Kalimantan Tengah

Potret Langit Palangka Raya Menguning Berselimut Kabut Asap Berbahaya

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 23 Okt 2026 19:00 WIB
Foto: Suasana di Jalan Karet, Palangka Raya, Kalimantan Tengah memperlihatkan langit tampak menguning dengan kabut asap tebal yang membatasi kejernihan udara. (Istimewa)
Palangka Raya -

Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berubah kuning pekat di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat setelah konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat menembus 1.512,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³), pada Jumat (23/10/2026).

Data pemantauan BMKG hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan kualitas udara berada pada tingkat berbahaya. Tingginya konsentrasi polutan membuat kondisi atmosfer dipenuhi partikel halus yang dapat mengancam kesehatan, terutama jika terhirup dalam waktu lama.

Pantauan di jalanan kota Palangka Raya, memperlihatkan langit tampak menguning dengan kabut asap tebal yang membatasi kejernihan udara. Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan warna langit, melainkan berkaitan dengan tingginya partikel polusi yang melayang di atmosfer.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhamad Ihsan Sidiq, menjelaskan kondisi cuaca saat itu terpantau berawan dengan tutupan asap pekat. Partikel polutan di atmosfer menghamburkan cahaya matahari sehingga memengaruhi warna langit yang terlihat dari permukaan bumi.

"Kondisi langit yang tampak menguning berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel polutan di atmosfer. Partikel tersebut dapat menghamburkan cahaya matahari sehingga memengaruhi warna langit yang terlihat dari permukaan bumi," kata Ihsan, Jumat siang.

Di balik fenomena langit menguning tersebut, ancaman kesehatan menjadi perhatian utama. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan pada konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terlebih bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki penyakit jantung dan gangguan pernapasan termasuk kelompok yang paling rentan terdampak. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh kabut asap meskipun aktivitas sehari-hari masih harus berjalan.

"Tingginya konsentrasi PM2.5 perlu menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polusi udara pada tingkat tinggi berisiko mengganggu kesehatan," ujar Ihsan.

BMKG mengimbau warga membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih buruk. Jika terpaksa keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

Harapan untuk meredakan kepungan asap mulai terlihat dari prakiraan cuaca. BMKG memprediksi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang mengguyur sebagian besar wilayah Palangka Raya pada 25-27 Oktober 2026.

"Sementara itu, pada 28 Oktober 2026, potensi hujan diprakirakan masih terjadi di wilayah utara, khususnya Kecamatan Rakumpit dan Kecamatan Bukit Batu," ujarnya.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak langsung menganggap hujan sebagai tanda kualitas udara telah kembali aman. BMKG mengingatkan turunnya hujan tidak serta-merta menurunkan konsentrasi polutan ke tingkat aman dalam waktu singkat.

"Warga tetap perlu mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan hingga kondisi membaik," pungkasnya.



Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: OTT KPK di BNPB-Langit Oranye di Palangka Raya"

(aau/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork