Kisah Pasutri Jadi Guru Besar UGM Saat HUT Pernikahan ke-25

Kisah Pasutri Jadi Guru Besar UGM Saat HUT Pernikahan ke-25

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Rabu, 14 Okt 2026 18:32 WIB
Pengukuhan pasutri Guru Besar FH UGM, Prof Andy Omara dan Prof Herlian, di Balai Senat UGM, Selasa (13/10/2026).
Pengukuhan pasutri Guru Besar FH UGM, Prof Andy Omara dan Prof Herlian, di Balai Senat UGM, Selasa (13/10/2026). Foto: Dok. UGM
Sleman -

Pasangan suami istri, Prof Andy Omara dan Prof Herliana, dikukuhkan sebagai Guru Besar di Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM), kemarin. Pengukuhan itu bertepatan dengan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-25 tahun. Berikut kisah perjuangan mereka.

"Kebetulan pas banget tanggal 13 Oktober itu hari Selasa. Dan tanggal itu memang tanggal di mana 25 tahun yang lalu kami melangsungkan pernikahan," kata Andy saat dihubungi detikJogja, Rabu (14/10/2026).

Prof Andy Omara merupakan Guru Besar dalam bidang Perbandingan Hukum Tata Negara di Departemen Hukum Tata Negara, FH UGM. Sementara itu istrinya, Prof Herliana, merupakan Guru Besar dalam bidang Hukum Arbitrase di FH UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Andy, ada hal lain yang membuat perjalanan mereka terasa istimewa. Keduanya mendapat kesempatan menempuh pendidikan Magister (S2) dan Doktoral (S3) di luar negeri dalam waktu yang hampir bersamaan.

ADVERTISEMENT

"Yang menurut saya lebih menarik lagi adalah kami berdua itu dianugerahi untuk berkesempatan sekolah baik S2 dan S3 itu bersama-sama. Kami S2 di University of Melbourne, School of Law di Australia, bisa dalam waktu yang bersamaan. Demikian juga ketika kami menempuh studi doktoral di University of Washington. Itu juga waktunya, jadi sekolahnya sama, fakultasnya juga sama, dan waktunya itu hampir sama, berbarengan," ungkapnya.

"Jadi ini anugerah yang menurut saya kami luar biasa bisa bareng-bareng ketika menempuh studi dan pada akhirnya ketika jadwal pengukuhan itu," imbuhnya.

Andy menjelaskan, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri itu berawal dari upaya mereka mendapatkan beasiswa. Saat menjalani pendidikan S2, keduanya memperoleh beasiswa dari pemerintah Australia melalui Australia Development Scholarship.

Sementara untuk studi S3, Herliana mendapat beasiswa dari Dikti Fulbright, sedangkan Andy memperoleh beasiswa dari Dikti. Meski keberangkatan mereka tidak benar-benar bersamaan, keduanya menjalani masa studi dengan selisih waktu yang tidak terlalu jauh.

"Istri saya duluan, tetapi tidak lama kemudian saya. Jadi kami punya waktu yang lama ketika kami studi. Karena kita tahu kalau studi S3 terutama itu kan memang waktunya cukup lama ya, 4 tahunan," tuturnya.

Berawal dari Rekan Dosen Muda

Kisah Andy dan Herliana bermula saat keduanya menjadi dosen muda di FH UGM. Meski sama-sama merupakan lulusan S1 dari almamater yang sama, keduanya mengaku tidak saling mengenal dekat ketika masih berstatus mahasiswa.

Andy mengatakan, hubungan mereka mulai dekat setelah sama-sama diterima sebagai dosen di FH UGM. Saat itu, terdapat sejumlah kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dosen muda yang membuat keduanya kerap bertemu.

"Nah, mulai dekat itu karena memang kami pada saat itu sama-sama dosen muda yang baru diterima di Fakultas Hukum UGM dan ada kegiatan-kegiatan yang memang dikhususkan untuk dosen muda untuk peningkatan kapasitas," jelasnya.

Dari pertemuan tersebut, keduanya merasa cocok hingga akhirnya membangun hubungan yang lebih dekat hingga menikah. Perjalanan mereka kemudian berlanjut dengan saling mendukung dalam menempuh pendidikan dan mengembangkan karier akademik.

"Dari situ kemudian kami sering bertemu dan akhirnya merasa cocok satu dengan yang lain, dan dari situ kami kemudian membangun persahabatan yang lebih intim, dan seterusnya dan akhirnya berjodoh. Jadi kami itu mulai melakukan upgrading skill untuk jadi pengajar sampai pada sekolah S2 dan S3 itu kemudian bisa dilalui secara bersama-sama," ucapnya.

Kuliah di Luar Negeri Sambil Asuh Anak

Andy mengakui perjalanan akademik mereka bukan tanpa tantangan. Menempuh pendidikan di luar negeri membuat keduanya harus beradaptasi dengan bahasa, sistem hukum, materi pembelajaran, hingga metode pengajaran yang berbeda dari Indonesia.

Sebab, saat menjalani pendidikan di luar negeri, Andy dan Herliana sudah dikaruniai anak. Menurut Andy, pengalaman tersebut membuat keduanya perlu saling mendukung dan menguatkan. Terlebih, studi doktoral membutuhkan waktu panjang serta konsistensi untuk menyelesaikannya.

"Jadi kalau kami itu sebenarnya saling menguatkan, saling mendukung, begitu. Jadi apa pun yang terjadi atau akan terjadi kita hadapi bersama-sama, baik itu yang suka, yang seperti yang kita ceritakan itu maupun tantangan-tantangan ketika kami studi," pungkasnya.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads