Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan sejumlah daerah di Indonesia menampilkan pemandangan berbeda. Langit menjadi kuning hingga oranye saat tertutup asap kebakaran.
Penampakan ini bukan efek atau filter dari kamera. Ada penjelasan ilmiah bagaimana langit bisa menguning. Di balik pemandangan unik ini juga menyimpan bahaya yang meresahkan.
Simak artikel ini untuk mengetahui penyebab langit menguning akibat asap karhutla berdasarkan penjelasan ilmiah, hingga indikator bahaya di balik warna langit tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Asal-usul Partikel Asap Karhutla
Sebelum memahami perubahan warna langit, kita harus mengetahui apa yang sebenarnya terbakar. Mengutip artikel dari situs Scientific American, hutan maupun lahan diisi oleh tumbuhan mengandung banyak selulosa, yakni biomolekul besar yang terbuat dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen.
Saat terjadi kebakaran hutan dan lahan yang merupakan pembakaran tidak efisien, molekul-molekul ini terpecah. Pada suhu tinggi, proses ini menciptakan partikel karbon murni yang menggumpal membentuk partikel kecil yang disebut karbon hitam atau jelaga (soot).
Sementara itu, pada suhu yang lebih rendah seperti pada lahan yang membara, pembakaran menciptakan molekul kompleks yang disebut karbon cokelat. Kebakaran ini juga melepaskan uap air dalam jumlah besar. Kumpulan partikel-partikel inilah yang kemudian terlepas dan melayang menutupi langit.
Memahami Hamburan Cahaya
Sebelum ada asap, atmosfer kita memiliki cara kerjanya sendiri. Berdasarkan laman Norcast, matahari memancarkan cahaya dalam spektrum panjang gelombang yang luas.
Saat sinar matahari mencapai bumi, ia bertemu dengan atmosfer yang berisi molekul kecil oksigen dan nitrogen. Partikel-partikel kecil ini menyebarkan cahaya bergelombang pendek, seperti biru dan ungu, ke arah samping dan kembali ke luar angkasa, sebuah fenomena yang dikenal sebagai Hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering).
Reaksi antara cahaya dan materi ini terjadi di seluruh atmosfer kita. Karena molekul nitrogen dan oksigen ada di mana-mana di atas kita, banyak dari mereka akan memantulkan cahaya biru tersebut ke arah kita di tanah. Hasilnya, kita melihat cahaya biru datang dari segala arah di langit.
Munculnya Warna Kuning
Ketika karhutla menyuntikkan asap ke udara, interaksi cahaya ini berubah drastis. Partikel asap dan jelaga memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada molekul oksigen dan nitrogen. Partikel besar ini memicu proses yang disebut Hamburan Mie (Mie scattering).
Asap pekat bertindak seperti filter raksasa, yakni saat asap semakin tebal, maka semakin sedikit foton gelombang pendek (biru dan ungu) yang bisa menembus. Akibatnya, hamburan ini hanya mengizinkan gelombang yang lebih panjang untuk mencapai mata kita, yakni merah, oranye, dan kuning.
Fenomena ini mirip dengan alasan mengapa matahari terbenam tampak kemerahan. Saat matahari terhalang kepulan asap yang menipis di bagian luarnya, cahaya biru diserap atau dihamburkan, sementara warna merah dan oranye lewat tanpa hambatan, memberikan rona kuning atau kemerahan pada seluruh langit.
Tingkatan Bahaya di Balik Warna Langit
Perubahan warna ini bukanlah sekadar tontonan visual, melainkan indikator langsung tingkat keparahan polusi. Selimut asap yang tebal dari ujung ke ujung cakrawala dapat menyerap semua cahaya biru yang jatuh, mengubah seluruh langit menjadi warna oranye, merah, atau bahkan cokelat yang mengganggu.
Jadi, semakin gelap warna kuning menjadi cokelat-hitam, maka semakin memicu masalah kualitas udara yang sangat buruk dan membahayakan kesehatan publik.
Di Indonesia, gradasi warna visual ini sejalan dengan tingkat keparahan pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Udara berasap tebal yang menutupi cahaya matahari dan membuat langit memerah biasanya mendongkrak angka ISPU ke level warna Kuning (Tidak Sehat), Merah (Sangat Tidak Sehat), hingga Hitam (Berbahaya).
Nah, itulah penjelasan ilmiah mengenai asalan langit Kalimantan menguning saat tertutup asap karhutla. Warna ini juga menjadi indikator bahaya agar seluruh pihak waspada.
