Mengenal Lambung Mangkurat yang Namanya Abadi di Kalsel

Mengenal Lambung Mangkurat yang Namanya Abadi di Kalsel

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Minggu, 05 Apr 2026 22:18 WIB
Ilustrasi tulisan sejarah di samping buku dan pensil
Ilustrasi/Foto: Freepik/freepik
Banjarmasin -

Nama Lambung Mangkurat tentu sudah sangat familiar, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Selatan. Bahkan namanya diabadikan menjadi salah satu perguruan tinggi ternama, yaitu Universitas Lambung Mangkurat.

Di balik nama besar tersebut, apakah detikers benar-benar tahu siapa sebenarnya Lambung Mangkurat? Dan bagaimana kisahnya hingga dijadikan nama universitas di Kalimantan Selatan?

Artikel ini akan mengulas secara lengkap sosok Lambung Mangkurat, mulai dari asal-usul namanya, perannya dalam kerajaan, hingga alasan mengapa namanya diabadikan dalam banyak hal, seperti nama jalan, stadion, hingga nama universitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul Nama Lambung Mangkurat

Jika ditelusuri dari berbagai sumber, termasuk Hikayat Banjar, nama Lambung Mangkurat bukanlah nama asli dari sebuah tokoh. Ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat, seperti Lambu Mangkurat, Dambung Mangkurap dalam masyarakat Dayak Maanyan, dan Lembu Amangkurat.

Perbedaan ini mungkin terjadi karena perubahan pelafalan seiring berjalannya waktu dan perbedaan bahasa. Tetapi yang sekarang lebih dikenal adalah Lambung Mangkurat yang merujuk pada satu tokoh dalam Kerajaan Negara Dipa.

Latar Belakang Keluarga dan Berdirinya Kerajaan Negara Dipa

Lambung Mangkurat merupakan putra dari Ampu Jatmaka, seorang saudagar kaya yang mendirikan Kerajaan Negara Dipa pada sekitar abad ke-14. Ampu Jatmaka berasal dari Negeri Keling, yang dalam beberapa sumber disebut berada di sekitar wilayah India, lalu datang ke Kalimantan bersama rombongan pedagang dan pengikutnya sebelum akhirnya membangun pusat kekuasaan di wilayah Candi Laras (Margasari), dan kemudian berpindah ke Candi Agung (Amuntai), seperti yang tertera dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 2 karya Soekirno (2005).

Dalam struktur keluarganya, Lambung Mangkurat bukan anak tunggal. Ia dikenal sebagai anak kedua dari Ampu Jatmaka. Kakaknya bernama Ampu Mandastana yang juga dikenal dengan gelar Lambung Jaya Wanagiri. Sementara itu, sosok ibu Lambung Mangkurat tidak banyak disebutkan secara jelas dalam banyak sumber seperti Hikayat Banjar, sehingga identitasnya masih belum diketahui secara pasti.

Peran Lambung Mangkurat dalam Kerajaan

Sejak kecil, Lambung Mangkurat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki pengaruh besar, tetapi ia tetap menjunjung tinggi nilai kerendahan hati. Ayahnya, Ampu Jatmaka, memberi contoh bahwa kekuasaan bukanlah tujuan utama.

Meskipun mendirikan Kerajaan Negara Dipa, ia justru tidak mau menobatkan dirinya sebagai raja karena merasa bukan berasal dari garis keturunan bangsawan yang sah. Sikap ini yang kemudian diwariskan kepada anak-anaknya, termasuk Lambung Mangkurat.

Saat Kerajaan Negara Dipa mulai berkembang, Lambung Mangkurat diperkirakan masih berada dalam usia muda hingga dewasa awal. Walaupun tidak ada catatan pasti tentang umurnya, dalam Hikayat Banjar ia digambarkan sebagai sosok telah dewasa.

Setelah wafatnya Ampu Jatmaka, Lambung Mangkurat bersama kakaknya tidak serta-merta mengambil alih tahta. Mereka memilih menjalankan peran untuk menjaga stabilitas kerajaan. Lambung Mangkurat kemudian mulai berperan sebagai pengatur pemerintahan di balik layar, mengelola wilayah, menjaga hubungan dengan masyarakat, sekaligus memastikan kerajaan tetap berjalan meskipun belum memiliki.

Puncak perannya terlihat ketika ia menjalankan hasil pertapaannya dan menemukan sosok Puteri Junjung Buih. Lambung Mangkurat pun membawa Puteri Junjung Buih ke istana dan menjadikannya sebagai anak angkat sekaligus ratu Kerajaan Negara Dipa.

Setelah Puteri Junjung Buih menjadi ratu, Lambung Mangkurat menjabat sebagai patih atau mangkubumi, atau bisa dibilang sebagai 'otak pemerintahan'. Perannya sangat luas, contohnya:

  • Mengelola administrasi kerajaan, termasuk pembagian wilayah dan pengawasan daerah kekuasaan.
  • Menjadi penasihat terutama dalam pengambilan keputusan penting.
  • Menjaga stabilitas politik dan hubungan dengan wilayah lain maupun kelompok masyarakat.
  • Mengatur jalannya pemerintahan sehari-hari.
  • Menjadi penghubung antara dunia spiritual sesuai dengan kepercayaan masyarakat saat itu.

Bahkan dalam beberapa kisah, Lambung Mangkurat juga berperan dalam menjodohkan Puteri Junjung Buih dengan Maharaja Suryanata dari Majapahit yang bisa menjadi bukti bahwa turut menentukan arah politik kerajaan melalui hubungan antarwilayah.

Dari sini terlihat jelas bahwa meskipun ia tidak pernah menjadi raja, peran Lambung Mangkurat justru sangat dominan. Ia adalah sosok di balik layar yang memastikan kerajaan berjalan dengan baik. Hal inilah yang membuat namanya tetap dikenang hingga sekarang, bukan karena gelar, tetapi karena peran dan kebijaksanaannya dalam membangun fondasi kerajaan Banjar.

Filosofi di Balik Sosok Lambung Mangkurat

Selain dikenal sebagai tokoh pemerintahan, Lambung Mangkurat juga memiliki makna filosofis yang kuat dalam kehidupan masyarakat Banjar.

Lambung Mangkurat digambarkan sebagai sosok yang dekat dengan alam, terutama air, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Penggambaran ini bisa dibuktikan dari seringnya ia bertapa di pinggir sungai untuk mencari ketenangan dan ilmu.

Dalam masyarakat Banjar, air bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga simbol keseimbangan, kesabaran, dan kekuatan. Kisah pertapaan Lambung Mangkurat di atas air sering diartikan sebagai proses pencarian makna hidup dan kebijaksanaan.

Diabadikan sebagai Nama Universitas

Nama Lambung Mangkurat kemudian diabadikan sebagai nama salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Selatan, yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Penggunaan nama ini melalui pertimbangan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada para penerus.

Universitas Lambung Mangkurat resmi berdiri pada tahun 1958. Pada masa itu, kebutuhan akan institusi pendidikan di Kalimantan Selatan semakin meningkat, seiring dengan pertambahan penduduk masyarakat dan tuntutan akan sumber daya manusia yang berpendidikan.

Pemilihan nama Lambung Mangkurat adalah bentuk doa dari nilai kepemimpinan yang diharapkan tertanam dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai seperti kebijaksanaan, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir jauh ke depan dianggap relevan dengan semangat pendidikan. Selain itu, penamaan ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap kisah atau legenda masyarakat Banjar.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads