Masalah tempat duduk Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Yang Mulia Aji Muhammad Arifin dalam acara peresmian kilang Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (12/1) lalu kini berbuntut panjang. Penyelenggara dinilai tidak menghormati adat.
Situasi ini awalnya justru pertama kali disadari oleh Presiden Prabowo Subianto yang merasa tempat duduk Sultan Kukar kurang tepat. Namun Sultan Kukar dengan ramah berdiri dan memberikan hormat ketika namanya disebut.
"Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Hadir? Yang Mulia. Sultan kok ditaruh di belakang?" kata Prabowo sambil menunjukkan gestur tangan agar seharusnya duduk di depan.
Pemprov Klarifikasi
Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Kaltim, Syarifah Alawiyah, menegaskan penataan tempat duduk dalam agenda kunjungan Presiden RI sepenuhnya menjadi kewenangan protokol Istana. Pihaknya hanya berperan sebagai pendukung dan tidak memiliki kewenangan mengubah susunan yang telah ditetapkan pusat.
"Kami hanya sebagai pendukung saja. Pada saat acara, tempat duduk sudah diatur protokol Istana, lengkap dengan nama, dan kami tidak bisa mengubah apa pun, bahkan saat acara berlangsung nyaris protokol provinsi itu tidak dibolehkan masuk, tapi hasil koordinasi kita boleh masuk tapi hanya dua orang," katanya kepada detikKalimantan, Kamis (16/1/2026).
Ia menyebut susunan kursi mengikuti ketentuan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, yang mengatur urutan tata tempat pejabat negara. Dalam kondisi tersebut, posisi Gubernur Kaltim hingga Forkopimda pun berada di baris kedua karena keterbatasan kursi.
"Kami juga sempat protes karena Gubernur di baris kedua, tapi di depannya ada menteri dan DPR RI. Sebagai insan protokol, kami paham aturan itu," jelasnya.
Simak Video "Bersenang-senang dan Piknik Kuliner di Pantai Kalimantan Timur"
(bai/bai)