Selain itu, tau kah detikers jika di Kalimantan ada satu wilayah yang juga memproduksi garam, daerah tersebut bahkan berada di pegunungan! Di daratan tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masyarakatnya mengolah garam dari air asin yang muncul di kawasan pegunungan.
Produk khas ini dikenal sebagai garam gunung Krayan atau dalam bahasa Dayak Lundayeh dikenal sebagai tusu' atau tusu' abuh. Berbeda dengan garam laut, garam ini dibuat masyarakat Krayan dari air sumur garam alami yang dipercaya berasal dari lapisan air laut purba yang terjebak di bawah permukaan bumi akibat proses geologi jutaan tahun lalu.
Berasal dari Mata Air Asin
Krayan merupakan kawasan dataran tinggi yang berada sekitar 900-1.400 meter di atas permukaan laut. Meski jauh dari laut, daerah ini memiliki puluhan mata air asin alami yang menjadi sumber utama pembuatan garam.
Menurut Slow Food Foundation, setidaknya ada sekitar 33 sumber mata air garam di kawasan Krayan, meski tidak semuanya masih aktif dimanfaatkan masyarakat. Air asin tersebut mengalir dari lapisan batuan bawah tanah yang terbentuk ketika kawasan Krayan masih berada di dasar laut jutaan tahun silam sebelum terangkat akibat aktivitas tektonik.
Desa Long Midang dan Teknik Membuat Garam Krayan
Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Dayak Lundayeh telah memanfaatkan mata air asin tersebut sebagai sumber garam. Pengetahuan mengenai lokasi sumur, teknik memasak air garam, hingga proses pengemasan diwariskan dari generasi ke generasi tanpa banyak mengalami perubahan.
Salah satu sentra produksi yang paling terkenal ada di Desa Long Midang, Kecamatan Krayan. Hingga kini, proses pembuatannya masih mengandalkan tenaga manusia tanpa mesin, lho.
Tercatat ada dua sumur air asin yang dikeola oleh masyarakat di Desa Long Midang. Tahap pertama dimulai dengan menimba air garam menggunakan alat sederhana berupa ember kecil yang diikat pada sebuah tongkat panjang. Air tersebut kemudian ditampung dalam tong besar selama sekitar 10-15 menit agar endapan mengendap.
Selanjutnya air garam dipindahkan ke dalam drum besi yang telah dibelah menjadi dua. Drum dipanaskan menggunakan kayu bakar selama 12 hingga 24 jam hingga sebagian besar air menguap dan tersisa kristal garam.
Kristal yang terbentuk kemudian dijemur selama satu hingga tiga hari, tergantung kondisi cuaca saat itu. Selama penjemuran, garam harus rutin diaduk agar kristalnya terbentuk merata sebelum akhirnya dikemas. Dalam sehari, para petani garam Krayan bisa menghasilkan hingga 20 kilogram, tergantung kondisi cuaca.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
(des/des)