Fakta-fakta Terkini Pesawat BBM AT-802 Jatuh di Krayan

Fakta-fakta Terkini Pesawat BBM AT-802 Jatuh di Krayan

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Jumat, 20 Feb 2026 10:30 WIB
Pesawat di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Nunukan, Kalimantan Utara.
Pesawat di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Nunukan, Kalimantan Utara. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Nunukan -

Pesawat jenis Air Tractor AT-802 jatuh di wilayah Pa'bettung, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pesawat kargo pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pelita Air itu jatuh pada Kamis (19/2) siang.

Pesawat melayani penerbangan charter kargo pengangkut bahan bakar dalam rangka mendukung distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan. Berikut fakta-fakta terkini yang diketahui dari insiden kecelakaan pesawat ini, dirangkum oleh detikKalimantan:

1. Saksi Mata Lihat Pesawat Oleng-Jatuh, Lalu Ada Asap Hitam

Pesawat pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) mulanya dilaporkan jatuh di kawasan perbukitan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kepulan asap hitam terlihat membubung tinggi dari balik perbukitan tak lama setelah pesawat tersebut lepas landas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan pantauan detikKalimantan di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, asap tebal muncul dari arah perbukitan yang menjadi jalur penerbangan pesawat. Pesawat tersebut baru saja selesai mengantarkan pasokan BBM di Bandara Yuvai Semaring. Hari itu, cuaca di Krayan tengah berawan dan gelap.

Saksi mata di lokasi, Aboy, menceritakan detik-detik saat melihat pesawat tersebut kehilangan kendali. Menurutnya, pesawat sempat terlihat oleng sebelum akhirnya jatuh.

"Pesawat itu terbang dan mau belok ke sebelah kiri. Yang saya lihat, salah satu bagian dari pesawat ada yang terlepas (terbang), kemudian disusul dengan pesawat yang oleng," ujar Aboy kepada detikKalimantan, Kamis (19/2/2026).

Aboy menambahkan, saat menyentuh tanah, tidak langsung terlihat adanya kobaran api. Namun, berselang beberapa menit, asap hitam pekat mulai muncul dari titik jatuhnya pesawat.

"Setelah jatuh belum ada tanda ledakan api maupun asap, namun setelah beberapa menit disusul dengan asap hitam," lanjutnya.

Setelah kabar tersebut, Corporate Secretary Pelita Air Patria Rhamadonna mengatakan perusahaan tengah melakukan proses investigasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Pelita menyebut pesawat tersebut merupakan layanan kargo yang mengangkut BBM satu harga untuk kawasan perbatasan.

Penerbangan tersebut merupakan layanan kargo pengangkut bahan bakar yang diawaki satu orang pilot tanpa awak kabin maupun penumpang. Jenis pesawat yang digunakan yaitu Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA.

"Pesawat tersebut merupakan armada khusus yang melayani misi pengantaran BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan," tulis Pelita Air dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).

2. Sempat Dikabarkan Selamat, Pilot Dinyatakan Meninggal Dunia

Sang pilot dilaporkan selamat dari maut setelah berhasil meloloskan diri menggunakan parasut sesaat sebelum pesawat menghantam darat. Namun secercah harapan yang disampaikan warga setempat itu tidak terjadi, hal itu disampaikan Camat Krayan, Roni Firdaus.

Ia meluruskan simpang siur informasi yang sempat beredar terkait kondisi pilot. Ia memastikan bahwa pilot pesawat tersebut gugur dalam tugas.

"Setelah kita sampai di TKP, ternyata pilot tidak selamat. Beliau meninggal dunia, terbakar di dalam pesawat, dan jenazah sudah kita evakuasi ke RS Pratama Krayan," ujar Roni Firdaus kepada detikKalimantan saat ditemui di RS Pratama Krayan. Kamis (19/2/2026).

Roni menjelaskan, korban ditemukan masih berada di kursinya dengan sabuk pengaman (seatbelt) terpasang. Jenazah kemudian diangkat keluar oleh tim evakuasi gabungan yang terdiri dari warga, TNI Satgas Pamtas, Polri, dan Satpol PP.

"Benar, jenazah ditemukan di kursinya dengan sabuk pengaman terpasang," bebernya.

Titik jatuhnya pesawat berada sekitar tiga kilometer dari ujung bandara, tepatnya di area hutan antara Kampung Baru dan Pa' Betung, atau yang oleh warga setempat sering disebut kawasan Pak Belaban.

"Pesawat tersebut diketahui baru saja selesai membongkar muatan BBM di Krayan dan sedang dalam perjalanan kembali ke Tarakan dengan kondisi tanpa muatan (kosong) untuk mengambil pasokan selanjutnya," imbuhnya.

3. Terungkap Pesawat Kirim Sinyal Darurat Usai Lepas Landas

Terungkap bahwa pesawat sempat mengirimkan sinyal darurat 10 menit usai lepas landas. Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, membeberkan informasi awal terkait insiden nahas yang terjadi pada Kamis siang. Menurutnya, pesawat lepas landas pukul 12.10 Wita.

"Sinyal darurat menyala pukul 12.20 Wita," kata Lukman melalui keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).

Lukman menjelaskan, pesawat diperkirakan tiba di Tarakan pukul 13.15 Wita. Pilot sempat mengontak petugas ATC Tarakan dan menyampaikan perkiraan posisi pesawat berada di Abeam Malinau pada pukul 12.24 Wita.

"Namun pada pukul 12.20 Wita, diterima sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) dari pesawat tersebut," jelas Lukman.

Pesawat tersebut terbang tanpa penumpang dan hanya diisi oleh satu orang kru, yakni pilot. Kemenhub mengonfirmasi bahwa pilot tidak selamat dalam insiden ini.

"Informasi terakhir yang kami peroleh pada pukul 15.16 Wita, pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia," ungkap Lukman.

4. Ancaman Pasokan BBM Terhambat

Insiden ini dikhawatirkan akan berdampak pada pasokan BBM ke SPBU di Krayan. Camat Krayan, Roni Firdaus menjelaskan pesawat bagi warga setempat bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi kehidupan. Wilayah yang terisolasi ini sangat bergantung pada jalur udara untuk mendapatkan logistik, terutama BBM.

"Di Krayan terdapat empat SPBU yang selama ini pasokannya hanya dilayani oleh dua armada pesawat kargo. Sekarang sudah satu kecelakaan, berarti tinggal tersisa satu armada lagi yang kapasitas muatnya hanya sekitar satu ton. Otomatis kita akan kekurangan dan terancam krisis untuk memenuhi kebutuhan BBM di Krayan," kata Roni kepada detikKalimantan, Kamis (19/2/2026).

Mewakili seluruh masyarakat Krayan, Roni menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah ini, khususnya kepada keluarga sang pilot. Selain itu, dia juga berharap agar ada solusi terkait pasokan BBM tersebut.

"Saya menaruh harapan besar agar pihak maskapai dan Pertamina segera mencari solusi pengganti agar roda ekonomi di perbatasan tidak lumpuh," pungkasnya.

Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga menyampaikan akan menyiapkan armada pengganti. Dikutip dari detikFinance, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV. Dumatubun mengatakan Pertamina Patra Niaga terus melakukan koordinasi intensif dengan operator penerbangan, mitra dan tim di lapangan, untuk memonitor distribusi BBM ke wilayah tersebut tetap dapat terlayani.

"Untuk menjaga kestabilan pasokan, Pertamina Patra Niaga terus berkoordinasi untuk menyiapkan armada pengganti dan saat ini sudah mendapatkan kepastian armada pengganti dari operator penerbangan," kata Roberth dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).

Pertamina Patra Niaga terus memastikan bahwa kondisi stok dan penyaluran BBM di wilayah Krayan dan sekitarnya dalam keadaan aman serta tetap berjalan normal.

"Untuk menjaga kestabilan pasokan, Pertamina Patra Niaga juga telah menyiapkan skema distribusi alternatif sebagai langkah mitigasi guna memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi tanpa hambatan," tambah Roberth.

5. Penyebab Pesawat Jatuh Diselidiki

Penyebab jatuhnya pesawat buatan tahun 2013 ini masih menjadi tanda tanya. Pasalnya, Kemenhub mencatat armada tersebut dalam kondisi laik terbang dan baru saja merampungkan pemeliharaan berkala delapan hari yang lalu.

"Dari sisi kelaikudaraan, pesawat telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Total pemeriksaan jam terbang pesawat mencapai 3.303 jam," terangnya.

Saat ini, penyebab pasti jatuhnya pesawat masih dalam tahap penyelidikan. Ditjen Hubud tengah berkoordinasi secara intensif dengan operator, otoritas bandara, dan tim di lapangan.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan dengan baik. Proses investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku oleh instansi berwenang," kata Lukman.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads