Dalam tradisi masyarakat Jawa, banyak kepercayaan yang dipegang perihal jodoh dan pernikahan. Hingga kini, orang Jawa meyakini adanya hubungan antara arah rumah dengan keharmonisan pasangan suami istri.
Kepercayaan tersebut terwujud dalam mitos pernikahan ngetan-ngulon yang sangat dilarang untuk dilaksanakan. Meski zaman telah berkembang, keyakinan mengenai larangan ini masih dipegang kuat oleh sebagian orang Jawa ketika akan membangun bahtera rumah tangga karena dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk.
Sebenarnya apa itu mitos pernikahan ngetan-ngulon? Apa akibatnya jika nekat melanggar? Mari simak uraian lengkapnya dalam artikel ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Mitos Pernikahan Ngetan-Ngulon
Pernikahan ngetan-ngulon merupakan larangan menikah yang didasarkan pada arah letak rumah calon mempelai laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian berjudul 'Pandangan Masyarakat Tentang Pernikahan Ngetan-Ngulon di Desa Wonorejo Kecamatan Guntur Kabupaten Demak Perspektif 'Urf' oleh Faridatun Nisa dalam jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik Vol 1, No 4, dijelaskan bahwa mitos ini merujuk pada posisi rumah yang saling berlawanan antara timur (ngetan) dan barat (ngulon), yang dipercaya tidak baik jika dipersatukan dalam sebuah pernikahan.
Mitos ini pada dasarnya melarang adanya pernikahan dari mempelai laki-laki yang arah rumahnya di timur dengan mempelai perempuan yang arah rumahnya di barat atau sebaliknya. Dalam praktiknya, larangan ini tidak berlaku untuk semua pasangan, melainkan hanya pada salah satu calon mempelai yang merupakan anak pertama. Arah tersebut dianggap sebagai arah yang kurang baik dan diyakini dapat membawa pengaruh negatif terhadap kehidupan rumah tangga jika tetap dilanggar.
Asal-Usul Mitos Pernikahan Ngetan-Ngulon
Asal-usul larangan pernikahan ngetan-ngulon tidak diketahui secara pasti, tetapi masyarakat meyakini bahwa tradisi ini merupakan peninggalan nenek moyang. Hal ini juga dijelaskan dalam penelitian Faridatun Nisa tersebut yang menyebutkan bahwa kepercayaan tersebut terus dilestarikan karena dianggap memiliki kaitan dengan kekuatan tak kasat mata yang tidak dapat dijangkau logika manusia.
Dalam pandangan tersebut, kekuatan di luar nalar ini diyakini mampu memengaruhi ketentraman dan kebahagiaan hidup seseorang, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, larangan ini dipatuhi sebagai bentuk kehati-hatian agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu, arah timur ke barat dihubungkan dengan arah pergerakan matahari yang memiliki makna simbolis. Masyarakat meyakini bahwa arah tersebut tidak baik untuk ditiru dalam pernikahan, karena dianggap menyerupai sesuatu yang memiliki peran besar dalam kehidupan. Anggapan ini terpatri dalam kalimat "Ora ilok ngembari betoto suryo seng nyinari jagat".
Akibat Melanggar Mitos Pernikahan Ngetan-Ngulon
Masyarakat yang masih memegang teguh mitos ini meyakini adanya berbagai nasib buruk apabila larangan pernikahan ngetan-ngulon dilanggar. Dalam penelitian berjudul 'Larangan Perkawinan Ngetan Ngulon Perspektif Teori Konstruksi Sosial (Studi Kasus di Desa Palur Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun)' oleh Roisul Malik dalam Opinia De Journal Vol 3, No 1, disebutkan bahwa pelanggaran terhadap tradisi ini dipercaya dapat menimbulkan berbagai peristiwa yang tidak diinginkan.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh pasangan, tetapi juga keluarga besar dari kedua belah pihak mempelai. Beberapa dampak tersebut di antaranya adalah pernikahan yang tidak bertahan lama, munculnya konflik, hingga musibah seperti sakit, kecelakaan, bahkan kematian yang dialami oleh anggota keluarga.
Demikian uraian mengenai mitos pernikahan ngetan-ngulon yang dipercaya oleh masyarakat Jawa dalam membangun rumah tangga. Memilih percaya atau tidak dikembalikan pada keyakinan masing-masing. Semoga dapat menambah wawasanmu, ya, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(num/aku)












































Komentar Terbanyak
Sultan HB X Angkat Bicara soal Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
Pengirim Sapi Kurban 'TIW' ke Masjid Dekat Rumah Amien Rais dari Jakarta
Misteri Tewasnya Fotografer Keraton Jogja Sekeluarga Dalam Tenda Saat Kamping