Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat adanya peningkatan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada awal tahun ini. Sepanjang Januari 2026, terpantau sebanyak 11 titik api yang menghanguskan lahan perkebunan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep, mengungkapkan bahwa mayoritas titik api tersebut berada di wilayah Kecamatan Tarakan Utara. Wilayah ini memang menjadi atensi khusus karena mendominasi kawasan perkebunan masyarakat.
"Kebakaran lahan di bulan Januari itu jumlahnya 11 titik. Terbanyak itu Kecamatan Tarakan Utara. Ini karena luas perkebunan terbesar milik masyarakat memang ada di sana," ujar Yonsep kepada detikKalimantan, Senin (2/2/2026).
Yonsep menjelaskan, penyebab utama kebakaran tersebut adalah metode pembakaran lahan secara tradisional yang dilakukan masyarakat untuk membuka kebun. Kondisi ini diperparah dengan cuaca ekstrem dan kekeringan yang melanda Tarakan dalam beberapa waktu terakhir.
"Akumulasi luas lahan yang terbakar sebenarnya lebih dari 6 hektare. Itu terakumulasi, bukan satu titik," jelasnya.
BPBD juga menepis dugaan adanya kaitan kebakaran lahan dengan aktivitas atau potensi batu bara di wilayah utara. Menurut Yonsep, kejadian ini murni akibat aktivitas pembakaran lahan kebun yang tidak terkendali karena faktor angin kencang.
Meski Januari telah berlalu, BPBD Tarakan mengingatkan bahwa potensi kebakaran masih mengintai hingga pertengahan Februari. Struktur tanah di Tarakan yang berpasir membuat lahan cepat kering hanya dalam waktu 3-4 hari tanpa hujan.
"Bulan Februari, dari awal sampai pertengahan bulan itu masih berpotensi kekeringan. Di Tarakan, panas 3-4 hari saja sudah rawan kebakaran karena kontur tanah kita pasir, jadi permukaan cepat kering," kata Yonsep.
Dalam penanganan di lapangan, petugas kerap menemui kendala akses jalan yang sempit sehingga tidak dapat dilalui mobil pemadam roda empat.
"Akses jalan kebun masyarakat kurang memadai. Jadi yang dilakukan adalah menggunakan mesin portabel. Kendalanya saat kering sumber air susah, tapi kami terbantu di beberapa titik karena ada kolam air," tambahnya.
BPBD Tarakan telah memetakan zona merah rawan kebakaran lahan saat ini, yakni di kawasan Tarakan Utara dan Tarakan Timur. Kedua wilayah ini masih dipadati area perkebunan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyurat ke Camat dan Lurah serta berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memantau aktivitas warga. Pihaknya siap mendampingi masyarakat yang terpaksa melakukan pembersihan lahan agar api tidak meluas.
Selain Karhutla, Yonsep juga mewanti-wanti potensi kebakaran di pemukiman padat penduduk. Warga diminta waspada terhadap penggunaan alat elektronik dan kompor.
"Terutama ibu-ibu, saat setrika atau memasak jangan ditinggal. Pastikan instalasi listrik standar untuk meminimalisir korsleting. Kami harap masyarakat tetap waspada," pungkasnya.
Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"
(bai/bai)