Mengenal Kukang Kalimantan, Primata yang Menggemaskan tapi Berbisa

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Selasa, 10 Mar 2026 08:03 WIB
Foto: Kukang Kalimantan. (Laman KSDAE Kehutanan)
Balikpapan -

Hutan tropis Kalimantan menyimpan beragam satwa unik yang jarang ditemukan di tempat lain, salah satunya adalah kukang. Primata kecil yang dikenal dengan gerakan lambatnya ini sering menarik perhatian.

Wajahnya bulat, matanya besar, dan kukang punya ekspresi yang tampak menggemaskan. Sekilas, kukang terlihat seperti hewan yang jinak dan tidak berbahaya.

Namun, kukang nyatanya memiliki kemampuan yang cukup mengejutkan. Hewan nokturnal ini termasuk salah satu dari sedikit primata di dunia yang berbisa.

Kukang dapat menghasilkan racun yang berasal dari kelenjar di lengannya, yang kemudian digunakan sebagai mekanisme pertahanan ketika merasa terancam. Yuk kita kenali, hewan primata yang kini keberadaannya semakin terancam.

Mengenal Kukang Kalimantan

Seekor kukang. Foto: Raja Adil Siregar/detikSumut

Primata dikenal sebagai hewan yang kecerdasan dan fisik untuk bertahan hidup di alam liar. Meski jumlahnya mencapai 500 spesies, tapi hanya ada satu spesies primata yang berbisa.

Satu-satunya primata yang berbisa adalah kukang. Nycticebus borneanus atau kukang Kalimantan, adalah primata unik dan langka yang menghuni hutan Kalimantan.

Kukang Kalimantan memiliki ciri khas pada pola warna di bagian wajahnya yang tampak kontras dan cenderung gelap. Di sekitar matanya terdapat cincin berwarna gelap yang bagian atasnya biasanya membentuk pola membulat, meskipun kadang terlihat sedikit memudar di tepi atasnya.

Sementara itu, bagian bawah cincin gelap tersebut tidak pernah melewati lengkung tulang pipi. Garis pucat yang terletak di antara kedua mata memiliki lebar yang bervariasi.

Pada bagian ubun-ubun sering terlihat pola atau bercak besar yang umumnya berbentuk bulat, meskipun terkadang menyerupai pita, namun batas tepinya selalu terlihat jelas dan tidak kabur. Kukang ini juga memiliki telinga yang ditumbuhi rambut panjang, dengan pita pucat yang cukup lebar di bagian depan telinganya.

Secara geografis, kukang Kalimantan tersebar di wilayah tengah hingga bagian selatan Pulau Kalimantan, khususnya di kawasan yang berada di selatan Sungai Kapuas dan di sebelah barat Sungai Barito.

Selain dikenal dengan nama kukang, masyarakat nusantara punya banyak sebutan lain untuk hewan satu ini. Di antaranya adalah malu-malu (Jawa Barat), tokang (sebagian wilayah Jawa Timur), putra bayu (Kalimantan Selatan), pukang (Sumatera), dan bukang (Kalimantan).

Dalam kehidupannya di alam, kukang umumnya bersifat hidup sendiri (soliter) atau bersama pasangan (monogamous). Kukanh hidup di pepohonan (arboreal), dan aktif pada malam hari atau nokturnal.

Berbeda dengan leluhurnya yang lebih dikenal sebagai ground sloth (kukang darat), kukang modern menghabiskan hidupnya di pepohonan. Ia akan bergelantungan tanpa bergerak atau hanya bergerak perlahan saja di antara cabang-cabang pohon.

Primata ini sangat sukar dilihat karena selain aktif pada malam hari, juga bergerak sangat lamban dan tersembunyi. Primata ini lebih sering dijumpai di pohon-pohon berukuran kecil hingga sedang.

Pergerakan kukang sangat lamban dengan menggunakan keempat anggota tubuhnya (quadropedal). Kadang-kadang mereka menggantung saat akan pindah ke dahan di depannya.

Mereka makan, tidur, beristirahat, kawin, dan melahirkan di pohon, meski ada kalanya juga kukang turun dari pohon. Makanan utamanya terdiri dari hewan-hewan kecil, terutama berbagai jenis serangga, serta buah-buahan yang memiliki daging buah.

Kukang termasuk dalam genus Nycticebus, beranggotakan beberapa spesies yang mahir bergelantungan di pepohonan Asia Tenggara pada malam hari. Karena termasuk hewan nokturnal, kukang memiliki mata yang besar sehingga memudahkannya untuk berburu serangga dan hewan lainnya.

Dirujuk dari dokumen unggahan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), di Indonesia, terdapat tak kurang dari 13% spesies mamalia dunia. Dari jumlah tersebut, Indonesia memiliki 64 spesies primata dari total 479 spesiesnya di seantero dunia. Salah satunya adalah kukang dari genus nycticebus.

Racun yang dihasilkan kukang, membuat dirinya berada di kelompok mamalia bersama dengan platipus, beberapa jenis tikus curut, dan tikus tanah Eropa.



Simak Video "Video: Komisi VIII DPR Soroti soal Lambatnya Pengiriman Koper Jemaah Haji"


(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork