Ada banyak cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu cerita rakyat asal Kalimantan Timur adalah legenda Putri Karang Melenu. Legenda ini bahkan menjadi bagian dari ritual Mengulur Naga pada upacara adat Erau di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Putri Karang Melenu dikenal sebagai sosok perempuan yang muncul dari Sungai Mahakam dan kemudian menjadi permaisuri Aji Batara Agung Dewa Sakti, yaitu raja pertama Kutai Kartanegara. Dari pasangan inilah kemudian lahir keturunan yang meneruskan dinasti raja-raja Kutai Kartanegara. Lalu, bagaimana kisah lengkap Putri Karang Melenu dan apa hubungannya dengan Erau?
Kisah Putri Karang Melenu dan Naga di Sungai Mahakam
Melansir dari buku Cerita Rakyat dari Sabang sampai Merauke, kisah Putri Karang Melenu bermula dari sepasang suami istri yang tinggal di Kampung Melanti, Hulu Dusun. Sang suami adalah Petinggi Hulu Dusun, sedangkan istrinya bernama Babu Jaruma. Keduanya sudah hidup bersama dalam waktu lama, tetapi belum memiliki anak. Mereka kemudian memanjatkan doa dan berharap dapat memperoleh keturunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada suatu ketika, wilayah tempat mereka tinggal dilanda cuaca buruk. Hujan turun sangat deras disertai angin, petir, dan suara guntur. Kondisi mengerikan ini berlangsung selama beberapa hari hingga persediaan kayu bakar di rumah mereka habis. Karena tidak berani keluar rumah akibat cuaca, Petinggi Hulu Dusun mengambil bagian kayu dari atap rumah untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Saat membelah kayu tersebut, dirinya menemukan seekor ulat kecil. Petinggi merasa iba dan memilih untuk tidak membunuhnya. Ulat itu kemudian dipelihara oleh pasangan tersebut. Ajaibnya, makhluk kecil itu berubah cepat, dari ulat menjadi ular kecil, kemudian menjadi ular yang lebih besar, dan akhirnya berubah menjadi seekor naga.
Petinggi Hulu Dusun membuat tangga dari bambu sebagai jalan bagi naga menuju Sungai Mahakam. Setelah masuk ke sungai, naga bergerak bolak-balik di aliran Mahakam sebelum akhirnya menyelam ke dalam air.
Peristiwa itu menimbulkan bencana alam yang sangat dahsyat. Angin bertiup kencang, hujan turun, gelombang sungai membesar, serta petir dan guntur terdengar bersahutan. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah badai mereda, permukaan Sungai Mahakam kembali tenang.
Baca juga: Mengenal Tiang Ayu dalam Upacara Erau Kutai |
Bayi dalam Gong dan Kemunculan Lembuswana
Ketika keadaan Sungai Mahakam kembali tenang, Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat sesuatu muncul dari permukaan air. Muncul gong yang di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan. Gong itu muncul bersama naga dan Lembuswana.
Lembuswana di sini agak sulit dijelaskan karena merupakan perpaduan berbagai ciri hewan. Masyarakat Kutai percaya bahwa Lembuswana adalah kendaraan atau tunggangan Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Karang Melenu.
Bayi perempuan yang berada di dalam gong itu diambil dan dirawat oleh Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma. Mereka menyambut kehadiran bayi tersebut sebagai jawaban atas penantian panjang mereka untuk memiliki seorang anak.
Bayi itu diberi nama Putri Karang Melenu. Putri pun tumbuh menjadi perempuan yang kemudian dipersunting oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti. Setelah menikah, ia dikenal pula dengan gelar Putri Junjung Buyah dan menjadi permaisuri Kutai Kartanegara. Dari pernikahan tersebut lahir keturunan yang meneruskan dinasti raja-raja Kutai Kartanegara.
Legenda Putri Karang Melenu dan Erau
Salah satu prosesi dari Erau adalah Mengulur Naga. Dua replika naga diarak menuju kawasan Kutai Lama. Bagian tubuh naga kemudian dihanyutkan ke Sungai Mahakam, sementara kepala dan ekornya dibawa kembali ke Tenggarong.
Mengulur Naga adalah penghormatan terhadap kelahitan Putri Karang Melenu di Sungai Mahakam. Karena Putri Karang Melenu muncul dari dasar Mahakam dengan bantuan Lembuswana setelah naga tersebut menyelam ke sungai. Karenanya, naga dalam prosesi Erau merupakan simbolisasi dari kisah kelahiran Putri Karang Melenu.
