Demang Lehman: Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing

Demang Lehman: Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 28 Jul 2026 16:40 WIB
Ilustrasi Demang Lehman
Ilustrasi Demang Lehman/Foto: Gemini AI
Banjarmasin -

Perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda sudah terjadi jauh sebelum Perang Banjar pecah pada 1859. Hubungan Kesultanan Banjar dan Belanda diwarnai konflik akibat monopoli perdagangan dan campur tangan politik.

Di sebelah Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah, ada sosok Demang Lehman yang setia pada tanah Banjar. Demang Lehman dikenal sebagai sosok yang setia, pemberani, dan pantang menyerah.

Semangat juangnya menyatukan tekad masyarakat Banjar dengan semboyan Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, yang berarti pantang menyerah hingga titik darah penghabisan. Saat itu, Demang Lehman menjadi salah satu sosok yang paling ditakuti pemerintah kolonial Belanda karena kepiawaiannya menggerakkan rakyat, memimpin perang gerilya, serta mempertahankan wilayah Banjar dari upaya penjajahan. Namanya abadi sebagai pemimpin perlawanan yang sulit ditaklukkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Konflik Banjar dengan Belanda

Hubungan Kesultanan Banjar dengan Belanda bermula pada awal abad ke-17 ketika wilayah Banjar dikenal sebagai penghasil lada dan batu bara yang bernilai tinggi. Kekayaan alam ini menarik perhatian Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk menjalin hubungan dagang sekaligus memperluas pengaruh di Kalimantan Selatan.

Pada 14 Februari 1606, armada dagang VOC yang dipimpin Gillis Michielsz datang ke Banjarmasin atas perintah pejabat VOC, J.W. Verschoor. Namun hubungan dagang itu tidak berlangsung baik.

Sejumlah awak kapal VOC yang turun ke darat melakukan tindakan yang menyinggung masyarakat Banjar hingga memicu bentrokan. Seluruh awak kapal yang berada di darat kemudian dibunuh oleh penduduk setempat.

Peristiwa tersebut dibalas VOC dengan mengirim armada perang ke Banjarmasin. Belanda membakar kawasan bandar, kapal-kapal dagang, dan kompleks Keraton Banjar yang berada di tepi sungai. Sejak saat itu, sentimen anti-Belanda tumbuh kuat di kalangan masyarakat Banjar dan terus bertahan selama berabad-abad.

Konflik semakin memanas ketika Belanda mulai menerapkan politik divide et impera (adu domba) dengan ikut campur dalam urusan pemerintahan Kesultanan Banjar. Puncaknya terjadi setelah wafatnya Sultan Adam pada 1 November 1857.

Meski surat wasiat Sultan Adam menetapkan Pangeran Hidayatullah sebagai penerus takhta, Belanda justru mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi sultan secara sepihak. Kebijakan ini memicu kemarahan para bangsawan maupun rakyat Banjar dan menjadi salah satu penyebab utama pecahnya Perang Banjar pada 1859.

Demang Lehman, Panglima Kepercayaan Pangeran Hidayatullah

Di tengah situasi politik yang memanas, muncul sosok Demang Lehman dari Martapura. Dirinya dikenal sebagai panakawan atau pengawal sekaligus orang kepercayaan Pangeran Hidayatullah yang lahir pada 1832. Karena kesetiaan, kecakapan, dan kepemimpinannya, Pangeran Hidayatullah kemudian mengangkat Demang Lehman sebagai Kepala Distrik di wilayah Riam Kanan.

Ketika Perang Banjar pecah pada 1859, Demang Lehman segera menjadi salah satu panglima utama yang memimpin perlawanan rakyat bersama Kiai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin. Wilayah perjuangannya ada di daerah Martapura, Tanah Laut, hingga daerah-daerah strategis lain yang menjadi jalur pertahanan Kesultanan Banjar.

Sebagai panglima perang, Demang Lehman tidak hanya mengatur strategi militer, tetapi juga menggalang kekuatan masyarakat Banjar dari berbagai kampung. Kemampuannya mengorganisasi rakyat membuat Belanda kesulitan menguasai wilayah pedalaman Kalimantan Selatan.

Menggempur Benteng-benteng Belanda di Kalimantan Selatan

Salah satu operasi militer terbesar yang dipimpin Demang Lehman terjadi pada 30 Agustus 1859. Saat itu ia membawa sekitar 3.000 pasukan menyerang Keraton Bumi Selamat. Serangan mendadak yang dilancarkan itu sempat membuat pasukan Belanda terkejut dan hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Nahas, operasi itu belum berhasil karena Belanda sedang menggelar inspeksi senjata sehingga memiliki kekuatan yang cukup besar untuk bertahan.

Beberapa waktu kemudian, Demang Lehman kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam mempertahankan Benteng Tabanio yang telah direbut dari Belanda. Pemerintah kolonial mengirim kapal perang Bone beserta pasukan di bawah Letnan Laut Cronental untuk merebut benteng tersebut. Serangan pertama justru berakhir dengan kekalahan Belanda setelah sembilan tentaranya tewas di medan perang.

Belanda kemudian melancarkan serangan kedua dengan dukungan meriam dari kapal perang dan pasukan darat. Meski akhirnya Benteng Tabanio jatuh, Demang Lehman bersama Kiai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin menarik seluruh pasukannya.

Perang Sabil dan Sumpah Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing

Setelah mundur dari Tabanio, Demang Lehman memusatkan pertahanan di Benteng Gunung Lawak, sebuah benteng di atas bukit yang dipersenjatai meriam. Pada 27 September 1859, benteng tersebut menjadi lokasi pertempuran sengit antara pasukan Banjar dan Belanda. Lebih dari 100 pejuang gugur saat mempertahankan benteng, tetapi kekalahan itu tidak memadamkan semangat juang para pejuang Banjar.

Bagi Demang Lehman dan pasukannya, perang melawan penjajah merupakan perang sabil. Mereka meyakini bahwa gugur di medan perang berarti syahid sehingga perjuangan harus diteruskan apa pun risikonya. Keyakinan ini yang membuat perlawanan rakyat Banjar tetap berlangsung meski Belanda terus menambah kekuatan militernya.

Pada September 1859, Demang Lehman bersama Pangeran Muhammad Aminullah dan Tumenggung Jalil menggelar pertemuan di Kandangan. Dalam musyawarah tersebut mereka sepakat menolak seluruh tawaran perundingan Belanda dan mengucapkan tekad Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing yang bermakna pantang menyerah hingga akhir perjuangan.

Semangat itu membuat Demang Lehman bahkan menyusupkan dua orang kepercayaannya ke dalam benteng sebagai pekerja untuk mengumpulkan informasi. Saat serangan dilancarkan pada 31 Maret 1860, kedua penyusup tersebut mengacaukan pertahanan Belanda dari dalam.

Walaupun akhirnya pasukan Banjar harus mundur akibat datangnya bala bantuan Belanda, mereka masih mampu menewaskan komandan Belanda Van Dam van Isselt dalam pertempuran berikutnya di sekitar Tabihi.

Menolak Berdamai dan Terus Memimpin Perlawanan

Perlawanan Demang Lehman berlanjut sampai ke wilayah Barabai untuk membantu pertahanan Pangeran Hidayatullah. Belanda mengerahkan ratusan serdadu, kapal perang Suriname, Bone, Bennet, serta sejumlah kapal kecil guna menghancurkan basis pertahanan pejuang Banjar.

Karena sulit mengalahkannya di medan perang, pemerintah kolonial berusaha menghentikan perjuangan melalui jalur diplomasi. Demang Lehman ditawari jaminan hidup, tempat tinggal, bahkan juga diminta mengajak rakyat kembali tunduk kepada pemerintah kolonial. Namun seluruh tawaran tersebut ditolaknya mentah-mentah. Demang Lehman punya prinsip hanya akan berhenti apabila Pangeran Hidayatullah dikembalikan sebagai Sultan Banjar.

Demang Lehman bahkan bersedia menjadi penghubung dalam proses perundingan dengan syarat Belanda memenuhi tuntutan tersebut. Namun kenyataannya, pemerintah kolonial justru menggunakan perundingan sebagai bagian dari strategi untuk melemahkan perjuangan rakyat Banjar.

Berbagai tipu muslihat berujung pada ditangkap dan diasingkannya Pangeran Hidayatullah, dan berimbas pada perlawanan terhadap Belanda yang kembali menyala di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Perjuangan Demang Lehman pun belum berakhir.

Setelah menyadari tipu daya Belanda, dirinya kembali menghimpun kekuatan rakyat dan melanjutkan perlawanan secara gerilya di pedalaman Banjar. Kisah mengenai penangkapan hingga akhir hayatnya kemudian akan detikKalimantan bahas dalam bab tersendiri dalam sejarah panjang perjuangan Demang Lehman melawan kolonialisme.

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Menyusun Hidangan Tradisional Mahumbal dan Mamalan di Kalimantan Selatan"
[Gambas:Video 20detik] (sun/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads