Intrusi air laut membuat air di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat (Kalbar) dan Sungai Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng) terasa asin. Pemda setempat baik Pemkot Pontianak dan Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) masing-masing mencari cara untuk menyediakan air tawar bagi warganya.
Pemerintah Kota Pontianak berupaya mengatasi krisis air baku akibat intrusi air laut dengan menyediakan 5 juta liter air tawar dari Desa Radak, Kecamatan Terentang, tiba di IPA Parit Mayor, Pontianak Timur, pada Sabtu (19/9/2026).
Air tawar tersebut diangkut menggunakan tongkang dan tiba di Pontianak sejak Jumat (18/9) malam. Proses pembongkaran kemudian dilakukan sejak Sabtu pagi untuk selanjutnya diproses di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Parit Mayor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, IPA Parit Mayor memiliki kapasitas pengolahan sekitar 300 liter per detik.
"Nanti air ini akan didistribusikan kepada warga, khususnya di Pontianak Timur," kata Edi.
Dari total 5 juta liter air yang tiba, sekitar 4 juta liter akan disalurkan melalui keran warga, sedangkan 1 juta liter lainnya disiapkan sebagai cadangan yang dapat diambil masyarakat menggunakan galon atau jerigen.
Dengan skema tersebut, warga Pontianak Timur tidak perlu lagi mengambil air tawar hingga ke IPA Imam Bonjol.
"Selain kita distribusikan ke masyarakat melalui keran, kita juga ada cadangan 1 juta liter yang bisa diambil langsung oleh masyarakat. Jadi, tidak perlu menyeberang ke Imam Bonjol," ujarnya.
Pemkot Pontianak juga masih menunggu pasokan berikutnya. Tongkang lain dengan kapasitas sekitar 5 juta liter tengah dipersiapkan untuk kembali mengangkut air dari Desa Radak. Edi mengatakan lokasi penyaluran air berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Dijelaskan oleh Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa, Abdullah, bahwa kondisi air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak masih menghadapi persoalan salinitas akibat intrusi air laut.
Kadar garam di kawasan Imam Bonjol pada Sabtu pagi tercatat sekitar 1.800 miligram per liter. Sementara di kawasan Selat Panjang mencapai sekitar 2.500 miligram per liter.
Angka tersebut masih berada di atas batas sekitar 600 miligram per liter yang menjadi acuan untuk kebutuhan pengolahan tertentu. Karena itu, pasokan air tawar dari Desa Radak menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.
Abdullah menjelaskan air dari Radak yang tiba di Parit Mayor terlebih dahulu diproses melalui sistem instalasi pengolahan. Sebagian air tawar juga disiapkan untuk kebutuhan distribusi langsung menggunakan galon, jerigen, dan nantinya mobil tangki.
"Sistem di reservoir akan memisahkan air tawar dari Desa Radak yang diperuntukkan bagi distribusi langsung menggunakan galon, jerigen, dan nantinya mobil tangki," kata Abdullah.
Sementara air yang dialirkan melalui jaringan perpipaan tetap menjalani proses pengolahan dan dalam distribusinya masih bercampur dengan air baku Sungai Kapuas.
Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa sebelumnya melakukan survei terhadap sejumlah titik sumber air di Desa Radak. Tim laboratorium kemudian kembali melakukan pemeriksaan sebelum menentukan lokasi pengambilan.
"Pemeriksaan dari sisi salinitas, TDS, dan turbiditas. Termasuk juga pemeriksaan kandungan-kandungan lainnya seperti zat besi (Fe). Alhamdulillah, hasil pemeriksaannya menunjukkan kualitasnya layak, maka kita ambil airnya di titik tersebut," kata Abdullah.
Pemkab Kotim Siapkan Teknologi Pengolah Air Laut
Persoalan air bersih di musim kemarau juga dirasakan warga wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Pemkab Kotim kemudian berencana membeli teknologi khusus yang mampu mengolah air asin menjadi air bersih dan layak minum.
Selama ini, sejumlah desa di wilayah selatan kerap mengalami kesulitan mendapatkan air bersih ketika kemarau berlangsung cukup panjang. Pemerintah daerah pun harus turun tangan dengan menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan jaringan pelayanan air minum. Masalah utama justru terjadi pada kualitas sumber air baku yang mengalami perubahan saat musim kemarau.
"Permasalahan yang kita hadapi adalah ketika musim kemarau, air laut masuk ke Sungai Sampit. Sehingga sumber air baku PDAM menjadi asin," kata Halikinnor, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengolahan air secara konvensional menggunakan bahan kimia seperti tawas dan PAC tidak lagi cukup. Diperlukan teknologi khusus yang mampu mengurangi kadar garam sehingga air dapat kembali diolah menjadi air bersih dan layak dikonsumsi.
Pemkab Kotim pun berencana mengalokasikan anggaran untuk membeli teknologi tersebut. Halikinnor mengatakan pengadaan tetap akan diupayakan meski pemerintah daerah saat ini tengah melakukan efisiensi anggaran.
"Walaupun saat ini kita melakukan efisiensi anggaran, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat, kita tetap akan menganggarkan pembelian teknologi tersebut," ujarnya.
Teknologi pengolahan air tersebut nantinya akan dikelola oleh PDAM. Alat itu diharapkan dapat dioperasikan ketika kemarau tiba dan kadar garam pada sumber air baku meningkat.
"Kita akan membeli teknologi tersebut dan menghibahkannya kepada PDAM. Dengan begitu, ketika musim kemarau tiba, masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan air bersih," katanya.
Halikinnor menegaskan persoalan air bersih di wilayah selatan harus diselesaikan secara permanen. Pemerintah tidak ingin setiap kali kemarau datang kembali bergantung pada distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
"Kalau tidak musim kemarau, kondisinya normal dan tidak ada masalah. Namun, ketika musim kemarau, air menjadi asin. Karena itu, teknologi ini yang kita butuhkan," jelasnya.
Menurutnya, mencari sumber air baku baru bukan menjadi satu-satunya solusi. Pemkab Kotim memilih mengoptimalkan sumber air yang sudah tersedia dengan meningkatkan teknologi pengolahannya.
"Kita tidak mungkin terus mencari sumber air baru, sehingga sumber air yang ada harus kita manfaatkan dengan meningkatkan teknologinya," pungkasnya.
