Tradisi Maneweng, Manetek, dan Manyila Kayu Suku Dayak

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 06 Jul 2026 08:01 WIB
Foto: Lomba maneweng, manetek, manyila kayu di Festival Budaya Isen Mulang Kalteng. (dok MMC Kalteng)
Palangka Raya -

Suku Dayak di Pulau Kalimantan memiliki ikatan spiritual yang kuat dengan hutan, yang tercermin dalam tradisi maneweng, manetek, dan manyila kayu. Ketiga praktik tradisional ini merujuk pada tata cara pemanfaatan pohon secara bijak yang telah diwariskan oleh leluhur mereka secara turun-temurun.

Bagi masyarakat adat tersebut, kawasan hutan bukanlah sekadar hamparan sumber daya alam yang bisa dieksploitasi sesuka hati demi keuntungan sesaat. Hutan justru diyakini sebagai urat nadi kehidupan bersama yang keseimbangan ekosistemnya harus selalu dijaga dan dihormati.

Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang bersumber dari alam tidak pernah terlepas dari prinsip dasar kelestarian lingkungan. Filosofi lestari yang mengakar kuat inilah yang membuat praktik mengolah kayu tersebut tetap relevan dan terus dihidupkan oleh generasi Dayak masa kini.

Apa Itu Maneweng, Manetek, dan Manyila?

Dalam khazanah budaya Dayak, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), maneweng berarti menebang, manetek berarti memotong, dan manyila bermakna membelah kayu. Ketiga kegiatan tersebut merupakan proses yang berurutan.

Dikutip dari situs Multi Media Center Provinsi Kalteng, kegiatan ini merupakan bentuk pemanfaatan hasil hutan secara tradisional yang mengandalkan peralatan kuno dan sederhana. Berbagai alat yang digunakan meliputi beliung, pisau ambang batangking, dan wadah pengangkut rotan yang disebut keba atau rambat.

Lebih dari sekadar aktivitas memotong pepohonan, masyarakat Dayak juga menerapkan keberlanjutan fungsi hutan. Oleh karena itu, masyarakat Dayak selalu memprioritaskan unsur keselamatan, penghormatan, dan kedisiplinan alam saat mempraktikkannya.

Proses manetek kayu. Foto: dok MMC Kalteng

Pelestarian Tradisi Lewat Perlombaan

Untuk menjaga agar tradisi ini tidak lekang oleh zaman, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memberikan ruang khusus melalui sebuah perayaan daerah. Mereka secara rutin melombakan praktik maneweng, manetek, dan manyila kayu ini dalam perhelatan tahunan Festival Budaya Isen Mulang.

Lomba yang menguji keterampilan fisik ini menuntut ketangkasan serta kepatuhan penuh pada pakem adat tradisional dari setiap pesertanya. Setiap regu peserta pria, yang biasanya terdiri dari tiga orang, akan diberi sebatang kayu berukuran diameter 30-40 cm dan panjang 2,5 meter.

Mereka harus menebang kayu dengan arah rebah yang presisi, memotongnya menjadi dua, lalu membelahnya secara rapi menjadi 16 bilah dalam waktu 15 hingga 16 menit. Selain beradu kecepatan waktu, dewan juri juga sangat memperhatikan kesempurnaan teknik, kerapian belahan, hingga kepatuhan regu untuk tidak menggeser posisi tebangan.

Proses manyila kayu. Foto: dok MMC Kalteng




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork