4 Londo Ireng di Balik Penangkapan Demang Lehman

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 30 Jul 2026 11:37 WIB
Ilustrasi Demang Lehman/Foto: Gemini AI
Banjarmasin -

Selama hampir lima tahun memimpin perlawanan dalam Perang Banjar, Demang Lehman menjadi musuh yang paling ditakuti pemerintah Hindia Belanda. Ekspedisi militer yang berkali-kali dilancarkan untuk menangkapnya gagal total.

Demang Lehman cerdik, dirinya mampu berpindah dari satu hutan ke hutan lain, memanfaatkan dukungan sekitar yang setia menyuplai logistik dan informasi. Kondisi ini membuat Belanda menyadari bahwa Demang Lehman hampir mustahil dikalahkan melalui kekuatan militer saja.

Alih-alih melanjutkan operasi militer untuk menangkapnya, Belanda mengubah strategi dengan memperkuat jaringan intelijen dan memanfaatkan orang-orang pribumi yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Dari sini muncul istilah Londo Ireng yang selanjutnya dikenal sebagai pengkhianat.

Dalam bahasa Jawa, Londo berarti orang Belanda atau orang Eropa, sedangkan Ireng berarti hitam. Londo Ireng merujuk pada pasukan non-Eropa yang mengabdi kepada pemerintah Hindia Belanda, baik itu tentara pribumi atau masyarakat sipil yang membantu operasi militer Belanda.

Belanda sudah lama merekrut prajurit dari berbagai wilayah Nusantara, terutama Ambon, Bugis, Jawa, Madura, dan Bali. Mereka sengaja mencari pribumi supaya lebih mudah menghadapi penduduk lokal karena mengenal bahasa maupun kondisi geografis setempat.

Selain itu, pemerintah kolonial juga menggunakan informan, kepala kampung, bekas pejuang yang menyerah, maupun tokoh adat untuk memperoleh informasi mengenai persembunyian para pemimpin Perang Banjar. Strategi ini termasuk dari bagian politik divide et impera atau adu domba yang kemudian menimpa Demang Lehman.



Simak Video "Mengisi Tenaga dengan Hidangan Lezat di Banjarmasin"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork