372 Hektare Karhutla Kalbar Belum Padam, Pasukan Darat Diperkuat

372 Hektare Karhutla Kalbar Belum Padam, Pasukan Darat Diperkuat

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Sabtu, 05 Sep 2026 11:07 WIB
Personel Yonif TP 882/Hulubalang melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (23/8/2026). BNPB mencatat luas lahan di Kalimantan Barat yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,89 hektare, yang berpotensi menimbulkan bencana asap di sejumlah kabupaten/kota di provinsi setempat. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/wsj.
Ilustrasi karhutla di Kalbar/Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Pontianak -

Pemerintah memperkuat pasukan darat untuk menuntaskan sisa karhutla di Kalimantan Barat (Kalbar). Dari estimasi 802,17 hektare lahan yang terbakar, 429,90 hektare telah dipadamkan, sehingga masih ada sekitar 372,27 hektare yang harus ditangani.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan operasi darat menjadi tumpuan utama untuk menuntaskan sisa kebakaran tersebut. Menurutnya, hasil pemadaman Satgas Darat sejauh ini cukup signifikan.

"Satgas Darat berhasil memadamkan yang luas. Sisa kebakaran hari ini kalau tidak ada kebakaran yang baru, dipadamkan oleh Satgas Darat sebetulnya itu sudah bisa selesai," kata Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Pontianak, Jumat (4/9/2026) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suharyanto menjelaskan tantangan terbesar berada di lahan gambut. Api dan bara dapat bertahan di bawah permukaan sehingga pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan water bombing dari udara. Karena itu, pasukan di darat diperkuat untuk memastikan titik api hingga bara di dalam lahan benar-benar padam.

"Sehingga tetap tumpuannya adalah di Satgas Darat untuk operasi penanganan karhutla ini. Satgas Darat ini memang menjadi tumpuan utama," tegasnya.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meminta kekuatan pasukan dan peralatan dipetakan secara lebih detail. Personel akan diarahkan berdasarkan sebaran hotspot dan kebutuhan di masing-masing wilayah.

"So far ini yang paling efektif nih pasukan darat. Oleh karena itu, nanti mohon di-mapping secara lebih detail," ujar Raja.

Ia mencontohkan Ketapang dan Kubu Raya perlu dipetakan berdasarkan jumlah hotspot serta kebutuhan personel dan peralatan. Jika terdapat wilayah yang memiliki personel berlebih, kekuatan tersebut dapat digeser ke lokasi yang masih membutuhkan penguatan.

"Kurang nggak orangnya? Alatnya kurang nggak di sana? Kalau orangnya ternyata lebih, berarti kita pindahkan ke tempat lain yang memang masih kurang," katanya.

Menurut Raja, pola tersebut diperlukan agar pengerahan kekuatan tidak menumpuk di satu wilayah. Pasukan dan peralatan harus dipusatkan di lokasi yang masih memiliki titik api dan membutuhkan penanganan cepat.

Meski pasukan darat menjadi andalan, pemerintah tetap menjalankan operasi udara untuk membantu penanganan karhutla. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan untuk mengejar potensi hujan, sedangkan water bombing digunakan untuk membantu pemadaman dari udara.

"Pasukan darat, ini andalan kita ya, sambil menunggu OMC atau hujan beneran ketika nanti musim hujan datang," ujar Raja.

Ia menargetkan sisa lahan yang terbakar dapat terus ditekan dengan memperkuat operasi darat, sembari memanfaatkan setiap peluang hujan melalui OMC dan dukungan operasi udara.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Dua Relawan Sesak Napas saat Padamkan Karhutla di Rasau Jaya Kalbar"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads