Niat Puasa 1, 9, dan 10 Muharram Beserta Hikmahnya

Niat Puasa 1, 9, dan 10 Muharram Beserta Hikmahnya

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 03 Jun 2026 12:00 WIB
Ilustrasi puasa di bulan Muharram.
Ilustrasi puasa di bulan Muharram. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, banyak umat Islam mulai mempersiapkan berbagai amalan sunah untuk mengawali tahun dengan ibadah yang lebih baik. Salah satu yang paling dianjurkan adalah puasa di bulan Muharram, mulai puasa 1 Muharram, Tasu'a pada 9 Muharram, hingga Asyura pada 10 Muharram.

Selain memiliki keutamaan yang besar, puasa-puasa tersebut juga dilengkapi dengan bacaan niat yang perlu diketahui sebelum melaksanakannya. Lalu, bagaimana bacaan niat puasa 1, 9, dan 10 Muharram, serta apa saja hikmah yang bisa dipetik dari amalan ini? Simak penjelasannya.

Puasa Muharram, Amalan Istimewa di Awal Tahun Hijriah

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena kedudukannya yang istimewa, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh selama bulan ini, termasuk melaksanakan puasa sunah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam buku "Inilah Alasan Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Sunah" karya H Amirulloh Syarbini dan Hj Iis Nur'aeni Afgandi dijelaskan, puasa Muharram merupakan puasa sunah yang paling utama setelah puasa Ramadhan.

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baiknya puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

ADVERTISEMENT

Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan awal tahun Hijriah untuk memperbanyak puasa sunah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Kapan Puasa 1, 9, dan 10 Muharram 1448 Hijriah?

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa 16 Juni 2026.
Dengan demikian, jadwal puasa sunah Muharram 1448 Hijriah adalah sebagai berikut.

  • Puasa 1 Muharram: Selasa 16 Juni 2026
  • Puasa Tasu'a 9 Muharram: Rabu 24 Juni 2026
  • Puasa Asyura 10 Muharram: Kamis 25 Juni 2026

Perlu diketahui bahwa pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai sejak waktu Magrib. Karena itu, malam 1 Muharram telah dimulai sejak matahari terbenam pada Senin 15 Juni 2026.

Bacaan Niat Puasa Muharram

Selain puasa 1 Muharram, terdapat pula puasa Tasu'a dan Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram karena memiliki keutamaan besar. Sebelum menjalankannya, umat Islam dianjurkan membaca niat puasa Muharram agar ibadah yang dilakukan menjadi lebih sempurna.

1. Niat Puasa 1 Muharram

Berikut niat puasa 1 Muharram atau niat puasa Muharram harian yang dikutip dari buku "Ternyata Shalat & Puasa Sunah dapat Mempercepat Kesuksesan" karya Ceceng Salamudin.

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ω…ΩΨ­ΩŽΨ±Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ Ψ³ΩΩ†Ω‘ΩŽΨ©Ω‹ Ω„ΩΩ„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin: Nawaitu shauma syahri Muharram sunnatal lillaahi ta'aala.

Artinya: Saya niat puasa Muharram sunnah karena Allah ta'Γ’lΓ’.

2. Niat Puasa 9 Muharram (Puasa Tasu'a)

Selain puasa 1 Muharram, terdapat juga puasa sunah lainnya di bulan ini, yaitu puasa Tasu'a pada 9 Muharram. Berdasarkan buku "Lu'lu' al-Mujmi'at" susunan Dr Rajo Bungsu M Pd I, berikut niat puasa 9 Muharram.

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ Ψͺَسُعَاَؑ Ψ³ΩΩ†Ω‘ΩŽΨ©Ω‹ Ω„ΩΩ„Ω‘ΩŽΩΩ‡Ω ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin: Nawaitu shauma tasu'aa sunnatan lillΓ’hi ta'Γ’lΓ’.

Artinya: Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala.

3. Niat Puasa 10 Muharram (Puasa Asyura)

Setelah puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Berikut niat puasa Asyura yang bisa diamalkan.

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ عَاشُورَاَؑ Ψ³ΩΩ†Ω‘ΩŽΨ©Ω‹ Ω„ΩΩ„Ω‘ΩŽΩΩ‡Ω ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰

Arab Latin: Nawaitu shauma 'aasyuraa sunnatan lillΓ’hi ta'Γ’lΓ’.

Artinya: Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.

Keutamaan Puasa Muharram

Puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar. Dilansir dari buku "Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah" karya Reyvan Maulid, salah satu keutamaan puasa di bulan ini adalah puasa Asyura yang dapat menghapus dosa selama setahun.

Secara khusus, puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram disebut mampu menjadi pelebur dosa setahun yang lalu. Keutamaan ini didukung hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Qatadah RA:

"Sungguh Rasulullah SAW pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, kemudian ia menjawab: Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat."

Selain itu, puasa Asyura juga termasuk puasa yang paling utama. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam al-Qurthubi terkait keutamaan puasa di bulan Muharram sebagai berikut.

"Puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena Muharram merupakan awal tahun baru, maka pembukaannya adalah puasa yang merupakan amal paling utama." (Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Dibaj 'Ala Muslim)

Puasa di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar sebagai penghapus dosa, dan sebagai amal utama di awal tahun Hijriah.

Mengapa Puasa Muharram Disebut Puasa Terbaik Setelah Ramadhan?

Dikutip dari buku "Kedahsyatan Puasa" karya Syukron Maksum, para ulama menjelaskan bahwa puasa Muharram memiliki kedudukan istimewa karena dilakukan pada bulan yang disebut Rasulullah SAW sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.

Imam al-Qurthubi sebagaimana dikutip Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Dibaj 'Ala Muslim menjelaskan puasa Muharram menjadi sangat utama karena dilakukan pada awal tahun Hijriah, sehingga menjadi pembuka tahun dengan amal ibadah yang terbaik.

Mengapa Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Tasu'a dan Asyura?

Puasa Tasu'a 9 Muharram dan Puasa Asyura 10 Muharram termasuk amalan sunah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Anjuran ini bukan tanpa alasan.

Di balik pelaksanaannya, terdapat nilai sejarah, syariat, hingga hikmah spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Berikut beberapa alasan mengapa Rasulullah SAW menganjurkan puasa Tasu'a dan Asyura.

1. Mengikuti Jejak Syukur Nabi Musa AS

Salah satu latar belakang utama puasa Asyura berkaitan dengan peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk rasa syukur atas peristiwa tersebut.

Rasulullah kemudian menyatakan bahwa umat Islam memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Nabi Musa AS sebagai sesama pembawa risalah tauhid. Karena itu, ia juga berpuasa pada hari Asyura, dan menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Tradisi puasa Asyura bahkan telah dilakukan Rasulullah SAW sebelum puasa Ramadhan diwajibkan. Setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan, hukum puasa Asyura berubah menjadi sunah, tetapi tetap sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

2. Menyelisihi Tradisi Kaum Yahudi

Meski sama-sama berpuasa pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW tidak menghendaki umat Islam meniru praktik ibadah kaum Yahudi secara persis. Karena itu, ia berkeinginan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram atau yang dikenal sebagai puasa Tasu'a.

Tujuannya adalah untuk menjaga identitas ibadah umat Islam, sekaligus menghindari tasyabbuh atau menyerupai praktik keagamaan kelompok lain. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan," (HR Muslim). Hadis ini menjadi dasar anjuran melaksanakan puasa Tasu'a bersamaan dengan puasa Asyura.

3. Memiliki Keutamaan Menghapus Dosa Setahun

Salah satu keutamaan terbesar puasa Asyura adalah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim).

Keutamaan ini menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu amalan sunah yang paling dianjurkan bagi umat Islam. Selain menjadi bentuk ibadah, puasa Asyura juga menjadi momentum muhasabah dan memperbaiki diri di awal tahun Hijriah.

4. Mengingat Hari-hari Penting dalam Sejarah para Nabi

Dalam berbagai riwayat dan literatur Islam, hari Asyura sering dikaitkan dengan sejumlah peristiwa besar yang dialami para nabi. Di antaranya, kisah keselamatan Nabi Musa AS dari Firaun, keselamatan Nabi Nuh AS setelah banjir besar.

Hingga berbagai peristiwa yang menunjukkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu, puasa Asyura juga menjadi sarana untuk mengenang perjuangan para nabi, serta meneladani keteguhan mereka dalam menghadapi ujian kehidupan.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads