Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tak hanya berdampak terhadap lingkungan. Kabut asap yang ditimbulkan mulai menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya di Kota Palangka Raya.
"Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Palangka Raya mencapai 12.394 kasus. Tingginya kasus ISPA menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan. Terlebih, kualitas udara di sejumlah wilayah mulai menurun seiring meningkatnya ancaman karhutla dan paparan asap," ujar Kepala Dinas Kesehatan Palangka Raya, Riduan, Rabu (5/8/2026).
Pihaknya telah mengambil langkah antisipasi dengan mendistribusikan masker gratis ke seluruh puskesmas. Masker tersebut nantinya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok rentan seperti anak usia sekolah, ibu hamil, lanjut usia, serta warga yang datang mendapatkan pelayanan kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masker sudah kami salurkan ke seluruh puskesmas agar bisa segera dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan," ujarnya.
Menurutnya, memburuknya kualitas udara akibat kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diminta tidak memaksakan diri melakukan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
"Jika tidak ada kepentingan mendesak, sebaiknya aktivitas di luar rumah dikurangi. Namun apabila harus keluar rumah, gunakan masker dengan benar sebagai perlindungan dari paparan asap," katanya.
Riduan juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan masker. Kondisi tubuh harus tetap dijaga selama musim kabut asap dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih, beristirahat cukup, serta memenuhi kebutuhan vitamin.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya tahan tubuh ketika masyarakat terus terpapar kondisi lingkungan dengan kualitas udara yang menurun.
Dinkes juga meminta warga tidak mengabaikan gejala awal gangguan pernapasan. Batuk, pilek, iritasi tenggorokan hingga sesak napas harus segera mendapat perhatian.
"Saya minta masyarakat tidak mengabaikan gejala awal gangguan saluran pernapasan seperti batuk, pilek, iritasi tenggorokan, maupun sesak napas. Segera periksakan diri agar penanganan medis dapat diberikan sebelum kondisi memburuk," tegasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyiagakan seluruh jaringan pelayanan kesehatan. Sebanyak empat puskesmas induk dan 43 puskesmas pembantu (Pustu) disiapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak kabut asap.
Dinas Kesehatan juga meningkatkan pemantauan penyakit yang berkaitan dengan paparan kabut asap melalui koordinasi dengan seluruh puskesmas. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kasus sekaligus memastikan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat dapat segera ditangani.
"Dengan jumlah ISPA yang kini menjadi yang tertinggi di Kalteng, masyarakat Palangka Raya diimbau meningkatkan kewaspadaan. Disiplin menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan segera memeriksakan diri ketika muncul gejala gangguan pernapasan menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi kesehatan semakin memburuk," pungkasnya.
