Menyusul ramainya keluhan masyarakat terkait antrean panjang dan dugaan penyalahgunaan barcode BBM subsidi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Pertamina memberikan penjelasan sekaligus memastikan ketersediaan Pertalite dan Solar subsidi di wilayah tersebut dalam kondisi aman.
Sales Area Manager Retail Kalimantan Tengah, Doni Prasetyo, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, ia menegaskan persoalan yang muncul bukan disebabkan oleh keterbatasan stok maupun kuota BBM.
"Terkait dengan ketersediaan kuota maupun ketersediaan stok, kami pastikan aman," ujar Doni, Rabu (15/7/2026) sore.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul berbagai keluhan warga, salah satunya dialami E Purwadi yang mengaku gagal membeli Pertalite di SPBU Jalan Ahmad Yani, Pangkalan Bun. Saat hendak mengisi BBM, barcode kendaraannya justru tercatat telah digunakan untuk membeli Pertalite sebanyak 80 liter, padahal ia mengaku sudah tiga hari tidak melakukan pengisian.
Menanggapi persoalan itu, Pertamina menjelaskan bahwa sistem barcode diterapkan sebagai amanat regulator untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran. Namun, masyarakat juga diimbau lebih berhati-hati menjaga barcode agar tidak disalahgunakan pihak lain.
"Pertamina mengingatkan agar barcode tidak dipinjamkan ataupun diserahkan kepada orang lain karena dapat dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab," kata Doni.
Selain itu, Pertamina juga memperketat prosedur operasional di seluruh SPBU. Petugas kini diwajibkan mencocokkan nomor polisi kendaraan dengan data barcode sebelum melayani pengisian BBM subsidi.
"Langkah tersebut dilakukan untuk mempersempit peluang terjadinya penyalahgunaan," katanya.
(des/des)