KH Ahmad Zuhdiannor atau yang akrab disapa Abah Guru Zuhdi bukan cuma ulama yang disegani di Kalimantan Selatan (Kalsel). Selain menjadi oase spiritual, sosoknya juga bisa merangkul umat dari semua kalangan.
Beliau tidak sekadar ulama yang duduk di menara gading keilmuan, melainkan menjadi 'ayah' bagi rakyat jelata hingga pejabat tinggi. Mulai dari pengusaha, relawan pemadam kebakaran, hingga suporter sepak bola, dekat dengan Guru Zuhdi.
Dalam artikel ini, kita akan menelusuri jejak langkah beliau, dari lahir, pendidikan keluarga ulama, hingga menjadi fenomena spiritual yang tak tergantikan di Kalimantan Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masa Kecil Guru Zuhdi
Dilansir dari penelitian di situs UIN Antasari, Ahmad Zuhdiannor lahir di Banjarmasin pada 10 Februari 1972 (5 Rajab 1392 Hijriah). Guru Zuhdi tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan kitab kuning.
Beliau adalah putra dari KH Muhammad bin Haji Jafri, seorang ulama disiplin yang pernah memimpin Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, dan Hj Zahidah binti KH Asli, putri seorang ulama besar dari Alabio, Hulu Sungai Utara (HSU).
Darah keulamaan mengalir deras di tubuhnya. Dari garis ayah, beliau mewarisi ketegasan logika Tauhid khas Martapura, sementara dari garis ibu, mengalir kelembutan spiritualitas khas Alabio.
Dari Pesantren ke Talaqqi
Perjalanan pendidikan Guru Zuhdi memiliki plot yang unik. Sempat masuk ke sistem formal di Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, beliau hanya bertahan sekitar dua bulan karena kondisi kesehatan yang sering menurun.
Namun, apa yang tampak sebagai kendala justru menjadi jalan pembuka bagi metode pendidikan yang lebih intensif, yaitu talaqqi atau belajar dengan tatap muka personal.
Pendidikan beliau ditempa secara bertahap oleh empat pilar guru utama. Pertama sang kakek, KH Asli di Alabio yang menggembleng dasar-dasar ilmu alat, tajwid, dan fikih selama satu tahun.
Kedua adalah ayahnya, KH Muhammad, saat kembali ke Banjarmasin, yang menanamkan fondasi tauhid yang kokoh. Selanjutnya ada KH Abdus Syukur (Mu'allim Syukur), di Teluk Tiram, yang menimba ilmu tasawuf, ushul fiqh, dan tata bahasa Arab tingkat lanjut.
Terakhir ada KH M Zaini Abdul Ghani alias Abah Guru Sekumpul) di Martapura. Guru Zuhdi tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga menyerap adab dari Guru Sekumpul, yang terasa dari cara berpakaian, pembacaan syair-syair maulid, hingga kelembutan tutur katanya.
Merangkul Semua Kalangan
Sisi yang paling fenomenal dari Guru Zuhdi adalah aktivisme sosialnya. Beliau mendobrak sekat sakralitas ulama dengan terjun langsung menjadi anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).
Dengan seragam BPK Majta dan nomor anggota 01, beliau sering tertangkap kamera sedang memegang selang (nozzle), basah kuyup memadamkan api di tengah malam. Bagi beliau, memadamkan api bukan sekadar aksi sosial, melainkan manifestasi nyata dari sifat itsar atau mendahulukan orang lain, serta latihan keikhlasan tanpa mengharap upah.
Di dunia olahraga, Guru Zuhdi hadir sebagai Dewan Penasehat PS Barito Putera. Rumah beliau sering menjadi tempat 'sowan' para pemain untuk meminta doa restu, menjadikan beliau sosok ayah spiritual bagi tim kebanggaan Banua tersebut.
Akhir Hayat Guru Zuhdi
Tanda-tanda kepergian sang ulama sejatinya telah tersirat. Dalam sebuah majelis, beliau pernah berseloroh tentang usianya yang hampir habis.
"Kuhitung-hitung kada baumur 5 tahun lagi aku, karna umurku 45". Ternyata Guru Zuhdi wafat tiga tahun kemudian pada usia 48 tahun.
Sabtu pagi, 9 Ramadan 1441 H (2 Mei 2020), kabar duka itu datang dari RS Medistra Jakarta. Guru Zuhdi wafat karena sakit jantung dan paru-paru. Banjarmasin seketika menjadi lautan air mata.
Meski di tengah ketatnya pembatasan pandemi COVID-19, ribuan masyarakat tak kuasa membendung rindu untuk memberikan penghormatan terakhir. Pemandangan ratusan armada BPK yang menyalakan sirine mengawal kepulangan "komandan" mereka menjadi salah satu momen paling ikonik.
KH Ahmad Zuhdiannor dimakamkan di kubahnya di belakang Masjid Jami Sungai Jingah. Namun, warisannya tetap hidup. Majelis taklim beliau diteruskan oleh adik-adik kandungnya, KH As'aduddin dan KH Sa'aduddin, memastikan pelita ilmu tidak padam.
