Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya mencatat 9.324 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Juni hingga September 2026.
Kepala Dinkes Kota Palangka Raya, Riduan mengatakan, jumlah kasus ISPA sempat mengalami peningkatan pada Agustus 2026. Meski demikian memasuki bulan September, kasus harian mulai menunjukkan kecenderungan menurun.
"Untuk kasus ISPA sampai dengan September ini ada 9.324 kasus, dari bulan Juni sampai September. Peningkatan terjadi pada bulan Agustus," kata Riduan, Jumat (25/9/2026).
Pada Agustus, tercatat sebanyak 3.104 kasus ISPA. Sementara hingga Kamis (24/9/2026), jumlah kasus sepanjang September telah mencapai sekitar 2.076 kasus.
"Tren penurunan juga terlihat dari laporan kasus harian. Pada 20 September terdapat 87 kasus, setelah sebelumnya tercatat 92 kasus dan kemudian 83 kasus," katanya.
Riduan menduga penurunan tersebut salah satunya dipengaruhi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara memburuk. Masyarakat juga mulai lebih memperhatikan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin.
"Hubungannya mungkin orang tidak banyak keluar rumah sehingga kasus itu turun. Kemudian mungkin sudah mendapatkan informasi, banyak makan vitamin dan adanya peningkatan daya tahan tubuh," ujarnya.
Meski terjadi penurunan, Riduan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala gangguan pernapasan. Keluhan seperti batuk, pilek dan demam dapat menjadi lebih serius, terutama pada warga yang memiliki penyakit penyerta seperti asma.
"Kalau ada penyakit penyerta, biasanya ada asma, nah itu yang memperparah. Kalau kasus asma biasanya kita rujuk ke rumah sakit," jelas Riduan.
Dinkes Palangka Raya juga menyediakan rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan warga dengan keluhan batuk, pilek maupun sesak akibat menghirup partikel asap. Menurut Riduan, pemberian oksigen dapat membantu mengurangi rasa sesak yang dialami akibat paparan asap.
"Rumah oksigen dimanfaatkan untuk warga yang ada batuk, pilek dan sesak. Sesaknya karena hirupan partikel asap. Begitu diberikan oksigen, biasanya sesaknya berkurang," ungkap Riduan.
Hingga saat ini, Dinkes Kota Palangka Raya memastikan belum ada laporan korban meninggal akibat ISPA dalam periode tersebut. Meski begitu, tingginya kasus menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan luasan lahan terbakar, tetapi juga menyentuh kesehatan masyarakat.
Kasus ISPA sendiri ditemukan pada berbagai kelompok usia. Dinkes mencatat sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada orang dewasa, serta 30 persen pada lanjut usia.
"Bayi dan balita sekitar 30 persen, dewasa 40 persen, kemudian lansia 30 persen. Jadi kelihatan penyakit itu tidak di satu usia, merata," pungkasnya.
Simak Video "Video: Karhutla Meluas, Kasus ISPA di Palangka Raya Sentuh Rekor Tertinggi di Kalteng"
(aau/aau)