Tim riset mahasiswa Fakultas Biologi UGM menemukan anggrek Dembrobium capra atau Larat Hijau di Gunungkidul yang dinilai langka. Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono mengungkapkan konservasi anggrek itu bisa dengan rekayasa genetik.
Budi menerangkan pihaknya sedang mengembangkan rekayasa genetik atau transgenik untuk anggrek tersebut. Adapun pengembangan transgenik itu juga dilakukan oleh pengajar Fakultas Biologi UGM sekaligus ahli rekayasa genetik anggrek satu-satunya di Indonesia, Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc.
"Ada lagi inovasi yang dilakukan yaitu melalui transgenik tanaman dengan menggunakan CRISPR gen supaya nanti dengan rekayasa genetik yang dikembangkan di Fakultas Biologi UGM," kata Budi saat dihubungi detikJogja, Selasa (13/8/2024).
"Ini sedang diupayakan oleh Prof Endang, ahlinya rekayasa genetik anggrek satu-satunya di Indonesia, mungkin juga di Asia. Kita partnernya dengan Taiwan untuk rekayasa anggrek kita," imbuhnya.
Budi mengungkapkan anakan anggrek Larat Hijau biasanya hanya lima buah. Melalui transgenik itu anakannya bisa menjadi belasan, bahkan puluhan.
"(Melalui transgenik) anakannya (anggrek Larat Hijau) yang biasanya kan hanya 5 ini bisa menjadi belasan bahkan puluhan, anakannya bisa lebih banyak," ucapnya.
Selain itu masa berbunga dan berbuah anggrek Dembrobium capra bisa lebih cepat melalui rekayasa genetika. Budi menjelaskan umumnya masa berbunga dan berbuah berlangsung saat anggrek berusia dua tahun.
"Dengan rekayasa genetik itu paling tidak setahun atau kurang dari itu (anggrek Larat Hijau) bisa berbunga," sebutnya.
Selain itu pihaknya juga merekayasa jumlah bunga pada anggrek Larat Hijau. Biasanya bunga pada satu anggrek capra mencapai 20-50, Budi mengungkapkan dengan teknologi tersebut bunga bisa berjumlah 100-150 kuntum bunga.
"Jumlah bunganya kita edit menggunakan CRISPR," katanya.
Terlebih dengan rekayasa genetika masa mekarnya bunga di anggrek capra bisa diperpanjang dari yang awalnya hanya satu bulan menjadi dua bulan.
Upaya Konservasi Anggrek Larat Hijau
Beberapa sampel anggrek Larat Hijau yang tumbuh di hutan produksi di Playen dibawa ke Fakultas Biologi UGM. Budi menerangkan pihaknya berupaya agar anggrek tersebut bisa beradaptasi di tempat barunya yakni di greenhouse di Fakultas Biologi UGM.
"Yang pertama itu aklimatisasi dulu, adaptasi. Jadi kadang-kadang dia juga kita bawa kalau tidak kita aklimatisasi, adaptasi, dia mati," kata Budi.
Proses adaptasinya berlangsung selama 2-3 minggu. Setelah proses adaptasi anggrek larat hijau selesai, Budi mengatakan pihaknya akan memperbanyak jumlah anggrek tersebut.
Upaya penambahan jumlah anggrek capra itu berlangsung selama 1-2 tahun sebab pertumbuhannya yang lambat. Setelah dirasa cukup, anggrek tersebut akan dikembalikan ke habitatnya.
"Setelah besar kita kembalikan ke daerah asal," ucap Budi.
Saat ini ada sekitar 30 anggrek capra yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah maupun dari Playen, Gunungkidul. Budi menerangkan pihaknya akan membandingkan perbedaan capra dari berbagai daerah di pulau Jawa.
"Yang di greenhouse sekitar 30an ada tapi bukan hanya di Gunungkidul, dari daerah lain ada," sebutnya.
Upaya konservasi anggrek langka tersebut, Budi mengatakan selaras dengan visi dan misi Fakultas Biologi UGM yakni mempelajari, memanfaatkan dengan bijak dan melestarikan.
"Yang terakhir memelihara dan melestarikan supaya anak cucu kita bisa melihat (anggrek larat hijau) di alam," ucapnya.
Selengkapnya baca di halaman berikut....
(apl/aku)