SMA Kemala Taruna Bhayangkara Undang Aktivis Jerman Bahas Isu Lingkungan

SMA Kemala Taruna Bhayangkara Undang Aktivis Jerman Bahas Isu Lingkungan

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 14 Apr 2026 12:30 WIB
Kegiatan Expert Forum SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Kampus Global Darussalam Academy (GDA), Pakem, Sleman, Selasa (14/4).
Kegiatan Expert Forum SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Kampus Global Darussalam Academy (GDA), Pakem, Sleman, Selasa (14/4). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Sleman -

SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) menggelar Expert Forum bertema lingkungan dengan menghadirkan aktivis gerakan Save Soil. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah mendorong kepedulian siswa terhadap isu global, khususnya kelestarian tanah.

Kegiatan tersebut digelar di Kampus Global Darussalam Academy (GDA), Pakem, Sleman, Selasa (14/4) pagi. Pada kesempatan ini, turut hadir aktivis asal Jerman yang mengampanyekan Save Soil, Konstantin Zulske. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah nyata untuk membentuk siswa sekaligus masyarakat peduli dengan isu-isu krusial, khususnya terkait lingkungan.

Direktur Kebhayangkaraan SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Brigjen Pol. M. Arif Sugiarto, mengatakan kegiatan ini selaras dengan kurikulum International Baccalaureate (IB) yang diterapkan sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tujuannya, karena kita memakai kurikulum IB (International Baccalaureate), SMA KTB dan GDA ini punya salah satu hal yang kita cari adalah international mindedness. Jadi bagaimana kita berpikir global internasional," ujar Arif saat ditemui di lokasi, Selasa (14/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia berharap kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kondisi tanah yang semakin kritis.

"Supaya murid-murid sini itu bukan hanya pintar, tapi dia punya kepedulian terhadap lingkungan. Nah tadi kita lihat bagaimana kondisi kritis soil (tanah) di dunia, termasuk Indonesia, dan bagaimana kita mempertahankannya. Karena kalau soil-nya sudah hancur, itu berpengaruh ke mana-mana, pangan dan ekonomi," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Hendri Adi, menyebut rangkaian kegiatan dalam forum ini tidak hanya diskusi, tetapi juga aksi nyata di lingkungan sekolah.

Kegiatan Expert Forum SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Kampus Global Darussalam Academy (GDA), Pakem, Sleman, Selasa (14/4).Kegiatan Expert Forum SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Kampus Global Darussalam Academy (GDA), Pakem, Sleman, Selasa (14/4). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

"Agenda hari ini kita bersepeda pagi bersama dengan Konstantin, dengan kepala asrama kita, kemudian perwakilan siswa. Kemudian kami undang Konstantin untuk berdialog, untuk menginspirasi siswa kitalah tentang gerakan yang dia gawangi, yaitu Save Soil," katanya.

Selain itu, pihak sekolah juga meresmikan Taman Kemala sebagai bentuk komitmen terhadap penghijauan. Ia menambahkan, penanaman 11 pohon dilakukan sebagai simbol dukungan terhadap gerakan Save Soil sekaligus memperindah lingkungan sekolah.

"Kemudian setelah ini, kita sekaligus meresmikan di sekolah ini ada sebidang tanah yang didedikasikan untuk penghijauan. Namanya kita namakan Taman Kemala. Jadi, Kemala itu dari nama sekolah kita ya, Kemala Bhayangkara," lanjutnya.

"Mudah-mudahan itu menjadi salah satu pendukung gerakan Save Soil tadi, dan juga ya tentu untuk penghijauan lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar," ungkapnya.

Founder Global Darussalam Academy, Muhammad Romahurmuziy, menyoroti di tengah ancaman alih fungsi lahan yang terus meningkat. Maka itu, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi ajang kampanye kepada masyarakat pentingnya gerakan Save Soil.

"Iya, agenda kali ini kita ingin mengajak, mengampanyekan kepada masyarakat Indonesia dan warga dunia agar kita berpartisipasi dalam gerakan Save Soil. Ini bukan hanya sekedar gerakan, tapi ini adalah kepedulian kita untuk masa depan umat manusia," ujarnya.

Ia mengungkapkan, setiap tahun terjadi konversi lahan sawah yang cukup besar, sehingga berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional. Menurutnya, langkah konkret seperti penanaman pohon dan edukasi sejak dini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

"Karena setiap tahun di Indonesia telah terjadi laju konversi lahan sawah pertanian menjadi non-lahan sawah pertanian kurang lebih sekitar 90.000 sampai dengan 120.000 hektar per tahun," jelasnya.



(afn/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads