Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ayif Fathurrahman, S.E., S.E.I., M.Si., menggunakan perspektif agama untuk membaca fenomena kenaikan harga emas. Dalam paparannya, Ayif menyinggung soal nubuat Rasulullah SAW mengenai kembalinya dinar (emas) dan dirham (perak).
Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang dunia selama puluhan tahun, Ayif memaparkan, menyebabkan rapuhnya ketergantungan global. Saat kepercayaan terhadap sistem moneter berbasis uang kertas mulai melemah, dia melanjutkan, secara fitrah manusia bakal kembali kepada aset bernilai intrinsik, seperti emas.
"Emas itu fitrah manusia. Dalam Al-Qur'an disebut sebagai perhiasan. Ketika sistem konvensional rapuh, manusia akan kembali pada sesuatu yang nyata, bukan sekadar kertas yang dicetak," jelas Ayif dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Jumat (30/1/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayif menjelaskan, tren dedolarisasi global kian tampak. Dia menyebut beberapa negara besar seperti China, Rusia, dan India mengakumulasi cadangan emas secara masif sebagai bagian dari strategi ekonomi.
Lebih lanjut, Ayif mengatakan, hal tersebut menandakan berkurangnya kepercayaan terhadap dolar AS sebagai jangkar utama ekonomi global.
"Amerika Serikat dapat mencetak dolar, tetapi beban utangnya sangat besar. Ketika negara-negara besar berbondong-bondong mengumpulkan emas, itu menjadi sinyal bahwa sistem lama mulai ditinggalkan," bebernya.
Selanjutnya, Ayif menyebut, Rasulullah SAW menubuatkan soal manusia bakal kembali menggunakan dinar dan dirham pada akhir zaman sebagai alat tukar yang adil dan bernilai nyata. Dia menilai fenomena kenaikan emas merupakan bagian dari proses panjang menuju perubahan sistem ekonomi global.
"Ini bukan soal romantisme sejarah, melainkan realitas ekonomi. Ketika kepercayaan terhadap mata uang fiat melemah, emas menjadi aset yang tidak tertandingi," sebutnya.
Namun, Ayif menegaskan, pemaknaan nubuat tersebut harus disikapi secara rasional dan ilmiah. Menurutnya, negara dan masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan dengan memperkuat fondasi ekonomi domestik.
"Selama masyarakat tidak panik, kebutuhan dasar terpenuhi, pasar tetap berjalan, dan pemerintah dipercaya, maka stabilitas ekonomi masih dapat terjaga, apa pun dinamika sistem ekonomi global yang terjadi," pungkasnya.
(apu/ams)












































Komentar Terbanyak
Kata Gerindra soal Juri Lomba Cerdas Cermat MPR: Harusnya Minta Maaf ke Ocha
Desil 5 DTSEN Dapat Bantuan Apa Saja? Ini Penjelasan dan Cara Ceknya
Fakta-fakta Brutal 8 Tersangka Siksa Ilham Pelajar Bantul hingga Tewas