Asap Masih Selimuti Palangka Raya, Rata-rata Ada 90 Kasus ISPA Per Hari

Kalimantan Tengah

Asap Masih Selimuti Palangka Raya, Rata-rata Ada 90 Kasus ISPA Per Hari

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 07 Okt 2026 20:00 WIB
Kabut asap Palangka Raya.
Kabut asap Palangka Raya. Foto: Dok. Istimewa
Palangka Raya -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sepanjang Juni hingga awal Oktober 2026, tercatat ada 10.240 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Jika dirata-rata, terdapat sekitar 1.900 kasus ISPA setiap bulan atau sekitar 90 kasus setiap harinya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan mengatakan, jumlah kasus ISPA mengalami peningkatan seiring memburuknya kualitas udara dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Juni tercatat 1.849 kasus, kemudian meningkat menjadi 2.293 kasus pada Juli. Lonjakan paling tinggi terjadi pada Agustus dengan 3.104 kasus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sementara pada September, Dinkes mencatat 2.900 kasus. Sedangkan hingga awal Oktober, sudah terdapat tambahan 190 kasus ISPA. Totalnya 10.240 kasus," ujar Riduan, Rabu (7/10/2026).

Kondisi ini menjadi perhatian karena gangguan pernapasan tersebut tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu. Riduan menyebut, kasus ISPA ditemukan hampir pada seluruh kelompok umur dengan proporsi sekitar 30-35 persen pada masing-masing kelompok usia.

"Artinya tidak hanya kena pada umur tertentu, tapi hampir semua usia bisa kena ISPA," ucapnya.

Mengantisipasi kondisi udara yang kembali memburuk, Pemkot Palangka Raya telah menyiapkan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di sejumlah puskesmas, puskesmas pembantu dan fasilitas kesehatan lainnya.

Sebagian fasilitas tersebut bahkan disiapkan untuk beroperasi selama 24 jam dengan dukungan tenaga kesehatan serta mahasiswa tingkat akhir dari Universitas Eka Harap.

"Totalnya sampai kemarin ada 47 Rumah Oksigen yang tersebar di Kota Palangka Raya. Kalau memang cuaca bertambah jelek, insya Allah kita perluas," kata Riduan.

Selain menyiapkan fasilitas oksigen, Dinkes juga terus membagikan masker kepada masyarakat, organisasi kemasyarakatan, sekolah, perguruan tinggi hingga lingkungan perkantoran.

Dinkes juga mulai menyiapkan vitamin untuk membantu menjaga daya tahan tubuh masyarakat. Sementara stok obat-obatan, termasuk obat untuk penanganan ISPA, dipastikan aman dengan cadangan hingga 18 bulan. Kebutuhan tersebut turut didukung anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) karhutla.

Meski kasus ISPA terus bertambah, hingga saat ini belum ada laporan kematian maupun rawat inap yang secara langsung dikaitkan dengan paparan kabut asap. Namun, warga yang memiliki penyakit penyerta seperti asma tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah, serta segera memeriksakan diri apabila mulai mengalami gangguan pernapasan.

"Kalau sakit cepat-cepat berobat ke puskesmas pembantu," imbaunya.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta berperan aktif dalam mencegah meluasnya karhutla. Warga yang melihat titik api atau kepulan asap mencurigakan dapat segera melapor melalui Call Center 112.

"Kesigapan warga dan kerja sama antar-unsur terkait menjadi kunci penting dalam penanganan kebakaran. Kami berharap masyarakat semakin peduli dan waspada demi mencegah kerugian yang lebih besar," pungkasnya.



(aau/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads