Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kembali menjadi sorotan. Warga Krayan Selatan mengeluhkan keterlambatan pasokan hingga dua bulan. Sementara itu, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Binuang, Krayan Tengah, tak kunjung beroperasi meski fisik bangunan telah rampung sejak Desember 2025.
Penyalur BBM Krayan Tengah dan Selatan, Rustam, buka suara soal masalah itu. Ia membeberkan keterlambatan pasokan ke Krayan Selatan bukan tanpa alasan.
"Ada empat faktor krusial yang saling berkaitan, mulai dari masalah armada udara hingga infrastruktur darat yang hancur lebur. Pertama, adalah penyesuaian jadwal pesawat pasca-insiden jatuhnya Pelita Air pada Februari lalu. Saat ini, distribusi bergantung pada pesawat yang sebelumnya dioperasikan pihak PLN," ucap Rustam kepada detikKalimantan, Senin (16/3/2026).
Faktor kedua dan ketiga adalah cuaca ekstrem serta kondisi jalan tanah yang kini berubah menjadi kubangan lumpur. "Kondisi jalan sangat tidak layak dilewati, rusak parah seperti melewati kubangan. Waktu tempuh saat ini mencapai 2 hingga 3 hari perjalanan," jelasnya.
Kondisi ini memaksa kendaraan penyalur harus berkonvoi. Akibat jalur ekstrem tersebut, Rustam mengaku harus merogoh kocek minimal Rp 5 juta untuk sekali jalan di luar gaji sopir.
"Jadi, dana tersebut habis untuk biaya logistik di jalan dan penggantian suku cadang yang sering rusak mendadak, seperti bearing roda, drive shaft (as roda), hingga kampas rem," rincinya.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
(sun/des)