Fenomena El Nino yang diprediksi melanda sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan memberi tekanan besar pada sektor pertanian. Pakar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyebut kesiapan petani belum merata sehingga berpotensi menurunkan produksi pangan nasional.
"Kesiapan sektor pertanian menghadapi kemarau panjang masih bervariasi. Sebagian wilayah Indonesia sudah memiliki adaptasi seperti irigasi teknis dan varietas tahan kering, tetapi banyak petani masih bergantung pada hujan sehingga sangat rentan," ujar dosen Agribisnis UMY, Dr. Aris Slamet Widodo, S.P., M.Sc, dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
"Sistem peringatan dini dan penyuluhan sudah ada, tetapi belum merata, terutama dalam penyampaian informasi kondisi iklim kepada petani," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aris menyebut kemarau panjang akibat El Nino diprediksi membuat lahan kekurangan pasokan air. Imbasnya hasil panen turun, bahkan rawan menyebabkan gagal tanam pada daerah yang tidak memiliki dukungan irigasi.
"Pada wilayah yang tidak mendapat suplai air irigasi, bisa terjadi gagal tanam bahkan gagal panen. Selain itu, pada masa kering biasanya serangan hama seperti tikus dan wereng meningkat. Kekeringan juga menyebabkan kualitas hasil menurun seperti munculnya gabah hampa atau ukuran hasil yang lebih kecil," ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini. BMKG juga menegaskan musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya.
"Padi sawah menjadi yang paling rentan karena membutuhkan banyak air. Tanaman hortikultura seperti cabai dan tomat juga sensitif terhadap kekeringan. Jagung terdampak terutama pada fase awal tanam, sementara tanaman perkebunan muda seperti kopi, kakao, dan kelapa sawit juga perlu diantisipasi, termasuk potensi kebakaran pada areal perkebunan," tambah Aris.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kemarau panjang tidak hanya berpengaruh pada kuantitas hasil pertanian, tetapi juga kualitas serta keberlanjutan produksi. Oleh karena itu, kesiapan yang lebih merata dan distribusi informasi iklim yang tepat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko penurunan produksi selama periode El Nino.
(aku/ams)












































Komentar Terbanyak
Lagi! Serangan Israel Tewaskan 2 Prajurit TNI Penjaga Perdamaian di Lebanon
Kata SMA Muhammadiyah 3 Jogja soal Viral Ketua OSIS Lengser Usai Kritik MBG
Suasana Kirab Peringati HUT Ke-80 Sultan HB X Pagi Ini