Identitas suatu kota tak selalu berbentuk logo atau semboyan, ada yang hadir dalam motif pakaian bahkan sepiring makanan. Jogja misalnya, kota ini memiliki gudeg yang melekat terhadap dirinya sebagai label ternama.
Di berbagai sudut Kota Jogja, gudeg dapat ditemukan dengan mudah dan variasi harga. Makanan berbahan dasar nangka muda ini dapat dinikmati sebagai sarapan, makan siang, maupun makan malam.
Warnanya yang cokelat kemerahan memperkuat identitas Jogja sebagai wilayah di Pulau Jawa yang terkenal dengan kuliner bercita rasa manis. Beriringan dengan sajiannya, tersemat pula filosofi gudeg Jogja yang merepresentasikan jalan hidup orang Jawa dan sejarah panjang yang membesarkan namanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercipta di Kawasan Alas Mentaok
Gudeg kini sudah berumur lebih dari lima abad. Dikutip dari jurnal Gudeg and Yogyakarta: Makanan Tradisional sebagai Instrumen Diplomasi Budaya Indonesia karya Elvinatun Nadhiroh, sejarah kemunculan gudeg tercatat sejak abad ke-15.
Saat itu, masyarakat Kerajaan Mataram di bekas wilayah Alas Mentaok dikelilingi oleh pohon nangka yang sangat melimpah, tapi kesulitan mencari lauk. Banyaknya buah nangka kemudian mendorong masyarakat untuk mengolahnya menjadi hidangan dengan bahan baku nangka muda atau gori.
Berlanjut pada masa penjajahan, nangka bukanlah komoditas utama karena nilai jualnya yang rendah. Meski pasokannya melimpah dan mudah didapatkan masyarakat, nangka tidak diminati penjajah. Ironisnya kondisi ini lantas membuat masyarakat berkreasi dengan nangka dan mulai menciptakan gudeg.
Gudeg kemudian berkembang menjadi makanan rakyat biasa, prajurit, dan buruh. Baru pada tahun 1819, gudeg mulai dikenal oleh masyarakat luas dan disajikan dengan masakan lain.
Sekitar tahun 1970-1980-an, sentra gudeg kemudian terbentuk di Jalan Wijilan, Kota Yogyakarta. Kini, Sentra Gudeg Wijilan berubah menjadi jujukan wisatawan maupun warga lokal yang ingin menikmati gudeg dengan mudah.
Proses Pembuatannya Adalah Seni
Nama gudeg diyakini berasal dari kata "hangudeg" dalam bahasa Jawa yang berarti "mengaduk." Dijelaskan dalam jurnal Gudeg and Kimchi: Exploring the Uniqueness of Traditional Javanese and Korean Cuisine karya Indah Puspita Sari dan laman Visit Indonesia, istilah ini berkaitan dengan proses pembuatannya yang dilakukan dengan mengaduk bahan secara intensif selama berjam-jam.
Lamanya waktu untuk memasak nangka muda beserta gula jawa, santan, dan bumbu khas agar menjadi gudeg kurang lebih 4-6 jam. Kisaran waktu ini diperlukan untuk memasak gudeg basah, lain halnya dengan gudeg kering yang memerlukan proses yang lebih lama yakni sekitar 12 jam.
Buku Gudeg: Filosofi dan Tradisi Kuliner Yogyakarta tulisan Vanesa Adisa menjelaskan proses memasak gudeg penuh dengan kesabaran, kehati-hatian, dan keikhlasan. Sabar karena harus mengaduk bahan-bahannya dalam waktu yang lama.
Proses pembuatan gudeg yang tidak mudah ini laksana seni memasak autentik yang dimiliki oleh orang Jogja. Meskipun menggunakan resep yang sama, berbeda tangan berbeda pula cita rasa gudeg yang mereka ciptakan.
Simbol Jati Diri dan Filosofi Hidup
Kompleksitas gudeg tidak selesai dalam prosedur memasaknya saja, tetapi juga dalam makna filosofis yang terkandung dalam dirinya. Pembuatannya yang memerlukan waktu lama merepresentasikan sikap sabar yang perlu dimiliki setiap insan dalam menjalani hidupnya.
Ketelatenan dan ketenangan luar biasa selama berjam-jam memasak gudeg juga menjadi pengingat bagi manusia agar senantiasa mawas diri di tengah dunia yang terus bergerak cepat dari waktu ke waktu. Selaras dengan salah satu filosofi hidup orang Jawa, "alon-alon asal kelakon," yang berarti pelan-pelan asalkan tujuannya tercapai.
Pemasak gudeg perlu berhati-hati karena setiap bumbu harus ditambahkan secara bertahap ke dalam kuali. Di sisi lain, pemasak gudeg juga perlu berikhlas hati karena rasa gudeg yang sudah jadi bisa saja tidak sesuai dengan keinginan.
Sikap hati-hati dan ikhlas yang dibutuhkan dalam mengolah setiap komponen gudeg tersebut turut merepresentasikan perhatian yang detail terhadap setiap aspek hidup dalam keseharian manusia dan bersikap bijaksana saat menemukan hal yang tidak sesuai dengan rencana.
Selain itu, posisi gudeg yang sering dijadikan sebagai makanan pada acara keluarga dan perayaan spesial menjadi simbol kebersamaan. Proses pembuatannya yang dilakukan oleh keluarga juga dapat dimaknai sebagai upaya kerja sama dan gotong royong antarindividu.
Penyajian gudeg yang biasanya didampingi oleh telur pindang, tahu/tempe bacem, ayam, areh, dan krecek merepresentasikan keberagaman entitas yang bertemu dalam satu suapan. Setiap komponen memiliki rasa yang berbeda, dari asin, manis, gurih, dan pedas semuanya membangun harmonisasi yang menciptakan cita rasa khas gudeg Jogja.
Gudeg dalam Tradisi
Di masa kini, gudeg lebih dikenal sebagai makanan berat yang dikonsumsi sehari-hari. Namun, selain disajikan dalam konteks rumahan, gudeg juga sering diikutsertakan sebagai hidangan dalam berbagai macam kegiatan masyarakat.
Dijelaskan dalam jurnal Gudeg dan Yogyakarta: Makanan Tradisional sebagai Instrumen Diplomasi Budaya Indonesia oleh Elvinatun Nadhiroh, gudeg turut hadir dalam upacara adat, perayaan keagamaan, hingga hajatan keluarga besar seperti mitoni (tujuh bulanan kehamilan), pernikahan, atau syukuran.
Penggunaan gudeg dalam berbagai aspek kehidupan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu makanan yang menjadi identitas sosial dan jati diri budaya masyarakat Jawa.
Perannya sebagai Media Diplomasi
Pada tahun 2021, gudeg diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan ini memperluas peran gudeg, dari makanan lezat yang tercipta dari adaptasi saat krisis menjadi media diplomasi lintas negara.
Gudeg telah berperan aktif sebagai representasi identitas budaya Jawa dan Indonesia di panggung dunia dalam berbagai acara diplomatik yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri.
Perkembangan gudeg yang sudah merambah industri global ini pun semakin memperkuat posisinya sebagai makanan khas di tengah gempuran kudapan kekinian maupun hidangan luar negeri terus berdatangan.
Gudeg dikenal sebagai makanan yang sarat akan filosofi, terutama kesabaran dan kebijaksanaan. Identitas ini barangkali menjadi kekuatan gudeg dalam menghadapi makanan instan yang terus berkelindan seiring perkembangan zaman.

Komentar Terbanyak
Ulah Oknum Fotografer 'Kuasai' Pelang Jalan Malioboro demi Cuan
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Curhat Pedagang di Jogja Malah Sepi Pembeli Usai Pasar Direnovasi