Kuda Gipang: Tarian Rakyat Banjar yang Unik dan Melegenda

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Kamis, 18 Jun 2026 08:00 WIB
Tari kuda gipang dari Kalsel. Foto: dok YouTube Taman Budaya Kalimantan Selatan
Banjarmasin -

Tari kuda gipang merupakan seni pertunjukan tradisional dari masyarakat Banjar yang memancarkan pesona warisan budaya Nusantara. Jika di Jawa ada kuda lumping, di Banjar ada kuda gipang dengan bentuk berbeda.

Kesenian ini lahir dari wilayah Desa Pangabuan, Kecamatan Haruyan. Seiring berjalannya waktu, persebaran tarian tersebut meluas ke berbagai daerah seperti Desa Bihara, Paringin, Amuntai, dan Kota Banjarmasin.

Kesenian ini hingga kini masih lestari, meskipun berkurang digerus zaman. Untuk mengenal apa itu tarian kuda gipang, simak penjelasannya mulai dari sejarah, perbedaan dengan kuda lumping, properti, musik, hingga gerakannya.

Sejarah dan Legenda Kuda Gipang

Dikutip dari buku Warisan Budaya Takbenda Indonesia Penetapan Tahun 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, asal mula tarian ini sangat erat kaitannya dengan riwayat Lambung Mangkurat yang berlayar dengan kapal Prabayaksa menuju Kerajaan Majapahit.

Usai seminggu bertemu Raja Majapahit lewat perantara Gajah Mada, ia pamit pulang ke Negara Dipa sambil membawa hadiah seekor kuda putih nan gagah. Insiden mengejutkan lantas terjadi saat Tumenggung Tatah Jiwa menyarankan sang tokoh untuk mencoba menunggangi kuda pemberian itu. Secara tak terduga, kuda tersebut tiba-tiba menjadi lumpuh usai tiga kali dicoba untuk dinaiki oleh Lambung Mangkurat.

Berbekal kesaktiannya, Lambung Mangkurat akhirnya mengepit kuda lumpuh itu di ketiaknya saat naik ke kapal Prabayaksa hingga tiba kembali di Banjar. Peristiwa legendaris kepulangan sang tokoh inilah yang dipercaya menjadi akar tradisi mengapa properti kuda gipang selalu dimainkan dengan cara dijepit.

Tari kuda gipang dari Kalsel. Foto: dok YouTube Taman Budaya Kalimantan Selatan

Perbedaan dengan Kuda Lumping

Secara kasat mata, kesenian asal Kalimantan Selatan ini memang memiliki sedikit kemiripan dengan pertunjukan kuda lumping atau kuda kepang di Pulau Jawa. Walaupun begitu, kedua tarian ini justru mempunyai gaya permainan yang amat berbeda jika diperhatikan secara lebih saksama.

Pada kuda lumping, properti dimainkan dengan cara ditunggangi selayaknya menaiki punggung kuda sungguhan. Sebaliknya, kuda gipang hanya dikepit pada bagian ketiak sembari penarinya menggenggam seutas cemeti pemukul.

Tari kuda gipang juga secara konsisten menampilkan formasi barisan yang gagah dan berwibawa layaknya pasukan pengawal raja. Hal ini berbeda dengan tarian kuda lumping yang sering kali sengaja menampilkan atraksi mistis atau momen kesurupan para penarinya.




(bai/sun)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork