Legenda Riya Sinir dan Dara Hitam Merebut Tengkorak Patih Gumantar

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 30 Sep 2026 21:11 WIB
Ilustrasi Legenda Riya Sinir dan Dara Hitam/Foto: Gemini AI
Mempawah -

Dara Hitam dan Riya Sinir adalah pasangan yang hidup di Mempawah, Kalimantan Barat. Tersebar sebuah legenda di mana mereka memperebutkan tengkorak Patih Gumantar, raja dari Kerajaan Bahanapura di Kabupaten Mempawah Hulu, Kalimantan Barat.

Dijelaskan dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Patih Gumantar dulunya menguasai daerah di sekitar Pegunungan Sadaniang atau Sidiniang, wilayah Sangking, Mempawah Hulu. Patih Gumantar memimpin sekitar 1380 Masehi yang mana saat itu adalah periode awal Mempawah sebelum masuk ke kerajaan Islam.

Patih Gumantar digambarkan sebagai pemimpin yang berjaya, berpengaruh, dan hidup dalam kemakmuran. Kekayaan serta kejayaan kerajaannya kemudian menarik perhatian kerajaan-kerajaan lain. Dirinya juga disebut masih bersaudara dengan Patih Gajah Mada dari Majapahit.

Di masa kepemimpinannya, perang antarkerajaan dan tindakan kayau-mengayau (menyerang orang untuk diambil kepalanya) masih sering terjadi. Kerajaan Patih Gumantar kemudian menghadapi serangan dari kerajaan Miaju atau Biaju yang membawa pasukan lebih besar. Kerajaan Patih Gumantar kalah dan kepala sang pemimpin dikayau.

Tengkorak Patih Gumantar lalu dibawa ke kerajaan penyerang. Dalam kepercayaan saat itu, kepala hasil kayauan dari seorang tokoh yang dianggap kuat dan berpengaruh dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Karenanya tengkorak Patih Gumantar dijaga dengan ketat dan disimpan dalam sebuah tajau atau tempayan yang bernama Tajau Tarus. Kematian Patih Gumantar kemudian meninggalkan kekosongan kekuasaan karena ketujuh turunannya adalah perempuan, salah satunya adalah Dara Hitam yang bernama asli Dayang Salimpat.

Kisah Dara Hitam yang Sakti

Dara Hitam punya paras cantik dan terkenal karena kemampuannya yang bisa menyembuhkan penyakit. Dia juga dikenal di lingkungan tempat tinggalnya, Tembawang Selimpat, sebagai orang yang senang membantu tanpa mengharapkan imbalan.

Suatu hari, Dara Hitam sedang mandi di sungai. Konon, rambutnya sangat panjang dan sehelai rambutnya pun terlepas, ikut hanyut terbawa arus. Rambut itu dilihat oleh pengawal Raja Pulang Palih yang konon masih memiliki garis keturunan dari Jawa dan Banten.

Raja Pulang Palih penasaran siapa yang memiliki rambut sepanjang itu. Ia dan para pengawalnya pun mengikuti aliran sungai hingga tiba di sebuah kampung dan bertemu seorang anak yang sedang menimba air.

Ketika ditanya mengenai pemilik rambut tersebut, anak itu bilang bahwa perempuan yang dicari memang tinggal di kampung tersebut, tapi saat itu Dara Hitam sedang mengobati orang lain. Raja Pulang Palih kemudian menyusun siasat.

Ia berpura-pura sakit dan meminta Dara Hitam datang untuk mengobatinya. Karena memang dikenal suka menolong, Dara Hitam tidak menaruh curiga. Wanita cantik itu membawa ramuan dan datang ke tempat Raja Pulang Palih berada.

Begitu Dara Hitam naik ke sampan, para pengawal segera memutus tali tambat. Dara Hitam dibuat tidak berdaya dan sampan kemudian didayung menjauh dari Tembawang Selimpat menuju Tembawang Ambator.

Di tempat itulah Raja Pulang Palih menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Dara Hitam sebagai istrinya. Namun Dara Hitam tidak serta-merta menerima, melainkan mengajukan syarat yang hampir mustahil. Jika Raja Pulang Palih ingin menikahinya, sang raja harus mengembalikan tengkorak ayahnya, Patih Gumantar yang berada di tangan kerajaan Miaju.

Syarat itu membuat Raja Pulang Palih bimbang. Raja Pulang menyadari bahwa mengambil kembali tengkorak Patih Gumantar sangat berisiko karena kerajaan Miaju terkenal sangat kuat. Keraguan itu ditepis karena perasaan cinta Raja Pulang Palih lebih besar.



Simak Video "Menemukan Lulur Alami dari Daun Aras di Kalimantan Barat"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork