Antrean kendaraan kerap mengular di sejumlah SPBU di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat. Pengelola SPBU curhat pasokan BBM subsidi jenis Pertalite menurun. Ia pun memberi usulan agar HET pengecer BBM diatur pemerintah.
Hal itu diutarakan Pengelola SPBU Bhakti di Jalan Pakunegara, Rudi. Ia menyebut jatah Pertalite dari Pertamina yang sebelumnya mencapai 32 kiloliter per hari kini hanya tersisa 16 kiloliter per hari, sementara pasokan Pertamax tetap berada di angka 8 kiloliter per hari.
"Ya, kalau pasokan dari Pertamina memang turun sudah satu bulanan, dari 32 kiloliter menjadi 16 kiloliter per hari," ujar Rudi, Senin (27/7/2026).
Meski demikian, ia menilai kuota tersebut sebenarnya masih mencukupi kebutuhan masyarakat di dalam Kota Pangkalan Bun. Asalkan, BBM subsidi benar-benar dibeli oleh pengguna akhir, bukan oleh pelangsir yang kemudian menjualnya kembali secara eceran.
Menurutnya, di wilayah dalam kota terdapat tiga SPBU yang masih melayani penjualan Pertalite yakni SPBU Bhakti Jalan Pakunegara, SPBU Diponegoro, dan SPBU Bundaran Sampah. Jika masing-masing menerima pasokan 16 kiloliter per hari, kebutuhan masyarakat dinilai masih dapat terpenuhi.
"Kalau semua SPBU di dalam kota mendapat 16 kiloliter per hari, saya yakin cukup. Yang menjadi persoalan adalah banyaknya pembelian untuk dijual kembali secara eceran di pinggir jalan," katanya.
Rudi menilai praktik penjualan kembali BBM subsidi menjadi salah satu pemicu antrean panjang yang hampir setiap hari terjadi di SPBU. Ia menggambarkan, seseorang dapat membeli Pertalite di SPBU dengan harga sekitar Rp10.000 per liter, kemudian menjualnya kembali secara eceran seharga Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter sehingga memperoleh keuntungan yang cukup besar.
"Kalau membeli Rp400 ribu bisa mendapat sekitar 40 liter. Saat dijual eceran dengan harga Rp15 ribu per liter, keuntungannya bisa mencapai sekitar Rp200 ribu. Kalau dibiarkan tentu semakin banyak orang yang menjadi pelangsir," ucap Rudi.
Ia pun mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bersama DPRD segera menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) bagi penjualan BBM subsidi di tingkat pengecer, khususnya di wilayah dalam Kota Pangkalan Bun.
Menurutnya apabila harga eceran dibatasi, misalnya Rp13 ribu per liter, keuntungan pelangsir akan berkurang sehingga minat membeli BBM subsidi untuk dijual kembali juga akan menurun.
"Kalau HET diatur, masyarakat juga akan lebih memahami. Saya yakin antrean di SPBU akan jauh berkurang karena pembelian untuk dijual lagi tidak lagi terlalu menguntungkan," ujarnya.
Rudi menegaskan pihak SPBU hanya menjalankan aturan yang telah ditetapkan dalam penyaluran BBM subsidi. Operator SPBU, kata dia, hanya memeriksa kesesuaian barcode MyPertamina dengan nomor polisi kendaraan serta memastikan kuota pembelian masih tersedia.
"Tugas operator hanya melayani pembelian BBM subsidi. Selama barcode sesuai dan kuotanya masih ada, kami tetap melayani. Soal antrean panjang, itu menjadi ranah pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mencari solusi," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua DPC Hiswana Migas Kotawaringin Barat, Muhammad Rudiansyah Abdullah, memastikan stok BBM di wilayah Kobar dalam kondisi aman. Menurutnya, antrean panjang bukan disebabkan kelangkaan stok, melainkan meningkatnya permintaan masyarakat akibat beredarnya berbagai informasi yang belum tentu benar.
"Distribusi BBM ke seluruh SPBU tetap dilakukan sesuai kuota yang telah ditetapkan BPH Migas. Selain itu, penerapan sistem barcode MyPertamina membuat proses pengisian membutuhkan waktu lebih lama, sementara kenaikan harga Pertamax juga menyebabkan sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite," ujarnya.
Di sisi lain, Polres Kotawaringin Barat terus meningkatkan pengawasan terhadap penyaluran BBM bersubsidi. Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Theodorus Priyo Santosa menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi praktik penyalahgunaan maupun penyelewengan BBM subsidi.
Polisi juga mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan dugaan penyimpangan dalam penyaluran BBM agar dapat segera ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.
Simak Video "Video: Sejoli Ini Modif Tangki Sedan Jadi 100 Liter Demi Dapat BBM Subsidi"
(aau/aau)