Kisah Alfath Asal Klaten, dari Kuli Proyek Jadi Mahasiswa UGM Berprestasi

Kisah Alfath Asal Klaten, dari Kuli Proyek Jadi Mahasiswa UGM Berprestasi

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Selasa, 14 Apr 2026 20:04 WIB
Alfath Qornain Isnan Yuliadi
Alfath Qornain Isnan Yuliadi. Foto: Dok. UGM.
Sleman -

Debu proyek bangunan pernah menjadi bagian dari keseharian Alfath Qornain Isnan Yuliadi. Kini, mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu justru dikenal lewat deretan prestasi di tingkat nasional hingga internasional.

Alfath, mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil angkatan 2022 asal Klaten, punya cerita berbeda dibanding kebanyakan mahasiswa lain. Ia merupakan satu-satunya siswa dari SMK-nya yang lolos ke UGM.

"Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos," kata Alfath, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keputusan melanjutkan kuliah bukan perkara mudah. Sejak awal, ia diarahkan masuk SMK agar bisa langsung bekerja selepas lulus. Kondisi ekonomi keluarga juga menjadi pertimbangan.

"Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja," ujarnya.

ADVERTISEMENT
Alfath Qornain Isnan YuliadiAlfath Qornain Isnan Yuliadi Foto: Dok. UGM

Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Alfath sadar pilihannya bukan tanpa risiko. Namun ia tetap bersikukuh ingin melanjutkan pendidikan.

"Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah," kenangnya.

Untuk mewujudkan itu, Alfath tak bergantung pada orang tua. Sejak kelas dua SMK, ia sudah ikut bekerja di proyek bersama ayahnya. Ia melakukan berbagai pekerjaan kasar, mulai dari menggali fondasi hingga mengangkat material bangunan.

"Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," katanya.

Upah yang ia terima sekitar Rp 50 ribu per hari. Di tengah rutinitas kerja dari pagi hingga sore, ia tetap menyempatkan diri belajar pada malam hari. Menjelang ujian, ia membagi waktu dengan bekerja empat hari dan belajar penuh di akhir pekan.

Perjuangannya sempat diuji saat mengalami kecelakaan kerja dan jatuh dari lantai dua proyek. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah.

"Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini," ujarnya.

Hari pengumuman UTBK menjadi momen yang tak terlupakan. Alfath membuka hasil seleksi sendirian di kamar dan dinyatakan lolos ke UGM.

"Saya langsung peluk ibu, terus lari ke kakek. Saya bilang, 'Saya jadi kuliah'," tuturnya.

Bagi keluarganya, capaian itu menjadi sejarah baru. Alfath menjadi orang pertama yang bisa mengenyam pendidikan tinggi di keluarganya.

Memasuki dunia kampus, hidup Alfath berubah. Ia yang sebelumnya mengaku introvert mulai aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai kompetisi.

"Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga," katanya.

Usahanya berbuah manis. Hingga kini, ia telah meraih sekitar 15 prestasi di tingkat nasional dan internasional. Bahkan, ia pernah menjadi finalis kompetisi di Nanyang Technological University, Singapura.

Prestasi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM pada 2025.

"Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM," ujarnya.

Alfath menegaskan, latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Ia berpesan agar fokus pada usaha yang bisa dilakukan saat ini.

"Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal," pungkasnya.



(apl/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads