Pulau Kalimantan memiliki kekayaan budaya yang berpadu dari berbagai etnis, mulai dari Banjar, Melayu, Dayak, hingga komunitas diaspora seperti Bugis, Madura, dan Jawa. Percampuran budaya ini melahirkan tradisi yang luar biasa, salah satunya dalam menyambut Tahun Baru Islam atau bulan Muharram.
Bagi masyarakat Muslim di Kalimantan, Muharram bukan cuma penanda pergantian kalender Hijriyah. Ini adalah momen untuk menyucikan diri, menolak bala (bencana), dan mempererat persaudaraan. Yuk, intip tradisi-tradisi unik masyarakat Kalimantan di bulan Muharram!
1. Memasak Bubur Asyura
Tanggal 10 Muharram sangat identik dengan tradisi memasak Bubur Asyura secara gotong royong. Suku Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel) punya aturan unik, yakni wajib menggunakan tepat 41 jenis bahan, mulai dari beras, sayuran, umbi, kacang, hingga daging. Angka 41 melambangkan keseimbangan alam.
2. Pawai Obor dan Karnaval
Menyambut malam 1 Muharram, pemandangan jalanan di sejumlah daerah di Kalimantan akan dipenuhi cahaya. Masyarakat turun ke jalan menggelar pawai obor bambu sambil melantunkan selawat dan takbir.
Nyala api obor ini menyimbolkan petunjuk ilahi dan semangat 'hijrah' dari kegelapan menuju jalan yang lebih terang. Di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, juga terdapat Pawai Ta'aruf di mana warga mengarak miniatur Kakbah, unta, hingga Al-Qur'an raksasa.
3. Tajhin Peddhis Ala Madura
Masyarakat Madura yang tinggal di Kalimantan punya cara berbeda membagikan Bubur Asyura, yang mereka sebut Cin-Peddis atau Tajhin Peddhis. Mereka membagikan bubur ini bergiliran selama sebulan penuh selama Muharram.
Dalam Jurnal Farabi Volume 21 Nomor 1 (Juni) 2024, dijelaskan bahwa bubur dimasak bergiliran setiap hari oleh keluarga yang berbeda. Bubur ini juga secara khusus hanya menggunakan tepat 7 macam bahan yang melambangkan sisa perbekalan Nabi Nuh di bahteranya.
(bai/bai)