7 Ayat Al-Qur'an tentang Isra Miraj Arab, Latin dan Artinya

7 Ayat Al-Qur'an tentang Isra Miraj Arab, Latin dan Artinya

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Senin, 12 Jan 2026 14:15 WIB
7 Ayat Al-Quran tentang Isra Miraj Arab, Latin dan Artinya
Al-Qur'an. Foto: Getty Images/iStockphoto/Tenerum
Jakarta -

Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan semalam di luar nalar manusia, melainkan bukti nyata dari kekuasaan Allah SWT yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Menariknya, Allah SWT menceritakan perjalanan Isra Miraj dalam beberapa ayat pada dua surah berbeda.

Untuk itu, berikut penjelasan mengenai peristiwa Isra Miraj beserta bacaan ayat Al-Qur'an yang melandasinya.

Pengertian Isra Miraj

Dikutip dari buku Setetes Embun Hikmah oleh Muhammad Arham, Isra Miraj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menceritakan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Nabi Muhammad mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menjalankan salat lima waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Umat Islam memperingati Isra Miraj setiap tanggal 27 Rajab, mengacu pada pendapat yang masyhur. Peristiwa Isra Miraj terbagi dalam dua perjalanan. Pertama, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang dikenal dengan Isra. Kedua, perjalanan naiknya Rasulullah SAW ke langit ketujuh atau Sidratul Muntaha yang dikenal dengan Miraj.

Ayat tentang Isra Miraj dalam Al-Qur'an

Dijelaskan dalam buku Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW oleh Syofyan Hadi, kisah perjalanan Isra Miraj dijelaskan Allah SWT pada dua surah berbeda dalam Al-Qur'an.

ADVERTISEMENT

Perjalanan Isra (perjalanan bumi) Allah SWT ceritakan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 1. Sementara itu, perjalanan Miraj (naik ke langit) Allah SWT ceritakan dalam Al-Qur'an surah An-Najm ayat 13-18.

Terpisahnya kisah Isra Miraj dalam Al-Qur'an seakan memberikan isyarat bahwa kedua perjalanan tersebut memiliki tujuan berbeda meskipun substansinya sama, yaitu memperlihatkan sebagian tanda kebesaran Allah SWT, baik di langit maupun bumi kepada Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan penyebutan kedua peristiwa ini dalam dua surah berbeda memberikan isyarat bahwa kedua perjalanan ini adalah dua mukjizat yang berbeda.

Isra merupakan perjalanan yang tidak satu pun penduduk bumi mampu melakukannya. Sementara Miraj merupakan perjalanan luar biasa yang penduduk langit pun tidak akan mampu melakukannya.

Disebutkan bahwa Jibril AS hanya mampu berjalan menemani Nabi Muhammad SAW hingga Sidratul Muntaha, sementara perjalanan berikutnya hanya Nabi Muhammad SAW yang bisa melakukannya untuk menerima perintah salat langsung dari Allah SWT.

1. Surah Al Isra' Ayat 1

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subḥānal-lażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī'ul-baṣīr(u).

Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Berdasarkan Tafsir Al-Qur'an Kementerian Agama (Kemenag) RI, surah Al Isra' ayat 1 menjelaskan tentang peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradah dan kekuasaan Allah SWT.

Kata 'abdihi (hamba-Nya) dalam ayat tersebut adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau mendapat perintah melakukan perjalanan malam sebagai penghormatan kepadanya. Namun, tidak diterangkan waktu pasti kapan keberangkatan dan kepulangan Nabi dalam perjalanan agung itu.

Menurut tafsir tersebut, surah Al Isra' ayat 1 juga menerangkan alasan Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada malam hari, yakni untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Tanda ini disaksikan Rasulullah SAW dalam perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Selanjutnya, peristiwa Miraj atau perjalanan dari Masjidil Aqsa diterangkan dalam surah An-Najm ayat 13-18.

2. Surah An-Najm Ayat 13

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.

Artinya: "Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain."

3. Surah An-Najm Ayat 14

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

'Inda sidratil-muntahā.

Artinya: "(yaitu ketika) di Sidratul Muntaha."

Menurut Tafsir Al-Qur'an Kemenag, pada ayat 13 dan 14 surah An-Najm, Allah SWT menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan Miraj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.

4. Surah An-Najm Ayat 15

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

'Indahā jannatul-ma'wā.

Artinya: "Di dekatnya ada surga tempat tinggal."

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di tempat itulah (di dekat Sidratul Muntaha) letak surga. Ia merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang yang mati syahid.

5. Surah An-Najm Ayat 16

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.

Artinya: (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Jibril di Sidratul Muntaha ketika Sidratul Muntaha tertutup oleh suasana yang menandakan kebesaran Allah berupa sinar-sinar yang indah dan malaikat-malaikat. Al-Qur'an tidak menerangkan dengan jelas, namun bagi kita cukuplah penjelasan yang demikian, tidak menambah atau menguranginya, bila tidak ada dalil yang jelas yang menerangkannya. Seandainya ada manfaatnya untuk dijelaskan niscaya hal itu dijelaskan oleh Allah SWT.

6. Surah An-Najm Ayat 17

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.

Artinya: "Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya)."

Kemudian dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan lagi bahwa tatkala Nabi Muhammad SAW melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratul Muntaha sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya.

7. Surah An-Najm Ayat 18

لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.

Artinya: "Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar."

Ayat ini menerangkan bahwa dengan melihat Sidratul Muntaha, berarti Muhammad SAW telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang merupakan keajaiban dari kekuasaan-Nya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan lainnya bahwa saat itu Nabi Muhammad SAW melihat suatu lambaian hijau dari surga yang memenuhi ufuk (arah pandangan). Maka hendaklah kita tidak membatasi apa yang telah dilihat oleh Nabi Muhammad dengan mata kepalanya, setelah diterangkan secara samar-samar dalam Al-Qur'an tentang hal itu. Yang jelas Nabi telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tidak terbatas.

Wallahu a'lam.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads