Harga Kepala Demang Lehman-Pangeran Antasari dalam Sayembara Belanda

Harga Kepala Demang Lehman-Pangeran Antasari dalam Sayembara Belanda

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Sabtu, 08 Agu 2026 10:00 WIB
Arsip daftar harga kepala tokoh Perang Banjar. (dok Instagram @kesultananbanjar_official)
Foto: Arsip daftar harga kepala tokoh Perang Banjar. (dok Instagram @kesultananbanjar_official)
Banjarmasin -

Perang Banjar yang meletus di Kalimantan pada pertengahan abad ke-19 menjadi salah satu perlawanan berat bagi pasukan kolonial Belanda. Selain Pangeran Antasari, ada sejumlah tokoh penting dalam perang ini, seperti Demang Lehman hingga Pangeran Hidayat.

Berbagai cara dilakukan Belanda untuk menaklukkan para tokoh tersebut, salah satunya mengadakan sayembara dengan hadiah menggiurkan. Bukan cuma untuk menangkap para tokoh, melainkan mengadu domba warga pribumi.

Daftar Harga Kepala Demang Lehman

Karena kesulitan meredam perlawanan melalui kekuatan militer, Belanda mengeluarkan daftar imbalan jasa bagi siapa pun yang bisa menangkap para pemimpin pejuang. Daftar harga kepala pejuang pada zaman itu tertuang dalam buku Memorie Van Overgave karya Kolonel Happe yang saat itu menjabat sebagai Residen Afdeling Selatan dan Timur Borneo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam daftar tersebut, Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah diposisikan sebagai target paling utama dengan nilai imbalan masing-masing sebesar 10.000 gulden. Sementara itu, kepala Demang Lehman dan Aminoellah dihargai sebesar 2.000 gulden, mencerminkan betapa berbahayanya pengaruh mereka di mata kolonial.

Belanda juga mengincar tokoh-tokoh kunci lainnya dengan harga yang bervariasi untuk memecah belah kekuatan pejuang Banjar. Nama-nama seperti Hadjie Boeijasin dihargai 1.000 gulden, sedangkan Tumenggung Surapati dihargai 500 gulden serta pengikutnya masing-masing 250 gulden.

Sayembara dengan harga kepala itu bukanlah hal asing pada masa itu. Mereka sering membawa tengkorak tokoh-tokoh penting dari wilayah jajahan sebagai bentuk kemenangan.

Hadiah Sayembara dalam Rupiah

Nilai bayaran dalam sayembara itu bisa dibilang sangat besar, karena yang diincar Belanda bukanlah orang sembarangan. Namun berapakah nilai gulden jika dikonversi dengan Rupiah sekarang?

Tidak ada nilai pasti dalam konversi florin (disimbolkan f) Gulden dengan Rupiah, karena mata uang tersebut sudah lama tidak digunakan. Untuk itu, kita asumsikan menggunakan pendekatan perbandingan emas.

Berdasarkan situs Gold IRA Guide, uang pecahan 10 gulden mengandung 0,1947 oz atau sekitar 6,05 gram, yang berarti 1 gulden senilai 0,605 gram emas. Jika dihitung dengan harga emas sekarang sekitar Rp 2,6 juta per gram, maka 1 gulden menjadi sekitar Rp 1,5 juta.

Maka dengan asumsi demikian, hadiah sayembara bagi yang bisa menangkap Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah adalah sekitar Rp 15 miliar di zaman sekarang. Sementara Demang Lehman dihargai sekitar Rp 3 miliar.

Sosok Demang Lehman

Demang Lehman, yang dikenal sebagai tangan kanan Pangeran Hidayatullah, merupakan tokoh pejuang yang sangat menyulitkan pasukan Belanda dalam Perang Banjar berkat ketangguhannya dalam taktik gerilya.

Merasa frustrasi karena selalu gagal menangkapnya melalui operasi militer terbuka, Belanda akhirnya mengubah strategi dengan memanfaatkan mata-mata dari kalangan pribumi atau yang dikenal sebagai 'Londo Ireng'.

Tragedi kemudian menimpa Demang Lehman ketika orang-orang terdekatnya berkhianat dengan mencuri senjata pusakanya dan membocorkan tempat persembunyiannya. Hal ini menyebabkan sang panglima ditangkap tanpa perlawanan sesaat setelah menunaikan salat Subuh.

Setelah penangkapannya, Demang Lehman divonis mati dan dieksekusi gantung di Martapura pada Februari 1864, di mana ia menghadapi kematiannya dengan penuh keberanian dan menolak matanya ditutup.

Kisah tragis ini tidak berhenti sampai di situ, karena jasad sang pahlawan ternyata dimakamkan tanpa kepala. Berdasarkan catatan sejarah, tengkorak Demang Lehman dibawa ke Belanda pada tahun 1867 untuk keperluan penelitian kedokteran.

Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama budayawan Kalimantan Selatan masih terus memperjuangkan upaya pemulangan tengkorak tersebut kembali ke Tanah Air.

Sumber:

  • Buku Lukisan Perang Banjar 1859-1865 karya M Idwar Saleh.
  • Arsip Emerging Memory Photographs of Colonial Atrocity in Dutch Cultural Remembrance oleh Paul Bill
  • Buku Demang Lehman: Lukisan Perjuangan Panglima Perang Banjar 1859-1864 karya Mursalin-Mansyur
  • Buku Pegustian dan Temenggung: Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 oleh Helius Sjamsuddin
  • Buku Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Selatan oleh Kemendikdasmen
  • Perjuangan Demang Lehman dalam Perang Banjar Tahun 1859-1862. Skripsi karya Sundari
Halaman 2 dari 2
(bai/sun)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads