Kisah Riya Sinir dan Dara Hitam tidak selesai setelah keduanya menikah. Dari pernikahan tersebut lahirlah sepasang anak kembar laki-laki bernama Lutih dan Kari.
Beberapa waktu setelah pernikahan Riya Sinir dan Dara Hitam, lahirlah dua anak laki-laki kembar. Anak pertama diberi nama Lutih dan anak keduanya diberi nama Kari.
Kelahiran kedua anak tersebut kemudian diberitahukan kepada Raja Pulang Palih. Raja yang sebelumnya ingin meminang Dara Hitam datang untuk melihat kedua bayi tersebut. Dalam buku berjudul Bunga Rampai Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Barat, Raja Pulang Palih kemudian memberikan nama lain kepada keduanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lutih diberi nama Dolkasim, sedangkan Kari diberi nama Dolkahar. Setelah melalui pembicaraan antara Riya Sinir dan Raja Pulang Palih, mereka sepakat untuk menggabungkan nama kedua anak itu menjadi Lutih Dolkasim untuk anak pertama dan Kari Dolkahar untuk anak kedua.
Persoalan kemudian muncul tentang siapa yang menjadi anak Raja Pulang Palih. Kedua bayi tersebut dibawa keluar dan diletakkan di bawah terik matahari. Anak yang lebih dahulu menangis dianggap sebagai anak Raja Pulang Palih. Dalam cerita, Kari Dolkahar ternyata menangis duluan, sehingga ia dianggap sebagai anak Raja Pulang Palih. Sementara Lutih Dolkasim tetap bersama Riya Sinir.
Pembagian Wilayah 25 Tahun Kemudian
Waktu pun berlalu. Sekitar 25 tahun kemudian, Lutih Dolkasim dan Kari Dolkahar telah dewasa. Saat itu, keduanya mendapatkan wilayah kekuasaan masing-masing. Lutih Dolkasim dipercaya memimpin wilayah darat atau hulu, sedangkan Kari Dolkahar menguasai wilayah pantai atau pesisir.
Lutih Dolkasim dan Kari Dolkahar juga disebut tinggal di wilayah Kerajaan Landak dan menjadi cikal bakal dua suku berbeda. Menurut kepercayaan, Lutih Dolkasim disebut sebagai leluhur orang Dayak (Urang Darat), sedangkan Kari Dolkahar sebagai leluhur orang Melayu (Urang Laut).
Pembagian wilayah dilakukan melalui sebuah upacara adat yang disaksikan masyarakat. Kedua saudara membawa batu masing-masing sebagai tanda kesepakatan. Di hadapan masyarakat, keduanya lalu mengucapkan sumpah untuk saling menolong, menjaga keamanan rakyat, tidak saling menipu, dan hidup jujur. Mereka juga bersumpah untuk tetap mengingat hubungan darah di antara keturunannya.
Setelah sumpah diucapkan, sebuah batu ditanam sebagai tanda perjanjian di kawasan Kampung Jering. Batu tersebut disimbolkan sebagai saksi kesepakatan kedua saudara dan masyarakat yang menyaksikannya.
Lutih Menjadi Pemimpin Darat, Kari Menguasai Pesisir
Setelah pembagian wilayah selesai, Lutih Dolkasim kembali ke daerah asalnya. Dalam Bunga Rampai Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Barat, dirinya diangkat menjadi pemimpin dengan gelar Patih Permula.
Di lain cerita, Kari Dolkahar memimpin wilayah orang laut. Beberapa sumber menyebut Kari Dolkahar ikut mengembangkan Kerajaan Landak bersama orang-orang Melayu di wilayahnya. Kari Dolkahar kemudian dikenal dengan nama Raden Kari Abdulkahar.
Dari kisah Lutih Dolkasim dan Kari Dolkahar, ada pesan penting soal persaudaraan. Walaupun keduanya memimpin wilayah berbeda, tetapi perbedaan itu tidak bisa menghapus hubungan darah. Legenda ini pun sejalan dengan kepercayaan bahwa orang Melayu dan Dayak masih memiliki hubungan darah atau punya leluhur yang sama.
