Dalam pidatonya di Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar ke XI di Palangka Raya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat membicarakan kondisi desa tanpa listrik di Kalimantan Tengah (Kalteng). Dia berjanji akan mengalirkan listrik ke sana.
Bahlil meminta Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang hadir dalam acara tersebut untuk mengirimkan Kepala ESDM Kalteng untuk membahas masalah tersebut. Secara keseluruhan, Bahlil menyebut masih ada lebih dari 5 ribu desa yang belum dialiri listrik.
"Listrik kita masih ada 5.700 desa, 4.400 dusun yang belum ada listriknya. Bayangkan negara sudah hadir 80 tahun, tapi masih ada desa yang belum ada Listrik," ujar Bahlil di acara Musda Golkar XI, Palangka Raya, Sabtu (29/11/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahu Kalimantan Tengah masih banyak yang belum teraliri listrik, maka pak Gub kalau boleh kirim Kepala Dinas ESDM-nya ke kami untuk segera kita menghitung berapa desa yang belum ada listriknya di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kita listriki mereka!" imbuhnya.
Bahlil mengatakan ia sudah melapor kepada Presiden Prabowo dan berjanji akan melakukan pemerataan penerangan sebelum tahun 2029. Hal tersebut ia lakukan melalui Program Listrik Desa.
"Saya berjanji dan saya sudah lapor ke bapak presiden bahwa sebelum 2029 sampai 2030 terakhir, maka seluruh desa-desa kita akan alirkan listrik namanya Program Listrik Desa," terang Bahlil.
Menurutnya, listrik sangat penting bagi kehidupan masyarakat, termasuk dalam memajukan masyarakat di bidang pendidikan. Pendidikan yang berteknologi tinggi tidak akan berjalan optimal ketika arus listriknya belum maksimal.
"Bagaimana cerita kita bisa kasih pendidikan yang baik dengan teknologi dan IT di sekolah-sekolah kalau tidak ada listrik? Itu yang orang Papua bilang tulis lain, baca lain, bikin lain," ujarnya.
Selain itu, Bahlil menjelaskan dalam membuat kebijakan tidak boleh berdasarkan kebutuhan di Ibu Kota. Menurutnya, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang tepat sasaran langsung sesuai kondisi di masing-masing daerah.
"Saya ingin mengatakan bahwa di pemerintahan pak Prabowo, karena menterinya banyak orang daerah, dalam membuat kebijakan tidak boleh kita memakai selera Jakarta. Seolah-olah apa yang ada di Jakarta sama dengan apa yang ada di Kalimantan Tengah," tegasnya.
"Sudah saatnya kebijakan yang baik adalah kebijakan yang langsung mengenai sasaran pada kondisi masyarakat di seluruh Indonesia," pungkas Bahlil.
Simak Video "Video Bahlil Cerita Masa Sulit Hidup di Jakarta: Tidur di Musala-Jalan Kaki"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
