- Tarian Jawa Timur yang Masuk WBTB Indonesia 1. Gandrung Banyuwangi (Banyuwangi, 2013) 2. Reog Ponorogo (Ponorogo, 2013) 3. Tari Seblang (Banyuwangi, 2014) 4. Wayang Topeng Malang (Malang, 2014) 5. Jaran Bodhag (Kota Probolinggo, 2014) 6. Dongrek (Kabupaten Madiun, 2014) 7. Ronteg Singo Ulung (Bondowoso, 2015) 8. Jaran Kencak (Lumajang, 2016) 9. Sandur Manduro (Jombang, 2017) 10. Janger (Banyuwangi, 2018) 11. Reog Cemandi (Sidoarjo, 2018) 12. Sandur (Bojonegoro dan Tuban, 2018) 13. Tari Glipang (Kabupaten Probolinggo, 2019) 14. Ojung (Bondowoso, 2019) 15. Tayub (Lamongan, 2020) 16. Tari Muang Sangkal (Madura, 2020) 17. Tari Remo (Kota Surabaya, 2011) 18. Tari Beskalan (Kabupaten Malang, 2019) 19. Tari Topeng Malang (Kabupaten Malang, 2015) 20. Tari Topeng Tengger (Kabupaten Probolinggo, 2016) 21. Tari Pecut (Ponorogo, 2019) 22. Tari Glundhangan (Blitar, 2020) 23. Tari Thengul (Bojonegoro, 2017) 24. Tari Topeng Loreng (Trenggalek, 2021) 25. Tari Thengul Putri (Bojonegoro, 2019) 26. Tari Gambu (Madura, 2017) 27. Tari Goyang Karawang (Sidoarjo, 2019) 28. Tari Padang Wulan (Kabupaten Kediri, 2020) 29. Tari Serimpi Suroloyo (Kabupaten Blitar, 2021) 30. Tari Trunajaya (Madura, 2019) 31. Tari Waranggana (Lumajang, 2021) 32. Tari Ngremo Lor 33. Tari Boranan (Lamongan, 2019) 34. Tari Sekar Kawi (Kabupaten Pasuruan, 2020) 35. Tari Kemuning (Jember, 2021)
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan budaya melimpah. Beragam tradisi masih terjaga hingga kini, termasuk seni tari tradisional yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Tari tradisional tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi menyimpan nilai adat, pesan moral, jejak sejarah yang diwariskan turun-temurun, hingga menjadi identitas masyarakatnya. Setiap gerakan dan irama dalam tarian memiliki makna tersendiri, sekaligus mencerminkan keragaman budaya dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Tarian Jawa Timur yang Masuk WBTB Indonesia
35 tarian khas Jawa Timur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi sebagai bentuk pelestarian budaya bangsa. Berikut daftar lengkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tarian Jawa Timur yang Mendunia |
1. Gandrung Banyuwangi (Banyuwangi, 2013)
Tari Gandrung merupakan kesenian khas Banyuwangi yang menjadi simbol kegembiraan dan keramahan masyarakat Using. Tarian ini berkembang dari tradisi lama dan mulai populer sejak akhir abad ke-19, kemudian dikenal luas sebagai ikon budaya Banyuwangi.
Gandrung dibawakan penari perempuan dengan busana berwarna cerah, mahkota omprok, serta selendang khas. Gerakannya lincah, anggun, dan ekspresif, diiringi musik tradisional seperti kendang, gong, biola, serta tembang berbahasa Using.
Selain sebagai hiburan rakyat, Tari Gandrung juga menjadi lambang identitas budaya Banyuwangi yang terus dilestarikan melalui pertunjukan, festival, dan berbagai acara resmi.
2. Reog Ponorogo (Ponorogo, 2013)
Reog Ponorogo menampilkan gerakan akrobatik dinamis, diiringi gendang, gong, dan kendang, dengan narasi mitos tentang perjuangan melawan tirani yang melambangkan keberanian dan spiritualitas masyarakat Jawa Timur.
Penari utama mengenakan mahkota bulu merak berat hingga 50 kg, sementara barong melambangkan kekuatan mistis, sering ditampilkan dalam festival seperti Grebeg Suro untuk ritual tolak bala.
Pertunjukan ini mencerminkan sinkretisme budaya Hindu-Jawa-Islam, dengan durasi hingga berjam-jam, dan menjadi simbol identitas lokal Ponorogo yang kaya akan nilai gotong royong dan ketahanan budaya.
Kemdikbudristek telah lebih dahulu menetapkan Reog Ponorogo sebagai WBTB Indonesia dalam domain seni pertunjukan, sebagai bagian dari upaya pendokumentasian budaya nasional yang dilakukan sejak 2013-2024.
Penetapan Reog Ponorogo sebagai WBTB Nasional menjadi salah satu tahapan penting sebelum diajukan ke UNESCO, dengan proses pengajuan yang berlangsung dalam rentang pra-UNESCO sekitar 2023-2024.
Selanjutnya, pada 3 Desember 2024, UNESCO menetapkan Reog Ponorogo sebagai WBTB Dunia. Reog masuk dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding, dan menjadi WBTB Indonesia ke-14 yang diakui UNESCO, menegaskan urgensi pelestarian di tengah tantangan modernisasi.
3. Tari Seblang (Banyuwangi, 2014)
Dilansir buku "Gandrung Banyuwangi", Tari Seblang merupakan kesenian ritual kuno masyarakat Banyuwangi yang hingga kini masih lestari di beberapa desa, seperti Olehsari dan Bakungan.
Tarian ini dipercaya sebagai warisan leluhur yang memiliki kaitan erat dengan tradisi spiritual masyarakat Using. Seblang biasanya digelar dalam rangka upacara bersih desa, tolak bala, serta ungkapan syukur agar masyarakat diberi keselamatan dan kesejahteraan.
Dalam pertunjukannya, penari Seblang menari dalam keadaan trance atau kesurupan yang dipandu seorang pawang. Penari biasanya mengenakan busana khas sederhana, dilengkapi mahkota dari daun pisang muda, rangkaian bunga-bungaan, serta selendang.
Gerakan tari berlangsung perlahan namun sarat makna, diiringi musik tradisional dan nyanyian khas yang menciptakan suasana sakral. Selain sebagai pertunjukan seni, Tari Seblang memiliki nilai budaya yang tinggi karena menjadi simbol hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi ini mencerminkan kuatnya kepercayaan masyarakat Banyuwangi dalam menjaga warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, Tari Seblang tetap menjadi salah satu identitas penting budaya, sekaligus daya tarik wisata budaya.
4. Wayang Topeng Malang (Malang, 2014)
Wayang Topeng Malangan merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional asli Kabupaten Malang. Seni pertunjukan ini menjadi simbol budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai sejarah, filosofis, dan estetika.
Tarian ini telah diresmikan menjadi WBTB Nasional sejak tahun 2014. Wayang Topeng Malang juga merupakan bagian dari "Wayang Indonesia" yang diakui UNESCO sejak 2008.
Mengulas dari laman resmi topengmalangan, ciri khas dari pertunjukan seni ini terletak pada aspek spiritualnya yang menciptakan kesan sakral. Sebelum tampil, para penari diwajibkan mandi, mengenakan pakaian bersih, serta menjaga fokus dengan menghindari percakapan atau kebiasaan yang dapat mengganggu konsentrasi.
Tak sampai di situ, pertunjukan Wayang Topeng Malang diiringi dengan ritual sesaji, sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan dan leluhur, serta permohonan akan kelancaran selama pertunjukan.
5. Jaran Bodhag (Kota Probolinggo, 2014)
Dilansir dari laman resmi Kelurahan Kebonsari Kulon Probolinggo, Jaran Bodhag merupakan kesenian turunan dari Jaran Kencak, namun menggunakan kuda tiruan dari rotan dan kayu berbentuk kepala kuda.
Kesenian ini dipentaskan dalam arak-arakan dengan iringan musik kenong telo dan sronen khas Madura. Para pemain mengenakan kostum gemerlap untuk menarik perhatian penonton. Jaran Bodhag ditetapkan sebagai WBTB Indonesia pada 17 Oktober 2014.
6. Dongrek (Kabupaten Madiun, 2014)
Melansir Disperpusip, Dongkrek adalah kesenian tradisional asal Mejayan, Madiun (kini Caruban), yang memadukan musik dan tari. Nama Dongkrek berasal dari bunyi alat musik bedug "dung" dan alat korek "krek". Kesenian ini menceritakan Tumenggung Prawirodipuro yang mengusir roh jahat demi melindungi rakyat.
Dalam pertunjukannya, Dongkrek menampilkan tokoh orang sakti, Roro Ayu, serta buto atau raksasa. Para penari memakai berbagai topeng yang melambangkan sifat baik dan buruk manusia. Iringannya menggunakan alat musik seperti korek, gong, kentongan, kenong, dan bedug.
Kini Dongkrek berkembang menjadi dua bentuk, yaitu arak-arakan ritual pada Bulan Suro sebagai tolak bala dan drama tari sebagai hiburan. Kesenian ini sempat dilarang pada masa penjajahan, lalu dihidupkan kembali pada tahun 1973 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Madiun.
7. Ronteg Singo Ulung (Bondowoso, 2015)
Singo Ulung adalah tokoh legendaris dari Bondowoso yang diyakini menguasai wilayah Desa Blimbing, Klabang. Ia disebut berasal dari kawasan Mataraman dan memiliki kesaktian berubah wujud menjadi singa atau harimau putih.
Kisahnya berpusat pada pertarungan melawan Juk Jasiman, penguasa setempat asal Madura, yang berlangsung sengit hingga 41 hari. Setelah kalah, Juk Jasiman kemudian menjadi pengikut Singo Ulung dan bersama-sama menyebarkan Islam di wilayah tersebut.
Legenda ini kemudian diwujudkan dalam seni pertunjukan Ronteg Singo Ulung, tarian massal khas Bondowoso yang rutin ditampilkan pada hari jadi kabupaten dan acara resmi lainnya. Di Desa Blimbing, juga masih digelar ritual tahunan Ghadisah sebagai ruwat desa.
Tarian khas Bondowoso ini telah ditetapkan menjadi WBTB Nasional sejak tahun 2015, dan menjadi salah satu Culture Site Ijen Geopark yang telah mendapat pengakuan UNESCO Global Geopark pada 2023.
8. Jaran Kencak (Lumajang, 2016)
Jaran Kencak adalah tarian tradisional khas Lumajang yang resmi ditetapkan sebagai WBTB Nasional pada 2016. Kesenian ini merepresentasikan kegagahan seekor kuda yang dilatih untuk tampil tangkas dan berwibawa di hadapan masyarakat.
Pertunjukan Jaran Kencak umumnya hadir dalam upacara adat maupun perayaan penting. Gerakan tari menampilkan sosok kuda yang anggun sekaligus perkasa, dengan iringan musik gamelan yang berirama semarak dan enerjik.
9. Sandur Manduro (Jombang, 2017)
Dilansir dari Balai Bahasa Jatim, Sandur Manduro adalah kesenian tradisional khas Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, yang memadukan budaya Jawa dan Madura. Kesenian ini menjadi identitas masyarakat setempat dan diwariskan turun-temurun sebagai hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya.
Asalnya berkaitan dengan kedatangan masyarakat Madura ke Desa Manduro pada abad ke-18 hingga ke-19. Tradisi seni yang mereka bawa kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa dan melahirkan Sandur Manduro.
Pertunjukannya menampilkan tari, musik, dan teater dengan bahasa Madura serta cerita legenda, sejarah, hingga kehidupan sehari-hari yang sarat pesan moral. Iringan musik menggunakan alat sederhana dari bambu seperti kendang, trompet bambu, dan gong tiup.
Para pemain memakai topeng serta kostum tokoh tertentu, sementara dialognya sering diselingi humor sehingga pertunjukan terasa meriah dan dekat dengan masyarakat. Tarian ini ditetapkan menjadi WBTB Nasional pada 2017.
10. Janger (Banyuwangi, 2018)
Melansir jurnal "Janger Banyuwangi: Kreasi dan Inovasi Tradisi Lisan ke Pertunjukan" oleh Novi Anoegrajekti dkk, tari ini menjadi WBTB Nasional sejak tahun 2018. Janger Banyuwangi adalah kesenian teater rakyat yang berdiri sejak tahun 1918, dan pada awalnya bernama Damarwulan.
Kesenian ini diciptakan sebagai hiburan masyarakat dengan mengangkat kisah tokoh Damarwulan dari era Majapahit, mulai dari perjalanan hidupnya hingga menjadi raja setelah mengalahkan Menakjinggo. Pada masa awal, pertunjukan digelar setiap malam bulan purnama dengan panggung sederhana serta rias tradisional.
Dalam pementasannya, Janger memadukan berbagai unsur budaya seperti tari, musik, kostum Bali, tembang dan lawakan berbahasa Using, serta dialog berbahasa Jawa agar mudah dipahami penonton yang lebih luas.
Selain kisah Majapahit, lakon yang dibawakan terus berkembang mencakup cerita rakyat seperti Calonarang, Sri Tanjung, Pangeran Banterang, hingga kisah sejarah nasional. Seiring waktu, Janger terus berinovasi agar tetap diminati masyarakat.
Kini pertunjukannya lebih banyak menampilkan tari dan lagu daerah populer sesuai permintaan penonton. Beberapa grup juga menghadirkan penyanyi tamu dan memberi kesempatan penonton ikut berjoget di panggung, sehingga tetap hidup sebagai seni tradisi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
11. Reog Cemandi (Sidoarjo, 2018)
Melansir Kemendikbudristek, Reog Cemandi adalah kesenian tradisional khas Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, yang berbeda dari Reog Ponorogo karena tidak memakai dhadhak merak.
Pertunjukan ini mengandalkan kendang, angklung, serta dua penari bertopeng Barongan Lanang dan Barongan Wadon, yang menari sambil berjalan mengikuti irama musik sederhana. Kesenian ini diyakini bermula sekitar 1917 dari Abdul Katimin.
Ia adalah seorang santri yang menggunakan pertunjukan kendang dan topeng sebagai media dakwah Islam. Pada masa penjajahan Belanda, Reog Cemandi juga digunakan sebagai siasat warga untuk mengusir tentara kolonial yang datang memungut pajak. Sejak 1922, kesenian ini dikenal dengan nama Reog Cemandi.
Kini Reog Cemandi rutin dipentaskan saat tradisi bersih desa, hajatan, sunatan, hingga festival budaya. Selain sebagai hiburan, masyarakat meyakini kesenian ini memiliki makna penolak bala dan pengingat agar selalu ingat kepada Tuhan.
Hingga sekarang, Reog Cemandi terus diwariskan sampai generasi keenam dengan inovasi baru tanpa meninggalkan keasliannya. Tarian ini juga menjadi WBTB Nasional yang ditetapkan pada 2018.
12. Sandur (Bojonegoro dan Tuban, 2018)
Sandur merupakan pertunjukan rakyat yang telah menjadi tradisi turun-temurun di Bojonegoro dan Tuban. Sandur biasanya menampilkan cerita yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat, disertai dengan nyanyian dan musik tradisional.
13. Tari Glipang (Kabupaten Probolinggo, 2019)
Dilansir Disperpusip Jatim, Kesenian Glipang adalah seni pertunjukan tradisional khas Desa Pendil, Kabupaten Probolinggo, yang berkembang dari budaya masyarakat Madura beragama Islam sejak sekitar tahun 1912.
Awalnya berupa gerakan silat, lalu berkembang menjadi tarian, terutama Tari Kiprah Glipang yang menggambarkan pemuda pribumi gagah berani dan ahli bela diri. Pada masa selanjutnya, Glipang menjadi hiburan rakyat sekaligus media dakwah Islam.
Lagu-lagu yang dibawakan berisi ajaran rukun Islam, rukun iman, selawat, serta pesan kebajikan. Pertunjukannya diawali musik Glipang untuk mengundang penonton, disusul nyanyian dan tarian yang energik.
Glipang memiliki beberapa tarian khas seperti Kiprah Glipang, Baris Glipang, Papakan, dan Teri. Gerakannya memadukan unsur silat, tari saman, dan Topeng Getak, sehingga tampil dinamis, tegas, dan penuh semangat kepahlawanan. Kesenian ini pernah sangat populer hingga ke Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
14. Ojung (Bondowoso, 2019)
Ojung adalah tradisi khas Bondowoso, duel dua laki-laki yang saling mencambuk punggung menggunakan rotan. Tradisi ini dilakukan di lapangan terbuka, dipimpin wasit, dan sering diiringi gamelan serta kidung tradisional. Meski terlihat keras, permainan ini tanpa dendam, penuh sportivitas, lalu diakhiri saling bermaafan.
Tari ini biasanya digelar saat musim kemarau panjang karena dipercaya dapat mendatangkan hujan. Darah dari bekas cambukan diyakini menjadi pertanda hujan akan segera turun. Tradisi ini juga dikenal di sejumlah daerah Tapal Kuda seperti Situbondo, Jember, Lumajang, dan Probolinggo.
Kini Ojung tetap dilestarikan sebagai warisan budaya hingga ditetapkan menjadi WBTB Nasional sejak 2019. Pelestarian juga dilakukan melalui pertunjukan tari Ojung massal di Bondowoso tahun 2024 yang pernah mencatat rekor MURI dengan melibatkan lebih dari seribu pelajar.
15. Tayub (Lamongan, 2020)
Tari Tayub merupakan tarian pergaulan yang kerap dipentaskan dalam berbagai hajatan penting seperti pernikahan, syukuran, maupun acara masyarakat lainnya. Tarian ini umumnya dibawakan penari perempuan yang tampil luwes dan komunikatif.
Dalam pertunjukannya, penari akan mengajak tamu untuk ikut menari bersama sebagai lambang keakraban, kerukunan, dan kebersamaan. Kesenian khas Lamongan ini telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional pada 2020.
16. Tari Muang Sangkal (Madura, 2020)
Dilansir Kemendikdasmen, Tari Muang Sangkal merupakan tarian khas ikon Sumenep. Nama tarian ini berarti membuang bala atau petaka sehingga kerap dimaknai sebagai doa untuk menolak kesialan dan memohon keselamatan. Kesenian ini lahir dari tradisi Keraton Sumenep dan diciptakan maestro Taufiqqurachan pada 1962.
Gerak Tari Muang Sangkal terinspirasi dari Tayub yang dibakukan, dipadukan gaya tari keraton bercorak Yogyakarta, serta ciri khas Keraton Suemnep. Penarinya harus berjumlah ganjil, terdiri dari gadis-gadis remaja, mengenakan busana dodot legha, serta membawa mangkuk kuningan berisi beras kuning dan bunga.
Awalnya, tari ini bersifat sakral dan hanya dipentaskan di lingkungan keraton sebagai ritual tolak bala. Seiring perkembangan zaman, tarian ini juga hadir sebagai hiburan masyarakat dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, dan berbagai hajatan lainnya.
17. Tari Remo (Kota Surabaya, 2011)
Dilansir Repository Universitas Airlangga, Tari Remo memiliki filosofi dan karakteristik heroik layaknya seorang pejuang dalam peperangan. Tari ini sendiri merupakan tarian yang gagah serta memiliki gaya busana ningrat.
Berdasarkan filosofi, karakteristik, sikap, sifat, serta eksistensi, Tari Remo yang sudah ada sejak zaman kolonialisme semakin mempertebal julukan Kota Pahlawan, bahkan menjadi salah satu ikon yang hingga kini melekat dalam identitas Kota Surabaya.
Pada 2011, tarian ini ditetapkan menjadi WBTB Nasional. Hingga saat ini, Tari Remo banyak sekali diperbarui oleh seniman-seniman muda hingga berkembang dengan sangat pesat.
18. Tari Beskalan (Kabupaten Malang, 2019)
Dilansir Balai Bahasa Jawa Timur, Tari Beskalan merupakan tarian khas Malang yang kaya akan nilai sejarah. Awalnya, tarian ini digunakan dalam ritual sakral saat membuka lahan pertanian, mendirikan bangunan baru, serta menjadi bagian penting dalam upacara bersih desa sebagai ungkapan syukur.
Tari Beskalan biasanya dibawakan oleh empat penari perempuan dengan gerakan luwes, lincah, dan dinamis. Geraknya memiliki kemiripan dengan Tari Remo, namun menonjolkan sisi kelembutan dan keanggunan perempuan. Pertunjukan ini diiringi kendang, jidor, gamelan Jawa, dan laras slendro khas Jawa Timur.
Kini, Tari Beskalan berkembang tidak hanya sebagai tarian ritual, tetapi menjadi tarian penyambutan tamu, pengisi festival budaya, hingga pembuka pertunjukan Ludruk. Tari Beskalan ditetapkan sebagai WBTB Nasional pada 2023.
19. Tari Topeng Malang (Kabupaten Malang, 2015)
Tari Topeng Malang merupakan bagian dari seni pertunjukan Wayang Topeng Malang yang menjadi warisan budaya khas Malang. Dalam pementasannya, setiap penari mengenakan topeng dengan bentuk dan warna berbeda sebagai lambang karakter, sifat, serta emosi tokoh yang diperankan.
Tarian ini biasanya mengangkat kisah rakyat maupun cerita klasik yang berkaitan dengan epos Ramayana dan Mahabharata. Gerakannya ekspresif, tegas, dan penuh energi sehingga mampu menggambarkan alur cerita dengan kuat.
20. Tari Topeng Tengger (Kabupaten Probolinggo, 2016)
Tari Topeng Tengger merupakan tarian khas Suku Tengger di kawasan lereng Gunung Bromo yang ditetapkan sebagai WBTB Nasional pada 2016. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat Tengger yang masih kuat memegang adat istiadat serta penghormatan kepada leluhur.
Dalam pementasannya, penari mengenakan topeng yang memiliki makna berbeda sesuai tokoh yang diperankan. Gerakan tari mengalir dan mengikuti alur cerita yang disampaikan sehingga sarat nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Tengger.
21. Tari Pecut (Ponorogo, 2019)
Tari Pecut merupakan tarian tradisional yang menggunakan pecut atau cambuk sebagai properti utama. Tarian ini kerap ditampilkan dalam festival budaya maupun acara adat sebagai atraksi yang menarik perhatian penonton.
Gerakannya enerjik, tegas, dan dinamis, dipadukan dengan suara cambuk yang nyaring. Tari Pecut melambangkan keberanian, semangat, serta kekuatan masyarakat pendukungnya.
22. Tari Glundhangan (Blitar, 2020)
Tari Glundhangan merupakan tarian rakyat khas Blitar yang lahir dari budaya agraris masyarakat setempat. Tarian ini menggambarkan kehidupan pedesaan yang lekat dengan kegiatan bertani dan keseharian warga desa.
Gerakannya mencerminkan semangat kerja, kebersamaan, dan gotong royong masyarakatnya. Pertunjukan Tari Glundhungan biasanya diiringi musik tradisional bernuansa menghentak yang menambah kesan enerjik dan meriah.
23. Tari Thengul (Bojonegoro, 2017)
Dilansir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Bojonegoro, Tari Thengul merupakan tarian khas Kabupaten Bojonegoro yang biasa dipentaskan sebagai tari penyambutan atau tari selamat datang. Tarian ini umumnya dibawakan 5-10 penari perempuan dengan iringan musik gamelan.
Tari Thengul terinspirasi dari Wayang Thengul, seni boneka tradisional khas Bojonegoro. Gerakannya dibuat kaku, namun tetap harmonis, meniru gaya boneka wayang saat dimainkan. Kini, tarian ini menjadi salah satu identitas budaya Bojonegoro, dan sering tampil dalam perayaan maupun festival daerah.
24. Tari Topeng Loreng (Trenggalek, 2021)
Tari Topeng Loreng merupakan tarian perang khas Trenggalek. Penarinya mengenakan topeng bermotif loreng yang melambangkan keberanian, kewaspadaan, dan kesiapan prajurit dalam menjaga wilayah.
Tarian ini menampilkan gerakan heroik, tegas, dan dinamis yang menggambarkan semangat kepahlawanan. Iringan musik tradisional yang menghentak semakin menambah suasana gagah dan penuh energi.
25. Tari Thengul Putri (Bojonegoro, 2019)
Dilansir Pemkab Bojonegoro, Tari Thengul Putri merupakan tarian tradisional khas Bojonegoro yang terinspirasi dari Wayang Thengul. Tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan dengan gerakan patah-patah, ekspresi khas, serta kostum yang menyerupai tokoh wayang.
Tari ini diciptakan sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya menghidupkan kembali kesenian Wayang Thengul yang sempat meredup. Kini, Tari Thengul menjadi ikon budaya Bojonegoro dan telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional.
Popularitasnya semakin meningkat setelah tampil dalam upacara kenegaraan di Istana Negara pada HUT ke-74 RI, serta memecahkan rekor MURI lewat pagelaran ribuan penari. Tari Thengul juga diperkenalkan ke dunia melalui Thengul International Folklore Festival.
26. Tari Gambu (Madura, 2017)
Tari Gambu merupakan tarian tradisional khas Madura yang umumnya dipentaskan dalam upacara adat maupun acara sakral. Tarian ini sarat simbol spiritual yang dipercaya membawa berkah, serta memberi perlindungan dari mara bahaya.
Gerakannya lembut, anggun, dan penuh penghayatan, mencerminkan nilai tradisi masyarakat Madura. Pertunjukan Tari Gambu biasanya diiringi musik khas Madura yang menambah nuansa khidmat dan magis.
27. Tari Goyang Karawang (Sidoarjo, 2019)
Tarian khas Sidoarjo ini menggambarkan kehidupan masyarakat nelayan yang lekat dengan aktivitas di laut.
Gerakannya lincah, dinamis, dan penuh semangat, mencerminkan kegigihan para nelayan saat bekerja mencari nafkah.
Iringan musiknya menghadirkan suasana pesisir yang penuh tantangan, namun tetap menunjukkan keharmonisan dan semangat kebersamaan masyarakat pantai.
28. Tari Padang Wulan (Kabupaten Kediri, 2020)
Tari Padang Wulan merupakan tarian khas Kediri yang terinspirasi dari legenda masyarakat tentang bulan purnama yang dipercaya memiliki kekuatan mistis. Tarian ini menggambarkan pesona, keindahan, dan nuansa misterius cahaya bulan purnama.
Gerakannya lembut dan penuh makna, mencerminkan suasana magis dalam cerita rakyat setempat. Tari Padang Wulan kerap dipentaskan dalam acara adat, perayaan desa, maupun kegiatan budaya.
29. Tari Serimpi Suroloyo (Kabupaten Blitar, 2021)
Tari Serimpi Suroloyo merupakan tarian yang menggambarkan keagungan serta kebesaran Kerajaan Majapahit.
Tarian khas Kabupaten Blitar ini kerap dipentaskan dalam upacara resmi, acara kebesaran, maupun kegiatan budaya bernuansa kerajaan.
Ciri khasnya terletak pada gerakan yang lembut, anggun, dan penuh wibawa, dipadukan dengan kostum megah yang mencerminkan kemuliaan budaya kerajaan.
30. Tari Trunajaya (Madura, 2019)
Tari Trunajaya merupakan tarian bernuansa kepahlawanan dari Madura yang menggambarkan sosok prajurit muda pemberani dan penuh semangat.
Gerakannya tegas, cepat, serta dinamis dengan iringan gamelan yang menghentak, sehingga menampilkan kesan gagah dan energik.
31. Tari Waranggana (Lumajang, 2021)
Tari Waranggana adalah tarian khas Lumajang yang melambangkan kecantikan, kelembutan, dan kehormatan perempuan.
Tarian ini memiliki gerakan lembut dan anggun, serta kerap dipentaskan dalam pernikahan maupun berbagai acara adat.
32. Tari Ngremo Lor
Tari Ngremo Lor merupakan varian tari Remo yang berkembang di wilayah pesisir utara Jawa Timur.
Tarian ini menampilkan semangat, ketangguhan, dan kerja keras masyarakat pesisir, terutama nelayan, melalui gerakan yang tegas dan enerjik.
33. Tari Boranan (Lamongan, 2019)
Tari Boranan berasal dari Lamongan dan terinspirasi dari aktivitas penjual nasi boran, kuliner khas daerah setempat.
Gerakannya menggambarkan kesibukan, kelincahan, dan keceriaan pedagang di pasar tradisional, sehingga kerap ditampilkan dalam acara budaya maupun festival.
34. Tari Sekar Kawi (Kabupaten Pasuruan, 2020)
Tari Sekar Kawi berasal dari Kabupaten Pasuruan dan terinspirasi dari keindahan alam sekitar Gunung Kawi.
Gerakannya halus dan lembut, melambangkan keharmonisan manusia dengan alam, sehingga kerap ditampilkan dalam acara adat maupun festival budaya.
35. Tari Kemuning (Jember, 2021)
Tari Kemuning merupakan tarian khas Jember yang menggambarkan pesona bunga kemuning sebagai simbol kelembutan dan kecantikan.
Tarian ini memiliki gerakan anggun dan gemulai, dilengkapi kostum cerah mencerminkan keindahan bunga. Pengakuan sebagai WBTB Nasional menjadi kebanggaan.
Namun, pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya pada status dan penghargaan semata. Warisan leluhur ini perlu terus dijaga melalui pembelajaran, pementasan, serta mengenalkannya kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.
Sebagai penerus para leluhur, sudah sepatutnya kita ikut merawat dan melestarikan kekayaan budaya tersebut, agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
