Sejarah

Berjuang di Kalbar, dr Rubini Berakhir Tragis di Tangan Jepang

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Senin, 06 Jul 2026 15:00 WIB
Foto: Infografis dr Rubini, dokter pejuang yang tewas di tangan Jepang. (diolah dari NotebookLM)
Pontianak -

Pahlawan Nasional dr Rubini merupakan sosok teladan yang tidak hanya berdedikasi di bidang medis, tetapi juga gigih dalam pergerakan politik kemerdekaan Indonesia. Kiprah dan pengorbanannya di Kalimantan Barat selama masa penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang meninggalkan warisan perjuangan yang sangat berharga bagi bangsa.

Berikut profil lengkap dari dr Raden Rubini Natawisastra, mulai dari kelahiran, pendidikan, pengabdian sebagai dokter, perjuangan melalui kelompok pergerakan, hingga berakhir tragis dalam Peristiwa Mandor.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Raden Rubini Natawisastra dilahirkan di Bandung pada tanggal 31 Agustus 1906 dari keluarga bangsawan etnis Menak Sunda yang terpelajar. Ayahnya bernama Raden Natawisastra yang bekerja sebagai guru Normal School, sedangkan ibunya bernama Ni Raden Endung Lengkamirah yang merupakan keturunan Keraton Sumedang.

Setelah lulus dari Hollandsch Inlandsche School (HIS) pada tahun 1919, ia melanjutkan pendidikannya di School Tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Ia berhasil menamatkan pendidikan kedokteran tersebut dan resmi meraih gelar Indische Arts (dokter bumiputera) pada tahun 1930.

Selama menjadi mahasiswa, dr Rubini sangat aktif berolahraga hingga pernah membela klub sepak bola profesional 'Oliveo' pada tahun 1927. Di masa kuliah ini pula, ia mulai bersinggungan dengan pergerakan politik nasional melalui interaksinya dengan organisasi Paguyuban Pasundan (PP).

Mengabdi di Pontianak

Pasca lulus, dr Rubini mengabdikan diri di Jakarta pada tahun 1930 hingga 1934 dengan mengawali karier di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol untuk mendalami penyakit saraf. Ia juga sempat ditugaskan meneliti wabah malaria di Pontianak pada 1932 sebelum akhirnya ditempatkan di Centrale Burgerljk Ziekenhuis (CBZ) guna mempelajari penyakit paru.

Pada tahun 1934, ia bersama istrinya, Ny Amalia, dipindahtugaskan ke Kalimantan Barat dan kelak diangkat menjadi Kepala Kesehatan Pontianak. Di wilayah tersebut, dr Rubini ditugaskan di Military Ziekenhuis (Rumah Sakit Tentara) serta ditunjuk mengepalai bagian bedah hingga menjadi kepala di Rumah Sakit Umum Sungai Jawi.

Sebagai dokter yang dekat dengan rakyat, ia rutin berkeliling memberikan pengobatan ke daerah terpencil di pedalaman tanpa membedakan status sosial masyarakatnya. Untuk menekan tingginya angka kematian ibu dan anak akibat persalinan tradisional, ia beserta sang istri membuka praktik dokter dan kebidanan berijazah di kediaman mereka.




(bai/des)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB