Ada satu tempat paling penting dalam perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Sidratul Muntaha adalah tempat penting itu. Menariknya, tempat ini hanya disebutkan sekali secara eksplisit dalam Al-Qur'an, yaitu pada Surat An-Najm ayat 13-14, sebagai lokasi di mana Rasulullah SAW mencapai titik tertinggi dalam perjalanan Isra Miraj.
Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab pada tahun ke-10 atau ke-11 kenabian. Dikutip dari NU Online, sidrat berarti pohon bidara, sedangkan muntaha berarti "batas akhir". Sidratul Muntaha berarti pohon bidara di batas terakhir, suatu batas yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk ciptaan Allah selain Rasulullah SAW sendiri. Ia berada di langit ketujuh, di ambang wilayah yang hanya Allah yang Maha Mengetahui hakikatnya.
Dalam tafsir disebutkan bahwa pohon ini memiliki daun sebesar telinga gajah dan buah yang sangat besar, menandakan kemuliaannya. Uraian lain menyatakan bahwa jika selembar daunnya diletakkan di bumi, permukaan bumi akan bersinar.
Lokasi Sidratul Muntaha dalam Perjalanan Miraj
Jangan mencari Sidratul Muntaha di peta karena tempat ini bukanlah tempat di dunia yang dapat ditunjuk dengan peta atau koordinat sebagaimana tempat-tempat di bumi.
Lokasi ini spesial karena tidak bisa dijangkau dengan perjalanan biasa, melainkan batas tertinggi alam ciptaan, sebuah titik akhir perjalanan makhluk yang keberadaannya berada di luar jangkauan akal manusia. Para ulama menegaskan bahwa hakikat Sidratul Muntaha hanya dapat dipahami secara sempurna oleh Allah SWT, sementara manusia hanya mampu mengetahuinya sebatas penjelasan wahyu dan hadis Nabi.
Dalam rangkaian peristiwa Miraj, setelah Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, beliau kemudian dinaikkan ke langit bersama Malaikat Jibril, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw oleh Syofyan Hadi.
Rasulullah SAW melewati lapisan demi lapisan langit, bertemu dengan para nabi terdahulu, hingga akhirnya mencapai langit ketujuh. Pada titik inilah Rasulullah SAW sampai di Sidratul Muntaha yang dalam banyak riwayat disebut sebagai batas akhir pengetahuan, amal, dan perjalanan seluruh makhluk.
Sidratul Muntaha juga dipahami sebagai tempat di mana seluruh catatan amal, ilmu para malaikat, dan ketetapan takdir naik dan berhenti pada batas tersebut. Di atasnya, tidak ada lagi ruang bagi makhluk, karena wilayah itu sepenuhnya merupakan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itu, Sidratul Muntaha sering dimaknai sebagai bentuk bahwa setinggi apa pun makhluk mencapai derajatnya, tetap ada batas yang tidak dapat dilampaui tanpa izin Allah.
Di tempat ini pula terjadi peristiwa yang sangat istimewa di mana Jibril berhenti menemani Rasulullah SAW. Jibril yang dikenal sebagai malaikat terbesar dan paling mulia, menyampaikan bahwa ia tidak mampu melangkah lebih jauh.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Jibril berkata, jika ia maju selangkah saja, maka ia akan terbakar oleh cahaya keagungan Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan malaikat pun memiliki batas sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Sebaliknya, Rasulullah SAW justru diberi izin untuk melanjutkan perjalanan melampaui Sidratul Muntaha menuju hadirat Allah SWT. Keistimewaan ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai makhluk paling mulia, kekasih Allah, dan satu-satunya hamba yang memperoleh kehormatan tersebut. Tidak ada nabi, malaikat, atau makhluk apa pun yang diberi izin untuk melampaui batas ini selain Rasulullah SAW.
Peristiwa ini bukan hanya menunjukkan kemuliaan Rasulullah SAW, tetapi juga mengandung pesan bahwa hubungan antara seorang hamba dan Allah SWT tidak dibatasi oleh makhluk lain.
Di Sidratul Muntaha, segala perantara berhenti, dan hanya tersisa hubungan langsung antara Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Dari sinilah kemudian turun perintah salat, sebagai simbol bahwa salat adalah bentuk komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhannya, tanpa perantara.
Peristiwa Penting yang Terjadi di Sidratul Muntaha
Sidratul Muntaha disebut dalam Surat An-Najm ayat 12-18:
أَفَتُمَٰرُونَهُۥ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ
Artinya: Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?
وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Arab-Latin: Wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā
Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ
Arab-Latin: 'inda sidratil-muntahā
Artinya: (yaitu) di Sidratil Muntaha.
عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ
Arab-Latin: 'indahā jannatul-ma`wā
Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
Arab-Latin: Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā
Artinya: (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
Arab-Latin: Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā
Artinya: Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ
Arab-Latin: Laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā
Artinya: Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW tertulis jelas di dalam Al-Qur'an dan menjadi salah satu mukjizat terbesar beliau.
1. Pertemuan dengan Malaikat Jibril dalam Wujud Aslinya
Di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, yakni makhluk bersayap enam. Hal ini sesuai dengan Surat An-Najm ayat 13-14 disebutkan bahwa beliau melihatnya di Sidratul Muntaha, "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha."
2. Perintah Salat Lima Waktu
Puncak dari perjalanan Mikraj adalah ketika Allah SWT memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW tentang salat lima waktu sehari semalam. Awalnya, umat Islam diberi perintah 50 waktu salat, tetapi setelah tawar-menawar oleh Nabi dengan Allah melalui perantara Jibril, jumlahnya dikurangi menjadi 5 kali sehari. Perintah ini kemudian menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam.
3. Gambaran Surga dan Ketinggian Sukma
Di sekitar Sidratul Muntaha terdapat apa yang disebut Jannatul Ma'wa, surga tempat tinggal orang-orang beriman. Lokasi ini digambarkan sebagai titik tertinggi di atas seluruh langit.
Makna dan Hikmah Sidratul Muntaha
Simbol Kedekatan dengan Allah SWT
Sidratul Muntaha menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW adalah satu-satunya makhluk yang diberi kehormatan mencapai batas terakhir perjalanan ini.
Pengajaran tentang Salat
Peristiwa di Sidratul Muntaha menegaskan bahwa salat adalah tiang agama seorang Muslim. Perintah salat yang diturunkan di titik tertinggi ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah tersebut sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba dan Pencipta-Nya.
Penguatan Keimanan dan Ketakwaan
Isra Miraj dan peristiwa Sidratul Muntaha mengajarkan umat Islam untuk tetap teguh menghadapi cobaan, karena di balik setiap ujian terdapat pertolongan dari Allah, sebagaimana yang diterima Nabi Muhammad SAW di peristiwa ini.
Wallahu a'lam bishawab. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan istimewa ini.
Simak Video "Video: One Way Arah Puncak Selesai, Lalin Normal Dua Arah"
(des/des)