Selama hampir lima tahun memimpin perlawanan dalam Perang Banjar, Demang Lehman menjadi musuh yang paling ditakuti pemerintah Hindia Belanda. Ekspedisi militer yang berkali-kali dilancarkan untuk menangkapnya gagal total.
Demang Lehman cerdik, dirinya mampu berpindah dari satu hutan ke hutan lain, memanfaatkan dukungan sekitar yang setia menyuplai logistik dan informasi. Kondisi ini membuat Belanda menyadari bahwa Demang Lehman hampir mustahil dikalahkan melalui kekuatan militer saja.
Alih-alih melanjutkan operasi militer untuk menangkapnya, Belanda mengubah strategi dengan memperkuat jaringan intelijen dan memanfaatkan orang-orang pribumi yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Dari sini muncul istilah Londo Ireng yang selanjutnya dikenal sebagai pengkhianat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam bahasa Jawa, Londo berarti orang Belanda atau orang Eropa, sedangkan Ireng berarti hitam. Londo Ireng merujuk pada pasukan non-Eropa yang mengabdi kepada pemerintah Hindia Belanda, baik itu tentara pribumi atau masyarakat sipil yang membantu operasi militer Belanda.
Belanda sudah lama merekrut prajurit dari berbagai wilayah Nusantara, terutama Ambon, Bugis, Jawa, Madura, dan Bali. Mereka sengaja mencari pribumi supaya lebih mudah menghadapi penduduk lokal karena mengenal bahasa maupun kondisi geografis setempat.
Selain itu, pemerintah kolonial juga menggunakan informan, kepala kampung, bekas pejuang yang menyerah, maupun tokoh adat untuk memperoleh informasi mengenai persembunyian para pemimpin Perang Banjar. Strategi ini termasuk dari bagian politik divide et impera atau adu domba yang kemudian menimpa Demang Lehman.
Empat Tokoh di Balik Tertangkapnya Demang Lehman
Pemerintah Belanda mengatur ulang strategi penangkapan Demang Lehman. Ketakutan mereka terhadap panglima Banjar itu sangat besar, hingga nafsu untuk menangkapnya memuncak.
Strategi diubah, Belanda memanfaatkan jaringan orang-orang lokal Banjar yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Setidaknya ada tiga nama yang terkenal sebagai Londo Ireng dalam kasus Demang Lehman. Yang lebih menarik, ada satu nama yang menjadi otak penangkapan, yaitu Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus.
Ketiga nama lainnya adalah Sambarani, Singoprojo, dan Brahim (Ibrahim). Mereka dalam proses persidangan Demang Lehman mengaku mendapat tugas untuk menangkap Demang Lehman setelah menerima perintah dari Kepala Wilayah Batulicin, Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus, yang saat itu bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda.
1. Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus
Mastermind atau tokoh paling menentukan dalam operasi penangkapan sebenarnya bukan Sambarani dan komplotannya, melainkan Pangeran Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Alaydrus sebagai Kepala Wilayah Batulicin.
Syarif Hamid dikabarkan mendapat mandat dari pemerintah Hindia Belanda untuk memburu Demang Lehman yang selama bertahun-tahun menjadi panglima paling sulit ditaklukkan. Ia kemudian membentuk tim pencari, mengoordinasikan pengejaran di kawasan Gunung Lintang, Gunung Panjang hingga Batu Punggul, serta menjanjikan hadiah fantastis kepada siapa pun yang dapat membantu menemukan persembunyian Demang Lehman.
Keberhasilan menangkap Demang Lehman justru menjadi prestasi politik penting bagi Syarif Hamid. Belanda telah menyiapkan pengangkatan dirinya sebagai penguasa tetap Batulicin sebagai imbalan atas keberhasilan tersebut. Selain itu, Belanda juga menjanjikan Syarif Hamid dan Sambarani imbalan 2.000 gulden untuk kepala Demang Lehman.
2. Sambarani (Pambarani)
Di antara tiga orang yang menjadi eksekutor, Sambarani adalah orang yang paling banyak diceritakan karena melumpuhkan Demang Lehman secara tidak langsung. Sejumlah sumber menyebut Sambarani merupakan orang yang memperoleh kepercayaan Demang Lehman ketika bertahan di kawasan Batu Punggul setelah jalur logistiknya diblokade Belanda.
Dalam situasi serba kekurangan itu, Sambarani mengajak Demang Lehman bermalam di rumahnya. Saat itulah ia diduga mencuri dua pusaka milik Demang Lehman, yakni Keris Singkir dan Tombak Kalibalah, kemudian memberi tahu lokasi persembunyian tersebut kepada Syarif Hamid dan pasukan Belanda. Usai Demang Lehman menunaikan salat subuh dalam keadaan tidak membawa senjata, pasukan segera melakukan penyergapan dan menangkapnya hidup-hidup.
3. Singoprojo
Nama Singoprojo memang tidak seterkenal Sambarani. Namun, dalam sejarah persidangan nama ini muncul sebagai salah seorang yang ikut dalam operasi penangkapan Demang Lehman sekaligus memberikan kesaksian di pengadilan.
Singoprojo melancarkan aksinya dengan membantu Sambarani mencuri keris dan tombak Demang Lehman. Walaupun belum ada informasi detail mengenai perannya, yang pasti Singoprojo bersaksi di pengadilan sebagai orang yang ikut membantu dalam operasi penangkapan Demang Lehman.
4. Brahim (Ibrahim)
Nama Brahim atau Ibrahim juga muncul dalam berkas persidangan bersama Singoprojo dan Sambarani. Dalam keterangannya, Brahim mengakui kelompoknya menerima tugas dari Syarif Hamid untuk menangkap Demang Lehman hidup-hidup. Ia juga turut membantu Sambarani dan Singoprojo dalam mengatur taktik licik untuk melumpuhkan kekuatan Demang Lehman saat logistiknya diblokade Belanda.
Ditangkap Setelah Salat Subuh
Penangkapan Demang Lehman terjadi selepas salat Subuh ketika dirinya berada di persembunyian kawasan Batu Punggul. Dengan informasi yang telah diperoleh dari para informan, pasukan kolonial mengepung lokasi tersebut.
Demang Lehman masih sempat memberikan perlawanan, tetapi kehilangan kesempatan meloloskan diri karena bertanding dengan tangan kosong. Berbeda dengan berbagai pertempuran sebelumnya, Belanda menangkapnya dalam keadaan hidup. Ia kemudian dibawa ke Martapura untuk diadili oleh Dewan Militer Hindia Belanda sebelum dijatuhi hukuman gantung pada 27 Februari 1864.
Sumber:
- Buku Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Selatan oleh Kemendikdasmen
- Perjuangan Demang Lehman dalam Perang Banjar Tahun 1859-1862. Skripsi karya Sundari
- Buku Demang Lehman: Lukisan Perjuangan Panglima Perang Banjar 1859-1864 karya Mursalin-Mansyur
Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
